Absurd

Malam ini saya kepingin banget nulis, tapi tak tahu mau nulis apa. Kemudian, daripada menahan kebingungan berkepanjangan, kutulis saja curhatan-curhatan perasaan. Maaf jika mengganggu dan kurang berkenan.

Salahsatu kegelisahan psykis yang selalu menghantuiku adalah pengetahuan. Pada tataran idealisme, sebenarnya aku ingin menempuh sebuah capaian-capaian pengetahuan. Meski demikian, hadangan dan hambatan sulit untuk kulawan.

Aku selalu kagum pada intelektual, cendekiawan, ulama, politisi dan tokoh-tokoh yang mencintai pengetahuan dan menyumbangkan untuk kemaslahatan. Namun, sementara, kadang masih kalah bertarung dan bergulat melawan kemalasan.

Meski tidak full kerjakeras dan kerjacerdas, apologiku, aku juga tak over terkungkung dalam malas. Meski begitu, memang visi kadang tak tercapai dengan misi, entah ada suatu trouble atau memang tuhan sudah membatasi.

Setelah aku bergelut dengan hafalan-hafalan syair arab, dari satu pengajian ke pengajian, kelas ke kelas, guru ke guru, orang ke orang, karakter ke karakter, pemikiran ke pemikiran, gerakan ke gerakan sampai pada tujuan hidup ke tujuan hidup, selalu menemukan banyak resistensi. Gelombang resistensi paling besar justeru datang dari diri sendiri.

Kemana tujuan aku melangkah? Sudah benarkah aku melangkah? Kemudian partikular-partikular kebingungan muncul satu per-satu.

Kuamati bagaimana nabi dan rasul hidup. Kuamati bagaimana para filsuf berpikir. Kuamati bagaimana ilmuwan membuat temuan-temuan. Kuamati bagaimana seniman membuat keindahan. Kuamati bagaimana ulama-ulama mengajarkan. Kuamati bagaimana pejabat dan penguasa saling ribut kekuasaan. Kuamati dan kupelajari.

Kupelajari bagaimana petani menyayangi tanamannya bak anak sendiri. Kuamati bagaimana tukang becak bersabar diri. Kuamati bagaimana orang miskin survive di kehidupan ini. Kuamati bagaimana orang kaya melewati hari ke hari. Kuamati kasih orang tua pada anak yang tiada henti. Kuamati dan kupelajari.

Kuamati bagaimana semut secara kolektif mengumpulkan kepingan roti. Kuamati bagaimana bebek pulang di waktu petang hari. Kuamati bagaimana kerbau pendiam tapi pekerja keras. Kuamati induk ayam yang bertirakat selama dua puluh satu hari. Kuamati dan kupelajari.

Kuamati bagaimana pohon tumbuh dan menyimpan cadangan air. Kuamati keindahan dan kesejukan udara di puncak gunung. Kuamati daun-daun jatuh menjadi pupuk, tanpa menyalahkan angin. Kuamati bunga dengan segenap keindahan dan kerarumanya. Kuamati tangkai, duri, pohon dan buah. Kuamati juga bagaimana akar berpuasa, menahan diri dari dunia entertaint, untuk menopang semuanya. Kupelajari dan kuamati.

Kupelajari berbagai terminologi dan konstruksi pengetahuan dan isme-isme. Kuamati semangat perlawanan kaum komunis menentang oligopoli kekuasaan. Kupelajari kapitalisme yang berserakah menyetubuhi manusia dan alam. Kupelajari khazanah-khazanah kearifan Jawa yang mulai ditinggal oleh sang penghuni. Kupelajari keseimbangan Islamisme atas ideologi-ideologi dunia. Kupelajari bagaimana perkawinan atau perselingkuan agama dengan kekuasaan. Kupelajari bagaimana konstruksi pengetahuan dan peradaban justru untuk menindas dan menghancurkan. Kupelajari bagaimana agama-agama berekapansi dan berebut dominasi. Kupelajari dan kuamati.

Kipelajari bagaimana ahli-ahli agama berdebat. Kupelajari perbedaan tafsir atas kitab suci. Kupelajari perdebatan ahli kalam, ahli fiqh dan logika. Kupelajari bagaimana penguasa saling bunuh dan sikut atasnama keadilan dan kesejahteraan. Kupelajari juga skeptisme para ahli tasauf sempit yang begitu acuh dan tak acuh pada dunia. Hidup dan hatinya susah tertaut pada Tuhan. Jika sudah menjadi kekasih Tuhan, seakan dunia ini sudah tak ada persoalan: semua baik atau buruk sudah ciptaan Tuhan. Padahal, semua adalah hati, paradigma, mindset dan tindakan. Kupelajari dan kuamati.

Kulihat bagaimana orang-orang hidup. Menjalani rutinitas, bekerja, berbicara, berlibur, melampiaskan hobi, beribadah, memfitnah, menjatuhkan, berkasih sayang dan bagaimana mereka menghabiskan siang dan malam.

Barangkali, benar kata Pram, hidup ini sederhana, hanya tafsirannya yang luarbiasa. Bernar juga kata cerdik cendekia bahwa hanya dengan ilmu dunia dibangun dengan peradaban; konsekuensi logis khalifatullah mengelola alam. Bisa juga kitaa ambil dari para ahli tasauf, bahwa kematian adalah hal yang dirindukan untuk bertemu Tuhan.

Kian hari semua itu kian absurd dan membingungkan. Semakin membaca justeru seakan semakin bodoh. Inikah karena luasnya lautana ilmu Tuhan?

Sekuanya membikin aku gamang dalam mengaktualisasikan kehidupan. Sementara ini, kulakukan apa yang ingin kulakukan. Tak ingin capaian apa-apa. Tak ingin jadi siapa atau apa. Mengalir apa adanya.

Tuhanlah yang menilai perilaku kita, dengan segenap hati dan rahasia-rahasia. Jika hidup adalah perjalanan, biarlah perjalanan ini kutempuh dengan selalu belajar dan mencari pemaknaan-pemaknaan. Toh waktu tidak panjang. Umur sudah diatur. Semua dari kita sama: sama-sama manusia, yang mesti kembali kepada sang pencipta.

Tak ada yang paling berhak menghakimi diantara manusia. Tuhanlah hakim yang paling bijaksana. Biarkan aku mencari, dengan jalanku, dengan caraku, kelemahanku dan dengan potensiku. Akan terus kucari dan kucari pemaknaan-pemaknaan itu. Semoga tuhan membantu.

Akhirnya, selesai sudah catatanku yang tak jelas ini, tulisan yang jauh dari kata bermutu.

Pureorejo, 11 September 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: