Cewek Misterius

Terus terang, semenjak mengenal sesosok cewek itu, hidupku jadi agak berbeda, utamanya dari mindsetnya. Kemewahan dunia kini seakan senyum kecut kumelihatnya.

Awalnya, kusangka ia adalah cewek shalihah biasa: pandai menjaga diri, rajin shalat malam dan pemikir. Meski, penampilannya rock and roll, humoris, gaul dan smart.

Tak butuh waktu lama aku terpikat olehnya. Sekali bertemu, hatiku langsung tertaut hingga menimbulkan benih rindu. Dalam dirinya, kutemukan aroma yang berbeda dari cewek biasa.

Hari ke hari selama beberapa minggu ia berdiskusi dan menulis cerpen untukku. Itulah hari-hari dimana aku bahagia mendekap rindu. Meski sebatas itu, berdialektika dengannya begitu membahagiakan dan menenteramkan kalbu.

Namun sayang, ketika aku mantap untuk berserius sengannya, ia malah mengunci hati rapat-rapat. Bukan hanya untukku, bahkan untuk manusia dalam soal kesejatian cinta. Ia sudah terlena dengan cinta Tuhan-Nya, hingga tak ada ruang sesikitpun cintaku untuknya.

Cintakupun kuanggap dewasa. Aku tak menuntut ia cinta pandaku. Aku hanya ingin hidup bersamanya. Melewati suka-duka hidup bersama, menuju singgasana syurga. Cintaku sudah cukup hanya bersanding dengannya, melayaninya sebagai jembatan menuju kesejatian cinta.

Lagi-lagi, ia menolaknya. Alasannya: ia tak ingin membuatku menderita. Kemudian, ia juga beralasan ingin melanjutkan kuliah dulu juga bekerja. Aku sekali lagi memakluminya, dan mulai hari itu kita fokus pada pencapaian masing-masing dari kita.

Aku terusterang lega. Rindu yang dulu menggebu seakan perlahan turun tensinya. Meski demikian, aku tetap mencintainya. Aku ingin hidup bersamanya, memilikinya, membangun keluarga laiknya manusia.

Sementara dia dengan belajarnya, aku dengan kerjaanku, kami sibuk menatap masa depan. Tak pernah lagi ia menyapaku, juga aku tak pernah menyapanya. Meski begitu, aku senang ia seakan menjadi tak terganggu akan kehadiranku. Aku bahagia jika ia tenang dan bahagia. Adapun soal kelak apakah Tuhan akan menyatukan kita, aku sudah bertawakkal. Toh jodoh tak akan kemana.

Semoga Allah melindunginya, melimpahkan kasihsayangnya, rahmat dan kemuliaan kepadanya. Semoga ia dijaga dari kesombongan, ujub dan dengki, hingga benar-benar mendapaykan cinta yang hakiki. Untuk memeluknya, kutitipkan kepada Tuhan, karena ia sebaik-baik penyayang. Toh cintaku berasal dari cinta-Nya yang luas melebihi lautan.

Purworejo, 14 September 2015 ย – 12:00

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: