Ini sedikit jawaban yang aku bisa kuberi padamu, dik. Semoga, jawaban ini sedikit mengurangi kegelisahan pikiran, hati dan jiwamu atas “world of view” di kehidupan yang sedang kita jalani ini.

Setelah tak baca lagi, ternyata aku salah persepsi dalam merespon pertanyaanmu. Maaf, tadi bangun tidur, masih belum fokus.

Begini. Orang yang “mencemooh” kamu waktu lalu itu memang orang yang kelasnya diatas kita. Ia tentu sudah belajar filsafat, hakekat dan tasauf. Kita bisa menggapai itu, ada metodologinya: khususnya via masuk tarekat. Tak menutup kemungkinan dari yang lain. Intinya, levelnya sudah tidak pada track syariat lagi, tapi hakekat.

Belajar kita yang paling seserhana adalah menanggalkan segala racun dunia, menuju satu orientasi yaitu Allah dan rasulullah. Itu hidupnya sudah diranah cinta. Sudah tak menarik lagi dengan apa yang dilihat oleh mata. Allah tak terlihat, untuk melihatnya dengan hal yang tak terlihat. Ini sebenarnya panjang sistematika pembahasannya.

Bagi yang sudah pada levelnya, tak ada lagi derita. Semua ini adalah warna-warni pancaran cahaya-Nya. Ma khalaqta hadza baathila. Bagi yang ada di level ini, semua yang terlihat ini adalah wijahnya. Semesta ini adalah jemari tuhan yang menuntun kita.

Zulaikha istri Yusuf, Rumi, Rabiah adawiyah, Alhallaj dan Syekh Siti Jenar adalah salahsatu yang menempuh jalur cinta ini.

Bumi ini adalah satu bintang antariks. Padahal ada berjuta bintang. Bumi ini debu yang melayang-layang, dan kita sebagai salahsatu penhuninya.

Pemikir liberal, mengidentifikasi orang-orang di jalur ini dengan sebutan sufi atau skeptis. Ini jawaban sederhanaku. Kapan2 kita bahas ketika bertemu.

Intinya, jika kamu berminat atau tergoda selalu dengan dunia filsafat dan tasauf itu, disertai dengan teman. Jangan sampai hanya dipendam. Syukur suatu saat kita bagian dari orang tarekat. Jalan cinta, tarekat itu jalan tol. Sementara kita berusaha mempelajarinya, kaki kita mesti berpijak pada wilayah syariat.

Nabi adalah contoh yang baik; kehebatannya adalah justeru hal yang bisa dilakukan siapa saja; tidak seperti tongkat nabi musa atau mukjizat lain. Justeru karena akhlaknya, kelegowoannya atas cemoohan, pemaafanya atas kesalahan dan hal-hal yang “logic-ordinary” dan bisa diakses siapa saja. Meski beliau adalah mutiara, beda dengan kita. Nabi seperti intan diantara batu.

Semua terminologi dan tatanan nilai dan hidup kita pertimbangan dan motifnya hanya karena cinta Allah. Masuki level keyakinan (iman), fiqh (salah benar, baik buruk) dan tasauf (ihsan, indah dan tak indah).

Sebagai penutup, akan kunukilkan kata dari Maulana Jalaludin Rumi: Malaikat liberal karena pengetahuannya; binatang liberal karena kebodohannya; diantara keduanya, manusia yang tetap berjuang.

Semoga penyederhanaanku ini sedikit mengurangi beban hati dan fikiranmu.😦

Purworejo, 01 Septermber 2015