Sekolah Pertanian Mas Kyai NU

Pagi ini aku benar-benar tidak menyangka. Usai bersih-bersih, nyapu, mandi dan ngopi, pagi ini kedatangan tamu agung, sebut saja Mas Kyai NU.  Mas Kyai NU adalah seorang Kyai Muda yang nyentrik asal Purworejo. Nyentriknya yaitu, pemikirannya sering beda dan berlawanan dengan kyai-kyai lain, termasuk dalam berdandan. Pakaianya sering tak dikancingkan dan rambutnya dibiarkan tergerai tak rapi disapu angin. Full anti maenstream. Tapi beliau pinter, humoris dan baik hati.

Kali ini, Mas Kyai NU tumben agak bicara dan diskusi serius denganku. Ia menyatakan keinginannya untuk membangun sekolah, namun masih bingung bagaimana ngurusnya.

“Utek ra nyandak, pikiran nggak sampai” katanya.

“Anu, saya juga masih gagalpaham soal dunia pendidikan. Coba nanti tak tanya-tanya dulu mas kyai”jawabku.

“Anu, mas, kepenginnya saya buka SMK Jurusan Pertanian gitu. Kayae bagus ndak ya?”

“Wuih, juuuoooosss sanget niku, pak!!!. Masih jarang di Purworejo ini, atau bahkan mungkin belum ada. Negara sendiri, secara nasional, belum serius mikir ini pak, masih demen impor. Kalau impor soale njuk dapat fee projeknya. Haha. Padahal menurut survey, potensi sini kan masih kebanyakan pertanian sama perlautan” jawabku.(sik, sik, perlautan?)

“Ya itu, cuman aku belum tahu caranya, sebatas kepingin. Untuk lahan sudah ada milik ibu saya. Sekarang masih jadi sawah. Tak tembung moso ora uliyo! Terus, paling tidak ya harus favorit, keren dari awal. Nek awal mlempem ra ono sik minat.”imbuhnya.

“Iya, harus di branding semenggoda mungkin pokoke pak. Nanti kalau pertanian prakteknya ya ke Malang, atau mana yang sukses, sambil jalan-jalan”.

“Berarti ke gunung sama sawah? Gimana ya? Apa mau anak-anak desa ini ke sawah, kan udah pemandangan tiap hari?”

Kami termenung. Seakan ada persoalan besar bangsa yang harus segera dipecahkan, jika tidak, seluruh negeri ini akan kelaparan. (Haha, lebay!).

“Anu pak, kita undang aja menteri atau artis siapa gitu jadi ikon. Biar anak petani sekarang mau bertani juga. Soalnya, anak sekarang belumtahu romantisme disawah dan ladang: tahune bioskop sama mall.Gimana?” (Nggak mutu banget saranku)

“Duh mas, mas, sekolah ada juga belum, sudah jauh amat.”

“Iya ya mas kyai. Hahaha. Kesemangaten ini mikirnya! Semoga nanti ada orang yang mbantu, mau bener-bener berjuang, bukan jualan pendidikan ya pak”

“Gini. Kedepan saya kira sektor pertanian akan sangat menguntungkan. Pertanian sudah mulai ditinggal generasi muda”

“Iya, mana ada sekarang anak tani pengin jadi tani. Penginya ya terkait teknologi, kantoran, pejabat, pokonya yang kerjaan keliatan parlente, gitu to kyai? Padahal kan banyak juga yang kantoran tersiksa hidupnya diatur waktu, nggak bisa kondangan”(haha, piss)

“Betul, mas. Sekarang aja langka nyari orang yang bisa nandur, matun lan nderep, memanen padi.”

“Berarti, kebanyakan cuma orang-orang tua? atau tepatnya tersisa kalangan tua?”tanyaku. (Padahal emang nggak mungkin kan kalau anak-anak TK?)

“Iya. Jangan salah lho. Sekarang itu buruh tani aja berduit. Tenaga sekarang jarang, malah banyak dibutuhkan. Kalau pas musim nderep gini, bisa sehari dapat uang 60-100 ribu. Padahal makanan juga sudah ditanggung, dikirim ke sawah.Gila kan?”

“Wah, banyak juga ya. Ah, aku jadi pengin makan di sawah mas kyai. Kapan njenengan matun atau nderep, tak ikut. Makan paling enak di dunia dua kali kurasakan: waktu dulu ikut nderep di sawah, sama ketika waktu kelaparan turun gunung di Merbabu”

“Ah, sudah nggak ada yang mau dipanen. Kalau sawah punya tetangga ada.”

“Yasudahlah, kapan-kapan” frown emotikon

“Tambah gini mas, buruh-buruh itu, sekarang cukup makmur. Mereka menyewa tanah perangkat desa sampai 10 tahunan untuk dikelola. Itu uang semua. (Iyalah, masa duit.hehe) Wajar perangkat kini sulit berkembang, tanahnya sudah dikontrakkan. Kalau saya membayangkan, pentingnya sekolah pertanian, nanti hasilnya sepertinya lebih jos. Kan sudah fokus belajar tani secara tradisional maupun modern”

“Iya pak kyai. Coba deh saya tak cari-cari informasi. Barangkali nanti ada jalannya. Soalnya kalau…….bla bla bla”

“Hhhhrrr….hhhhhrrr….”

Eh, eh, eh, Ternyata beliau ketiduran. Mungkin dia sedang lelah

Purworejo, 31 Agustus 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: