Mengejar Rizki Halal

Seperti kebiasaan saya sejak 2011, tiap tanggal 17 sering pergi ke Jogja. Kemarin, saya pun kesana.

Mangrib sampailah saya di Terminal Giwangan. Tak ada bus menuju Kasihan, Bantul, tempat dimana saya biasa berkumpul. Opsi ada tiga; taksi, ojek atau becak. Saya pilih yang terakhir. 60 ribu adalah hasil kesepakatan akhir, dengan seorang kakek penarik becak. Jalanlah kami membelah malam. Kemudian terjadi obrolan.

“Sudah berapa lama membecak, kek?”
“Lama. 20 tahun, dik”
“Hebat, kek, bisa bersetia dengan pekerjaan segitu lama”
“Yah, beginilah, dik. Cuma seorang buruh”
“Buruh itu bukan cuma, kek, jadi apa ini dunia tanpa buruh?”
“Iya dik, bagi saya, apapun kerjaannya, yang penting halal lan barokah. Gusti Allah ora sare. Alhamdulillah, saya bisa menghidupi lima anak, kini sudah punya dua cucu”
“Hebat, kek, banyak orang modern sekarang mulai tak memikirkan halal-haram. Mungkin juga termasuk saya. Kakek hebat, bisa selalu melibatkan tuhan dalam kehidupan. Bikin anaknya juga hebat, kek, banyak. hehe”
“Hehehe. Alhamdulillah dik, sing penting yakin”

Tak terasa kemudian sampai. Orang-orang besar kadang justeru kecil. Orang kecil, kadang justeru adalah besar. Orang-orang yang mampu menyembah hanya kepada Allah, bukan harta, jabatan, apalagi wanita. Kakek tua itu menunjukkannya.

‪#‎NUbackpacker‬
‪#‎JamaahMaiyah‬
‪#‎MacapatSyafaat‬

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: