Terlalu Fanatik Itu Tidak Baik

Terlalu fanatik dalam memilih, mengidolakan dan keberpihakan itu bahaya, tidak baik. Oleh karena, potensi kecewa berbadinglurus dengan tingkat fanatisme yang menggelora. Hal ini berlaku di apa saja, baik cinta, ekonomi, budaya, politik dan bahkan agama.

Dalam hal cinta, baginda nabi telah mewanti-wanti agar jika mencintai kita tidak berlebihan, karena bisa jadi kita berbalik arah menjadi membenci. Pun demikian sebaliknya, jika membenci sekadarnya saja, karena kita bisa berbalik hati menjadi mencintai. Kita bisa saksikan, betapa banyak persahabatan yang berakhir denan cinta, namun jarang cinta yang berakhir dengan persahabatan.

Hal demikian juga terjadi di dunia politik, utamanya menjelang kampanye atau suksesi kepemimpinan. Begitu banyak pendukung yang secara mati-matian dan berdarah-darah memperjuangkan jagonya. Namun rasa fanatik itu juga bisa dengan mudah luntur jika sang pemimpin tidak sesuai dengan harapannya. Dalam lagunya Asik Nggak Asik Iwan Fals menyindir, “…Rakyat lugu jadi supporter ngasih semangay jagoannya, Walau tahu jagoanya ngibul, walau tahu dapur nggak ngepul…”. Meski lima tahun sekali selalu dikecewakan, toh dunia politik tetap asik. Begitu kira-kira pesan lagu itu.

Memang, politik adalah salahsatu unsur yang paling menentukan di dunia ini, baik terkait harga cabe sampai persoalan pengayaan uranium dan berbagai benturan ideologi dan peradaban. Namun, tetaplah, politik meski harus diperjuangkan, ia bukan satu-satunya jalan. Jika memang sudah sedemikian parah, tentu lebih baik cari aman. Kata Gus Dur, tak ada jabatan di dunia ini yang layak untuk diperjuangkan secara mati-matian. Juga, secara teologis, tuhan juga berperan dalam menentukan pemimpin, meski tetap ada campurtangan dan pelibatan manusia.

Soal agama, hampir sama. Ada yang begitu kiri dan kanan. Fanatik yang terlalu berlebihan, sehingga yang terjadi ketimpangan. Lalu, bagaimana yang baik? Kata nabi, khairul imuuro ausaatuha; yang baik itu yang tengah, moderat.

Namun, apapun itu, memang dunia ini selalu dipenuhi dinamika yang begitu ramai dan gaduh. Sampai kapanpun, kemungkaran akan selalu ada. Kata Bang Rhoma dalam lagunya, “karena syeitan takkan binasa, sebelum kiamat dunia”. Mungkin inilah asiknya manusia, asiknya dunia, penuh dengan aneka-warna.

Semua ini, kata Allah, tak ada yang sia-sia; “Rabbana ma khalaqta hadza bathila subhaanaka faqinaa ‘adzabannaar”; Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, peliharalah kami dari siksa neraka.. (QS Ali ‘imran (3) : 191)

Sampai disini, kita idealnya hanya boleh berfanatik dengan Allah dan rasulnya, itupun dalam hal aqidah atau keyakinan, bukan soal muamalah atau berdialektika-sosial. Apapun itu semua, baik parpol, ormas maupun agama, tujuannya adalah Allah dan rasulnya. Ini memang sulit, namun nyatanya kita sudah janji dalam doa iftitah tiap kali kita shalat.

Ada lho, kehidupan setelah dunia ini. Ibarat orang jawa-muda, ndunyo iki mung mampir ngombe karo ngecas HP. Sedang tuhan dan akhirat sekarang seolah menjauh dari kita, bukan malah semakin dekat. Maka adalah wajar, definisi orang cedas menurut nabi bukanlah orang yang alim, kaya atau ganteng, melainkan orang yang selalu (meng)ingat mati.

Purworejo, 24 Agustus 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: