Waktu. Satu kata yang masih menjadi misteri dan perbincangan yang tak kunjung habis oleh kalangan filsuf, agamawan dan ilmuwan. Orang modern pada umumnya menandai waktu dengan jam, yang menunjukkan waktu dengan tepat. Sedangkan orang zaman dahulu, waktu ditandai dengan peredaran matahari dan rembulan. Meski demikian, apa sebenarnya hakekat waktu itu? Apakah dia Makhluk(ciptaan)? Mungkin tulisan ini tak bisa menjawab, namun setidaknya menginterpretasikan ulang maknanya.

Menurut filsuf, waktu diartikan sebagai ukuran dari gerak, dan pergerakan selalu berada dalam waktu yang terukur, sementara kehidupan sebagai adanya gerakan selalu berada dan dapat diukur dengan waktu. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa hidup adalah waktu, tanpa waktu sulit diandaikan adanya hidup. Hidup, gerak dan waktu adalah satu kesatuan yang sulit dipisahkan dan bagi manusia ketiganya menyatu dalam perbuatan, kreatifitas dan eksistensi (Prof. Dr. Musa Asy’arie: 2002).

Sedangkan disisi lain, dalam kaitanya dengan eksistensi manusia dalam kehidupan, waktu bisa bersifat relatif. Relatifitas waktu tercermin ketika manusia menghadapi suatu peristiwa dengan emosi, empati dan alam bawah sadarnya. Ketika menunggu, misalnya, sedetik rasanya begitu lama. Namun demikian, bagi yang sedang berbahagia atau memadu kasih, waktu sehari seakan hanya sekedipan mata, tak terasa.

Penulis pernah berdiskusi panjang kaitanya pembebasan waktu ini. Salahsatu contoh bahwa Allah SWT membebaskan waktu bagi makhluknya adalah ketika meng-isra’ dan mi’raj-kan Nabi Muhammad SAW.  Dalam hadits, konon perjalanan Nabi dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha dan naik ke Sidratul Muntaha itu, ketika kembali tempat duduknya masih hangat. Peristiwa tersebut seakan menunjukkan Nabi terbebas dari ruang dan waktu sehingga bisa berpindah dan melampaui sesuatu tanpa sekat, batas dan menjelma energi atau cahaya. Ini masih sebuah hipotesis dan logika yang  penulis bangun, soal kebenarannya, wallahu a’lam.

Dalam khazanah ilmu-ilmu Jawa, ternyata ada yang terkait tengtang waktu yaitu Ilmu Lipat Bumi (artinya ilmu melipat bumi). Penulis melihat dan mendengar secara empirik orang yang meminta ijazah(amalan) ini. Jika mengamalkan ilmu ini, konon jarak yang jauh menjadi dekat dan cepat ditempuh. Ilmu ini dahulu banyak digunakan untuk menyingkat waktu dan jarak tempuh. Untuk mendapatkan ilmu tersebut, tirakat, puasa atau riyadlah  adalah fase yang harus dijalani. Maklum, ketika itu moda transportasi belum semodern dan secepat sekarang. Hal ini membuktikan bahwa waktu masih bisa di “otak-atik” atau kendalikan.

Satu lagi. Dalam persepsi masyarakat pesantren, mengenal term Wali (disebut juga Waliyullah; kekasih Allah), yaitu orang atau ulama yang telah mencapai suatu maqam (derajat, tingkatan)tertentu. Sang Wali ini kadang menunjukkan karamah (keramat) diluar logika akal sehat, seperti yang terkenal diantaranya adalah Syeikhona Cholil Bangkalan, guru Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Konon, seperti cerita yang melegenda di masyarakat pesantren, beliau bisa terbang, berpindah tempat dengan jarak yang teramat cepat. Keramat ini, banyak dimiliki oleh ulama dan kyai-kyai tempo dulu, yang dalam strata tasauf sudah mencapai maqam Tajalli.

Disisi lain, pepatah Barat mengatakan, time is money, waktu adalah uang. Pepatah ini memang menegasikan peradaban Barat dan telah menyebar ke beberapa negara Asia yang cenderung materialistik dan kapitalistik. Waktu dihargai sebagai uang yang berorientasi dunia semata. Dari sisi kedisiplinan, menghargai waktu sangat penting, seperti Kereta Jet Jepang yang rata-ratanya hanya mengalami keterlambatan 7 detik per-tahun. Namun demikian, paradigma tersebut tentu masih sangat dangkal dan linier.

Sedangkan dari khazanah Timur Tengah muncul maqalah, Al-Waqtu kas-Saif, waktu itu seperti pedang. Ini lebih realistis dan tajam, tak seperti definisi waktu adalah uang diatas. Artinya, siapapun yang tak pandai berdamai dengan waktu akan dipenggal. Jika kita tarik ke berbagai tatanan, baik ekonomi, politik, sosial dan agama, yang menyia-nyiakan waktu tentu akan terpental. Siapapun yang melakukan korupsi, dehumanisai dan amoral, akan digiring ombak waktu ke tepi laut.

Mendamaikan Waktu

Konon nabi Muhammad pernah menasihati,”janganlah memaki waktu, karena waktu adalah Tuhan itu sendiri.” Barangkali memahami isyarat Nabi ini, maka ada nasihat yang bijak, “Serahkan kepada waktu, semuanya akan selesai.” Penulis sendiri masih meragukan jika ini adalah hadits ini pernah dirilis oleh Nabi, sebab dari sisi matan, seakan bertentangan: Tuhan adalah waktu, padahal tentu tuhanlah yang menciptakan waktu itu. Soal hadits atau maqalah ini, tentu perlu kajian lebih lanjut.

Hemat penulis, waktu adalah makhluk Allah SWT yang memang diciptakan, sedangkan Allah SWT sendiri terbebas dari ruang dan waktu. Waktu diciptakan untuk manusia agar dapat menjalani kehidupan dengan jarak, tempo dan ukuran yang bisa ditentukan. Hal ini didasarkan pada sifat Allah sendiri yang dalam kitab-kitab tauhid dijelaskan, la awwala lahu wala akhira lahu, Allah tidak ada awalnya dan akhirnya. Artinya, Tuhan terbebas dari waktu dan berhak membebaskan makhluknya untuk ada di ruang waktu atau mengambilnya.

Kaitanya dengan waktu, Allah SWT telah sedikit menginformasikan kepada kita: “Wal- ‘Ashri innal insâna lafî khusrin illa-lladzîna âmanu wa’amilus-shâlihâti wa tawashau bil haqqi wa tawashau bi-shabri, artinya: “Demi waktu sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi, kecuali bagi mereka yang beriman, dan beramal kebajikan, serta berwasiat sesamanya dengan kebenaran dan kesabaran.” (Q.S. Al-‘Ashr: 1 – 3)

Dalam sumber teks diatas, Allah SWT tak banyak merinci dan menjelaskan. Namun justeru bersumpah atasnama waktu. Sumpah tersebut menunjukkan betapa agungnya dan berharganya waktu itu, sampai-sampai Tuhan memakainya untuk menegaskan sesuatu. Meski begitu, Allah SWT tak menyebut secara eksplisit bahwa waktu adalah makhluk. Namun, jika kira berpijak pada kaidah ilmu mantiq: Ma siwa Allah al-‘Alam, sesuatu selain Allah adalah ‘alam, menunjukkan bahwa waktu adalah makhluk. Artinya, ia seperti yang lain, alam semesta yang diantara isinya adalah hewan dan manusia.

Dalam pada itu, penting bagi kita untuk berdamai dengan waktu. Waktu perlu kita fungsikan sebagaimana firman Allah SWT diatas agar tidak menjadi manusia yang merugi. Waktu juga perlu kita beri optimisme untuk meraih mimpi dan cita-cita. Waktu pula yang akan membuktikan kebenaran. Kata Gus Dur, waktulah yang akan menjawab benar atau salahnya. Waktu akan menjadi hakim yang bijak. Waktu jualah yang akan membukakan tabir akan rahasia-rahasia manusia dan alam semesta. Akhirnya, biarlah waktu yang menjawab.

[Sekretariat PC IPNU Purworejo, Jumat, 28 Agustus 2015]