KH Achmad Chalwani Nawawi (foto: dok. PP An-Nawawi)
KH Achmad Chalwani Nawawi (foto: dok. PP An-Nawawi)

Oleh: KH Achmad Chalwani Nawawi

(Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi, Mursyid Thariqah Qadiriyyah/ Naqsyabandiyyah Berjan Purworejo, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah)

 Assalamu’alaiku Wr. Wb.

Alhamdulillah. Alhamdulillahi hamdan katsiran, thayyiban, mubârokan fih, ‘alâ kulli hal. Wa na’udzubillahi min ahwâli ahli dlolâl. Wa nusholli wa nusallim wa nubârik wa nu’addim ala habibina wa syaifi’ina wa nûri qulûbina, sayyidina wa maulûna Muhammad SAW, ashliyyil jamâl, wa manba’il kamâl, wa mustauda’il jalâl. Wa’ala âlihi wa shohbihî bil khuduwi wal ashol, amma ba’du.

Sa’adatal mukhtaromin, poro alim ulama, poro sesepuh dalah kesepuha sedoyo.

(penghormatan)

Siang ini, saya berterima kasih kepada masyarakat disini, yang sudah mau mengundang saya untuk ikut mengaji dalam rangka Tahni’atul ‘Ied Ikatan Santri Kebumen (Iktrimen). Semoga terima kasih saya termasuk syukur saya kepada Allah SWT. Nabi bersabda: inna asykaro al-nâsi li Allahi tabâroka wa taâla, asykaruhum li al-nâs; sesungguhnya, orang yang paling bisa  bersyukur kepada Allah yaitu orang yang bisa bersyukur kepada sesama manusia. Jika saya bersyukur kepada masyarakat disini, itu artinya saya bersyukur kepada Gusti Allah.

Nama acara kita hari ini adalah Tahni’atul ‘Ied, atau yang masyhur di masyarakat dengan istilah Halal Bihalal. Dahulu pernah ada Halal Bihalal P4SK (Persatuan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyyah Kaffah) se-Karesidenan Kedu di Watucongol, Muntilan, Magelang. KH Bisri Syansuri yang ketika itu hadir sebagai pembicara, menyarankan agar memakai istilah yang fiqhi, yaitu Tahni’atul ‘Ied. Istilah ini lebih fiqhi, meski menggunakan istilah Halal Bihalal juga tidak masalah. Ini pesan dari Rais Amm PBNU ketika itu, al-marhum al-maghfurlah KH Bisri Syansuri. Tahni’atul ‘Ied dari kata: hanna, yuhanni, tahnian, tahniatan, tahnaan, tihnaan, yang berarti mangayobagyo, ikut bersenang, bersukacita atas hari raya Idul Fitri.

Dahulu, ada tokoh pendidikan internasional, namanya al-marhum Dr. Sudjatmoko[1], Rektor Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa. Beliau pernah berkata, pada zaman akhir ini, alternatif pendidikan terbaik adalah pondok pesantren, dengan catatan: memakai manageman modern[2]. Secara metode mengaji tetap memakai salafiyah, namun dalam hal tata-kelola menggunakan manageman modern.

Metode salafiyyah tidak boleh ditinggal, karena sangat ampuh. Metode salafiyah punya keyakinan: bahwa ilmu dari guru tidak akan masuk ke hati murid atau santri jika tidak disertai dengan riyadlah, mujahadah, tirakat, lelaku dll. Jika orang punya ilmu tidak di-riyadloi, maka hanya akan berhenti di otak. Dengan metode salafiyah ini, ilmu tidak hanya singgah di otak, namun masuk ke hati. Kalau hanya di otak saja, itu namanya intelektual.

Maka, di pesantren An-Nawawi peninggalan ayah saya, tidak meninggalkan metode salafiyyah, seperti ketika habis shalat, santri membaca wirid tasbih, shalawat, tahlil dan lain-lain, termasuk membaca wirid Sunan Ampel: ya Chayyu ya Qayyum lâ Ilâha Illa Anta 41x. Sunan Ampel Raden Rahmatullah ketika babad(membuka) Tanah Jawa membaca kalimah ini. Jika kita sering membaca kalimah ini, kalimah ya Chayyu, menjadikan kita punya gagasan dan kreasi. Adapun ya Qayyum menjadikan kita mandiri. Selain itu juga membaca: Allahu khafidhu latifun qodimun, qodirun azaliyun chayyun qayyum la yanamu, setelah itu membaca: maulayashol, yarabbibil dan huwal habib. Ini  untuk menjaga agar ilmu melekat di hati. Ada juga bacaan Hadzihi dar darullah…, termasuk membaca iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’in 41x, serta Laqad jâakum..9x.

Ini namanya metode salafiyah, peninggalan ulama dahulu  yang tidak boleh ditingggal. Termasuk juga (metode salafiyyah), Ustadz-ustadz di pesantren tidak berani membaca kitab sebelum hadiah fatihah terlebih dahulu kepada pengarang atau mushannif-nya. (hadiah fatihah kepada) Imam Shonhaji, misalnya, pengarang kitab jurumiyyah, (sebelum memulai pelajaran).

Imam Shonhaji, pengarang kitab jurumiyyah itu ampuh (sakti) dan memiliki karamah. Usai menulis kitab jurumiyyah, kitab itu dibawa ke laut dan dibuang sambil berkata: “jika kitab ini bermanfaat ia tentu akan kembali”. Benar saja, ketika Imam Shonhaji sampai rumah, kitab tersebut sudah tergeletak diatas mejanya. Beda dengan buku-buku sekarang, tanpa dibuang pun akan hilang sendiri karena tidak pernah dibaca.

Santri pondok pesantren itu ampuh. Di tanah Jawa ini, yang paling ditakuti (penjajah) Belanda adalah santri dan tarekat. Ada seorang santri yang juga penganut tarekat, namanya Abdul Hamid. Ia lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta. Mondok pertama kali di Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada KH Hasan Besari. Abdul Hamid ngaji kitab kuning kepada Kyai Taftazani Kertosuro. Ngaji Tafsir Jalalain kepada KH Baidlowi Bagelen yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Jogjakarta. Terakhir Abdul Hamid ngaji ilmu hikmah kepada KH Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang.

Di daerah eks-Karesidenan Kedu (Temanggung, Magelang, Wonosobo, Purworejo, Kebumen), nama KH Nur Muhammad yang masyhur ada dua, yang satu KH Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang dan satunya lagi KH Nur Muhammad Alang-alang Ombo, Pituruh, yang banyak menurunkan kyai di Purworejo.

Abdul Hamid sangat berani dalam berperang melawan penjajah Belanda selama lima tahun, 1825-1830. Abdul Hamid wafat dan dikemunikan di Makassar, dekat Pantai Losari. Abdul Hamid adalah Putra Sultan Hamengkubuwono ke-III dari istri Pacitan, Jawa Timur. Abdul Hamid patungnya memakai jubah dipasang di Alun-alun kota Magelang. Menjadi nama di Kodam Jawa Tengah. Terkenal dengan nama: Pangeran Diponegoro[3].

Belanda resah menghadapi perang Diponegoro. Dalam kurun lima tahun itu, uang kas Hindia Belanda habis, bahkan punya banyak hutang luar negeri.

Nama aslinya Abdul Hamid. Nama populernya Diponegoro. Adapun nama lengkapnya adalah Kyai Haji Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong.

Maka jika anda pergi ke Magelang dan melihat kamar Diponegoro di eks-Karesidenan Kedu, istilah sekarang di Bakorwil, ada tiga peningalan Diponegoro: al-Quran, tasbih dan taqrib (kitab fath al-qarib). Kenapa al-Quran? Diponegoro adalah seorang muslim. Kenapa tasbih? Diponegoro sorang ahli dzikir, dan bahkan penganut tarekat. Habib Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan mengatakan bahwa Diponegoro seorang mursyid Thariqah Qadiriyyah. Selanjutnya yang ketiga, taqrib matan Abu Suja’, yaitu kitab kuning yang dipakai di pesantren bermadzhab syafii. Jadi Pangeran Diponegoro bermadzhab Syafi’i. Maka, karena bermadhab syafi’i, Diponegoro shalat tarawih 20 rakaat, shalat shubuh memakai doa qunut, jum’at-an adzan dua kali, termasuk shalat Ied-nya di Masjid, bukan di Tegalan.

Saya sangat menghormati dan menghargai orang yang berbeda madzhab dan pendapat. Akan tetapi, tolong, sejarah sampaikan apa adanya. Jangan ditutup-tutupi bahwa Pangeran Diponegoro bermadzhab Syafi’i.

Maka tiga tinggalan Pangeran Diponegoro ini tercermin dalam pondok-pondok pesantren.

Dulu ada tokoh pendidikan nasional bernama Douwes Dekker. Siapa itu Douwes Dekker? Danudirja Setiabudi[4]. Mereka yang belajar sejarah, semuanya kenal. (leluhur) Douwes Dekker itu seorang belanda yang dikirim ke Indonesia untuk merusak bangsa kita. Namun ketika Douwes Dekker berhubungan dengan para kyai dan santri, mindset-nya berubah, yang semula ingin merusak kita justeru bergabung dengan pergerakan bangsa kita. Bahkan kadang-kadang Douwes Dekker, semangat kebangsaannya melebihi bangsa kita sendiri.

Douwes Dekker pernah berkata dalam bukunya,

“Kalau tidak ada kyiai dan pondok pesantren, maka patriotisme bangsa indonesia sudah hancur berantakan.”

Siapa yang berbicara? Douwes Dekker, orang yang belum pernah nyantri di pondok pesantren. Seumpanya yang berbicara saya, pasti ada yang berkomentar: hanya biar pondok pesantren laku. Tapi kalau yang berbicara orang “luar”, ini temuan apa adanya, tidak dibuat-buat.Maka, kembalilah ke pesantren.

Seperti(saya sebut) diatas, dzikir itu penting. Allah SWTberfirman dalam al-Quran:

Fasalû ahl dzikr in kuntum la ta’lamûn (Surah An Nahl Ayat 43), bertanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak tahu.

Allah tidak berfirman:

Fasalû ahl ilm in kuntum la ta’lamûn, bertanyalah kepada ahli ilmu jika kamu tidak tahu.

Ini artinya, ilmu itu tidak jaminan. Orang yang punya ilmu itu dzikir apa tidak? Orang punya ilmu banyak namun tak mau dzikir, ilmunya akan di ungkrek (diringkas)oleh Allah, kemudian mengkeret dan jadi tidak manarik. Orang yang punya ilmu sedikit namun rajin dzikir, ilmunya dikembangkan oleh Allah. Kenapa? Lianna adz-dzikr manba’ul ilm, karena dzikir adalah sumber ilmu. Bal wa lianna adz-dzikr afdhalu min al-jannah mawa fieha, malah-malah dzikir itu lebih utama daripada syurga dan isinya.

(Dalam metode salafiyyah) juga mengaji al-Quran, yang ayatnya berjumlah 6666. Saya ketika kecil dulu ngaji al-Quran dituntun guru saya, membaca Syiir Ayat Quran[5]. Saya masih hafal sebagian.

Ayate Qur’an… kabeh nem ewu…

Punjul nem atus… sewidak krungu..

Kang sewu nera…ngake perintah..

Sekehe wajib… fardhu lan sunah..2x

 

*Ya Rasulallah.. salamun Alaik.

Ya Rafi’a Syani wad Daraji

‘Atfata yaji ratal Alamin

Ya Uhailaljudi wal karomi.2x

 

Lan sewu nera…ngake larangan…

Kang sewu nera…ngake janjian..

Sewu pengancam ingkang medeni…

Sewu cerito… dongeng kang peni…2x

Back to*

Tidak hanya Diponegoro, anak bangsa yang didik para ulama menjadi tokoh bangsa. Diantaranya, di Jogjakarta ada seorang kyai bernama Romo K Sulaiman Zainudin di Kalasan Prambanan. Punya santri banyak, salahsatunya bernama Suwardi Suryaningrat. Suwardi Suryaningrat ini kemudian oleh pemerintah diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional yang terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara[6]. Jadi, Ki Hajar Dewantara itu santri, ngaji, murid seorang kyai. Sayangnya, sejarah Ki Hajar mengaji al-Quran tidak pernah diterangkan di sekolah-sekolah, yang diterangkan hanya Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Itu sudah baik, namun belum komplit. Belum utuh. Maka nantinya, untuk rekan-rekan guru, mohon diterangkan bahwa Ki Hajar Dewantara  selain punya ajaran Tut Wuri Handayani, juga punya ajaran al-Quran al-Karim.

Malah-malah, ketika Indonesia merdeka, ada sayyid warga Kauman Semarang yang mengajak bangsa kita untuk bersyukur. Sang Sayyid tersebut menyusun lagus syukur. Dalam pelajaran Sekolah Dasar disebutkan H Mutatar. H Mutahar Itu bukan Haji Muthahar, namun Habib Husein Muthahar[7], yang menciptakan lagu syukur. Beliau adalah Pak Dhenya Habib Umar Mutohar SH Semarang. Jadi, yang menciptakan lagu syukur yang kita semua hafal adalah seorang sayyid, cucu baginda Nabi. Mari kita nyanyikan bersama-sama.

Dari yakinku teguh

Hati ikhlasku penuh

Akan karuniamu

Tanah air pusaka

Indonesia merdeka

Syukur aku sembahkan

Kehadiratmu tuhan

 

Itu yang menyusun cucu nabi, Sayyid Husein Muthahar, warga kauman Semarang. Akhirnya oleh pemerintah waktu itu diangkat menjadi Dirjen Pemuda dan Olahraga. Terakhir oleh pemerintah dipercaya menjadi Duta Besar di Vatikan, negara yang berpenduduk Katholik. Di vatikan, Habib husein tidak larut dengan kondisi, malah justeru membangun masjid. Hebat.

Malah-malah, Habib Husein Muthahar menyusun lagu yang hampir se-Indonesia hafal semua. Suatu ketika Habib Husein Muthahar sedang duduk, lalu mendengar adzan shalat dzuhur. Sampai pada kalimat hayya alas shalâh, terngiang suara adzan. Sampai sehabis shalat berjamaah, masih juga terngiang. Akhirnya hatinya terdorong untuk membuat lagu yang cengkoknya mirip adzan, ada “S” nya, “A” nya, “H” nya. Kemudian pena berjalan, tertulislah:

17 Agustus tahun 45

Itulah hari kemerdekaan kita

Hari merdeka nusa dan bangsa

Hari lahirnya bangsa indonesia

Merdeka

Sekali merdeka tertap mernde

Selama hayat masih dikandung bandan

Kita tetap setia tetap setia

Mempertahankan indonesia

Kita tetap setia tetap setia

Membela negara kita

Maka peran para kyai dan para sayyid tidak sedikit dalam pembinaan patriotisme bangsa. Jadi, anda jangan ragu jika hendak mengirim anak-anaknya ke pondok pesantren.

Malahan, Bung Karno, ketika mau membaca teks proklamasi di Pegangsaan Timur Jakarta, minta didampingi putra kyai. Tampillah putra serang kyai, dari kampung Batuampar, Mayakumbung, Sumatera Barat. Siapa beliau? H Mohammad Hatta[8]. Beliau putra kyai. Bung Hatta adala putra Ustadz Kiai Haji Jamil, Guru Thariqah Naqsyabandiyyah – Kholidiyyah. Sayang, sejarah Bung Hatta adalah putra kyai dan putra penganut tarekat tidak pernah dijelaskan di sekolah, yang diterangkan hanya Bapak Koperasi.

Mulai sekarang, mari kita terangkan sejarah dengan utuh. Jangan sekali-kali memotong sejarah. Jika anda memotong sejarah, suatu saat, sejarah anda akan dipotong oleh Allah SWT.

Akhirnya, Bung Hatta menjadi wakil presiden pertama.

Maka, jangan berkecil hati mengirim putra-putri anda di pondok-pesantren. Santri-santri An-Nawawi ditempat saya, saya nasehati begini:

“Kamu mondok disini nggak usah berpikir macam-macam, yang penting ngaji dan sekolah. Tak usah berpikir besok jadi apa, yang akan menjadikan Gusti Allah”.

Ketika saya dulu nyantri di Lirboyo, tak berpikir mau jadi apa, yang penting ngaji, nderes(baca al-Quran), ngafalin nadzaman kitab dan shalat jamaah. Ternyata saya juga jadi manusia, malahan bisa melenggang ke gedung MPR di Senayan. Tidak usah dipikir, yang menjadikan Gusti Allah. Tugas kita ialah melaksanakan kuwajiban dari Allah SWT. Allah mewajibkan kita untuk menuntut ilmu, kita menuntut ilmu. Jika kuwajiban dari Allah sudah dilaksanakan, maka Allah yang akan menata. Jika Allah yang menata sudah pasti sip!, begitu saja. Jika yang menata kita, belum tentu sip!.

Perlu putra-putri anda, dalam menuntut ilmu, berpisah dengan orang tua. KH Mahrus Aly Lirboyo pernah dawuh,

“Nek ngaji kok nempel wong tuo, ora temuo-temuo”( jika mengaji masih bersama dengan orang tua, tidak akan cepat dewasa.)

Maka masukkanlah pesantren, biar cepat dewasa pikirannya. Itu yang ngendiko, kyai mahrus Lirboyo.

KH Mahrus Aly (Mbah Mahrus) itu ulama hebat, seorang kekasih Allah. Beliau sesepuh Kodam Brawijaya Jawa Timur. Salahsatu kehebatannya, pernah beliau bersama mobilnya jatuh dan tenggelam di Sungai lebih dari lima jam, namun tidak kenapa-kenapa. Mobilnya ketika itu Holden 66. Orang yang ada di mobil ada empat: Mbah Mahrus berserta istri beliau Ibu Nyai Zaenab, depan yang nyopir H Syakur dari Pasuruan dan saru lagi sang penderek, KH Chariri Turmudzi dari Brebes.

Mobil itu jatuh dan tenggelam di Tengah Bengawan Solo, Langitan Tuban. Bingung rombongan yang dibelakangnya, termasuk Bupati Gresik ketika itu. Bagaimana nasibnya? Akhirnya (mereka) mendatangkan derek dari Surabaya. Padahal dari Blabak sampai Surabaya memakan waktu lima jam lebih. Setelah derek sampai, ditariklah mobil yang tenggelam keatas. Sampai atas, mobil ditaruh di aspal, pintunya dibuka: Mbah Mahrus malah sedang merokok! Ternyata merokok menghidupkanmu, tidak membunuhmu!(canda KH Chalwani, disambut gelak tawa dan tepuk tangan). Sedikit saja, tidak ada air yang masuk ke mobil Mbah Mahrus, semuanya segar bugar. Sampai-sampai, di muat di surat kabar, Jawa Pos memuat, Surabaya Pos dan televisi memuat: “Ada Kyai Waterproff: Anti Air”. Itulah Mbah Mbah Mahrus Lirboyo, luar biasa. Ini sejarah.

Sehubungan kita akan memperingati hari kemerdekaan, mari kita belajar, merdeka itu apa. Kanjeng Nabi Muhammad bersabda: Ana madinah al-ulum wa ‘Aly babuha, aku kotanya ilmu dan Ali pintu gerbangnya. Jika ingin memperoleh ridla nabi, maka harus memperoleh ridla sayyidina Ali. Maka, dawuh sayyidina Ali meski kita perhatikan. Sayyidia berkata dalam lima baris. Seperti apa perkataannya?

Baris pertama, lâ hurriyata illa bi ad-dien, (tidak dikatakan merdeka jika tidak menggunakan agama).

Baris kedua, walâ diena illâ bi al jama’ah(tidak dikatakan menjalankan agama dengan sempurna jika tidak pernah ikut perkumpulan).

Baris ketiga, walâ jamâ’ata illa bi al imâroh(tidak dikatakan perkumpulan yang sempurna jika tidak ada yang memimpin)

Baris keempat, walâ imârota illâ bi at-tha’ah(tidak dikatakan pemimpin yang sempurna jika tidak ditaati bersama-sama)

Walâ jamaata illa bi at-thâah(tidak dikatakan taat yang sempurna kecuali dengan menggunakan ilmu).

Jika diteruskan, tidak akan dapat ilmu jika tidak ngaji. Artinya, mengisi kemerdekaan harus dengan ilmu dan agama. Maka, seumpama ada orang memperingati kemerdekaan dengan ikut karnaval dan turnamen, namun belum shalat, berarti ia belum merdeka. Itu masih terjajah. Siapa yang menjajah? Yaitu Iblis dan Syeitan.

Maksud kata “tidak ada paksaan dalam agama” itu, nggak ada paksaan masuk. Setelah masuk, wajib melaksanakan aturannya. Jika diibaratkan di terminal bus, sebelum masuk, kita bebas memilih bus yang akan kita tumpangi. Tak ada paksaan. Namun setelah masuk, kita wajib mengikuti aturan yang berlaku dalam bus tersebut. Jika ada orang diajak shalat atau puasa tidak mau dengan alasan: “tidak ada paksaan dalam agama”, itu salah. Tidak seperti itu pengertiannya. Makanya ngaji yang benar.

Tidak dikaarakan merdeka jika tidak menggunakan agama. Jika sudah beragama, apa sudah cukup? Sayyidina Ali berkata: walâ diena illa bi al jamâ’ah(tidak dikatakan menjalankan agama dengan sempurna jika tidak pernah ikut perkumpulan). Kan ada orang berkata: “Aku sebagai orang islam, yang penting waktunya shalat, shalat. Waktunya zakat, zakat. Waktunya haji, haji”. Orang tersebut tidak pernah ikut perkumpulan, entah yasinan, tahlilan, mujahadah, manaqiban termasuk memasuki tarekat. Orang seperti ini, tidak bakal sempurna agamanya. Maka, perlu kita ikut yasinan, tahlilan, mujahadah, manaqiban, tarekat termasuk ikut Jam’iyyah Nandlatul Ulama (NU)[9].

Ketika sudah ikut perkumpulan, apa sudah cukup? Belum. Sayyidina Ali berkata: walâ jamâata illa bi al-imâaroh(tidak dikatakan perkumpulan yang sempurna jika tidak ada yang memimpin). Pemimpin itu penting. Jika ada pemimpin, semua bisa berjalan. Apa sebabnya grup hadrah (rebana) ini enak di dengar? Karena ada pemimpinnya. Coba kalau tidak ada pemimpinnya dan menabuh sesuai selera sendiri, pasti tidak enak di dengar. Mari kita bershalawat dengan iringan rebana ini:

Alahumma shalli ‘alâ Sayyidinâ

 Muhammadin tibbil qulâbi wa dawâiha 2x

Wa ‘afiyati al- abdâni wa syifâiha

Wa nûril abshûri wa ghiyaihâ

Wa’ala âlihi wa shahbihi wasallim.

Maka Nabi Muhammad saw bersabda: idza kharaja tsalâsatun fi safarin fal yuammiru ahâdahum, Rowahu Abu Dawud; Jika ada orang tiga berjalan, salahsatu jadikanlah pimpinan (HR Abu Dawud). Tiga saja harus ada yang memimpin apalagi sepuluh. Itulah mengapa, dalam rombongan haji, setiap sepuluh jamaah ada satu yang memimpin, namanya ketua regu. Jika orang sepuluh kok tidak ada yang memimpin, namanya: regudugan!. Makanya, ada kepada desa termasuk bupati dan presiden yang dipilih melalui pilkada. Kita ikut dalam pilkada, dasarnya nderek hadits nabi ini.

Jika sudah ada pemimpin, apa sudah cukup? Belum. Sayyidina Ali berkata: walâ imârota illa bi at-tha’ah (tidak dikatakan pemimpin yang sempurna jika tidak ditaati bersama-sama). Sudah taat, kata Sayyidina Ali, juga belum sempurna jika belum dengan ilmu. Kemudian tidak akan dapat ilmu jika tidak pernah mengaji. Berarti kesimpulannya, mengisi kemerdekaan harus dengan mengaji. Ngaji kalau bisa setiap hari. Suwaktu saya di pesantren, didik untuk mengaji setiap hari, seperti yang dijarkan dalam Syiir Alala[10] ini.

Onoho ngalap faidah saben dino ing tambah,

Soko ngilmu lan ngelangisegarane faidah.

Shalatullah salaullah ala yasin habibillah

Tawassalna bibismillah bi ahl badr ya Allah

Sepertinya cukup sekian ceramah saya, semoga ada manfaatnya. Semoga masyarakat binangun dan semau yang hadir bisa dikasih tentrem ayem, wilujeng dunyanipun, wilujeng akhiratipun, seinembadan panyuwunipun, gampil sedoyo urusanipun. Sedoyo kalepatan nyuwun pangapunten,

Hadana Allah wa iyyakum ajma’in

Wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Ceramah ini disampaikan pada acara Tahni’atul ‘Ied ke-14 Ikatan Santri Kebumen (Iktrimen) Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Gebang, Purworejo, bersama Masyarakat Binangun, Jatimulyo, Kuwarasan, Kebumen, Jawa Tengah, 11 Agustus 2015/ 26 Syawwal 1436 H.  Ceramah dialihtulisankan oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun, pengelola situs ahmadnaufa.wordpress.com dan santrinusantara.com