Upacara Perpisahan Haji

Malam Ahad ini saya berkesempatan menghadiri walimatus safar atau muwaddaah (perpisahan) haji di kediaman sekretaris GP Ansor Cabang Purworejo. Sambil iseng browsing, saya kaget ada artikel yang menyebutkan bahwa ritual ini adalah bentuk kemungkaran, tidak pernah dilakukan nabi. Saya langsung “menuduh”, bahwa si penulis tak mengetahui substansi dan cara pengambilan hukum dalam Islam.

Sebagaimana kita maklumi bersama, umat Islam Nusantara adalah umat Islam yang, meminjam istilah Azyumardi Azra, “berbunga-bunga”. Banyak ekspresi keislaman yang mentradisi dan membudaya dari pra-kelahiran sampai pasca-kematian seseorang. Ini tentu menguntungkan dakwah islam, dan membuat agama semakin hidup dan menggema di tengah masyarakat tanpa perlu paksaan. Inilah salahsatu manifestasi Islam Nusantara yang dikembangkan oleh Walisongo.

Di ritual walimatus safar ini, ratusan orang berkumpul dalam satu majelis. Pertama, ritual ini sudah merupakan bentuk silaturrahmi yang direkomendasikan oleh baginda nabi. Kedua, disini dibacakan kisah nabi(albarjanzi) serta bershalawat kepada sang nabi akhir zaman. Jelas sudah perintah Allah untuk bershalawat, dan bahkan Dia sendiri senantiasa bershalawat.

“Innallaha wa malaikatahu yusholluna ‘alan nabi. Ya ayyuhalladziina amanu shollu ‘alaihi wa salamu taslima”
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat (memuji dan berdoa) kepada Nabi (Muhammad s.a.w). Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan kepadanya” (Al-Ahzab: 56). Bahkan, kata “yushalluna” dalam ayat tersebut berbentut fi’il mudlari’ yang berarti senantiasa. Artinya, Allah dan malaikatnya tidak hanya membaca shalawat, namun senantiasa membaca shalawat. Subhanallah.

Ketiga, ada bacaan dzikir tahlil menyebut asma Allah yang agung. Sudah jelas dalam al-Quran, bahwa Allah berfirman yang kurang lebih artinya, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (Al-Baqarah: 152)

Selain itu, dalam muwaddaah haji sang tuan rumah juga memberi berkat, nasi serta kelengkapan lauk pauk, snack dan minumannya. Ini merupakan manifestasi rasa syukur shahibul hajat dan sedekah kepada tetangga dan handai taulan. Terakhir, ada pengajian dari kyai atau muballigh yang membahas wacana dan doktrin Islam. Pengajian ini merupakan bukti bahwa kyai ikut berperan dalam membangun karakter dan akhlak masyarakat.

Dalam acara walimatus safar ini, biasanya yang punya hajat minta didoakan hadirin agar selamat dalam perjalanan, sukses dalam melaksanakan rukun haji dan menjadi haji yang mabrur. Disisi lain, tanggapan dari pemerintah desa atau tokoh masyarakat meminta di doakan di depan baitullah, serta kirim salam kepada rasulullah. Bukankah ini hal yang luar biasa?

Jadi intinya, acara muwaddaah atau walimatus safar haji ini adalah baik dan secara prinsip dianjurkan agama. Orang yang menyatakan bahwa acara ini kufur adalah mengingkari doktrin Islam dan tak mengerti substansi ajaran, hanya melihat sisi legal-formalnya saja.

Di banyak desa, haji menjadi suatu perjalanan yang mulia, meski di sebagian kecil kalangan tertentu menjadi suatu tahap untuk meningkatkan kelas sosial. Seperti yang terjadi di dusun Gintungan ini, dari 3.500 penduduk, hanya 6 yang mendapat panggilan Allah untuk berziarah kubur dan napak tilas kepada Khalilullah Ibrahim A.S.

Semoga kita semua kelak mendapat kesempatan pergi haji, melengkapi rukun islam, meniti jalan ilahi. Amin Allahumma Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: