Jabat Tangan Lelaki – Wanita Bukan Muhrim

Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Tiba-tiba saya ingin menulis tentang berjabat tangan (bersalaman). Hal ini dikarenakan fakta empirik dan kenyataan bahwa umat muslim Indonesia masih terbelah menjadi dua. Pertama, bahwa sebagian masyarakat Islam yang enggan atau merasa tabu berjabat tangan antara lelaki dengan wanita. Selain karena doktrin dan beberapa fatwa para ulama, ketidakbolehannya juga muncul karena relasi lelaki dengan wanita yang masih abu-abu dalam Islam. Kedua, sebagian lain masyarakat Islam sudah menganggap berjabat tangan ini  hal biasa dan menjadi tradisi yang turun-temurun.

Jika kita meninjau pendapat ulama, dari 4 madzhab, semua mengharamkan jabat tangan pria-wanita non mahrom, dengan ta`bir sebagai berikut.
1) Madzhab Hanafiyah
تحفة الفقهاء لِعلاء الدين السمرقندي – (ج 3 / ص 333)
وأما المس فيحرم سواء عن شهوة أو عن غير شهوة وهذا إذا كانت شابة فإن كانت عجوزا فلا بأس بالمصافحة إن كان غالب رأيه أنه لا يشتهي ولا تحل المصافحة إن كانت تشتهي وإن كان الرجل لا يشتهي
2)Madzhab Malikiyah
حاشية الصاوي على الشرح الصغير – (ج 11 / ص 279)
وَلَا تَجُوزُ مُصَافَحَةُ الرَّجُلِ الْمَرْأَةَ أَيْ الْأَجْنَبِيَّةَ وَإِنَّمَا الْمُسْتَحْسَنُ الْمُصَافَحَةُ بَيْنَ الْمَرْأَتَيْنِ لَا بَيْنَ رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ أَجْنَبِيَّةٍ، وَالدَّلِيلُ عَلَى حُسْنِ الْمُصَافَحَةِ مَا تَقَدَّمَ وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَنْ قَالَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ قَالَ : لَا .
3) Madzhab Syafi’iyyah
حاشية البجيرمي على الخطيب – (ج 10 / ص 113)
وَتُسَنُّ مُصَافَحَةُ أَيْ عِنْدَ اتِّحَادِ الْجِنْسِ، فَإِنْ اخْتَلَفَ فَإِنْ كَانَتْ مَحْرَمِيَّةً أَوْ زَوْجِيَّةً أَوْ مَعَ صَغِيرٍ لَا يُشْتَهَى أَوْ مَعَ كَبِيرٍ بِحَائِلٍ جَازَتْ مِنْ غَيْرِ شَهْوَةٍ وَلَا فِتْنَةٍ؛ نَعَمْ يُسْتَثْنَى الْأَمْرَدُ الْجَمِيلُ فَتَحْرُمُ مُصَافَحَتُهُ كَمَا قَالَهُ الْعَبَّادِيُّ ا هـ مَرْحُومِيٌّ .
4) Madzhab Hambaliyah
الإقناع في فقه الإمام لأحمد الحجاوي- (ج 1 / ص239)
ولا يجوز مصافحة المرأة الأجنبية الشابة وأن سلمت شابة على رجل رده عليها وإن سلم عليها لم ترده وإرسال السلام إلى الأجنبية وإرسالها إليه لا بأس به للمصلحة وعدم المحذور.
Pada intinya, hukum jabat tangan antar lawan jenis secara langsung adalah haram, kecuali bagi anak kecil atau yang sudah lanjut usia yang tidak berpotensi menimbulkan efek negativ (syahwat dan fitnah). Hukum jabat tangan antar lawan jenis non-mahram dengan menggunakan kaos tangan dan penutup sejenisnya, berhukum jawaz asalkan tidak berpotensi menimbulkan syahwat dan fitnah.
Adapun hukum berjabat tangan baik antara perempuan muda dengan laki-laki tua, laki-laki muda dengan perempuan tua, perempuan tua dengan laki-laki tua haram menurut Syafi’iyah dan Malikiyah. Boleh menurut Hanafiyah dan Hanabilah (Mausu’ah Fiqhiyyah 37/359). Sebagaimana dimaklumi, persentuhan ini menurut versi yang membolehkan hanya jika tidak disertai syahwat.

Syaikh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Muin hal. 98 mengatakan :

وَحَيْثُ حُرِّمَ نَظْرُهُ حُرِّمَ مَسُّهُ بِلَا حَائِلٍ، لِأَنَّهُ أَبْلَغُ فِيْ اللَّذَّةِ.

Artinya; sekiranya haram melihatnya maka haram pula menyentuhnya tanpa pemisah, karena memegang itu lebih menimbulkan ladzat.

Dalam sebuah hadits Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika Nabi Muhamamd SAW membai’at perempuan yang bukan mahram beliau tidak menjabat perempuan tersebut dan membai’at hanya dengan ucapan.(Al-Bukhari bab. Surat Al-Mumtahanah ayat 10)

Pada tahun 2009, dimana saya mulai bisa “keluar” dari pesantren karena sudah menjadi mahasiswa di STAI An-Nawawi Purworejo dan mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan, masih canggung untuk berjabat tangan dengan lawan jenis. Dengan peraasan yang berat hati, beberapa kali saya menolak ajakan jabat tangan dari wanita. Selain karena doktrin dalam pesantren yang begitu ketat dalam membatasi relasi lelaki dengan wanita sebagaimana fatwa ulama diatas, juga karena merasa nerveus dan risih sebab selama bertahun-tahun hampir tak pernah berjabat tangan dengan wanita yang non-muhrim.

Tahun 2010, saya berkesempatan mengikuti suatu pelatihan di PBNU yang diikuti oleh peserta lelaki dan wanita se-Indonesia. Usai seremonial pembukaan, saya melihat para wanita itu berjabat tangan dan bahkan cium tangan dengan para tokoh dan ulama NU. Tambah-tambah, sehabis pelatihan dan pulang ke pesantren, saya melihat Pak Kiai sendiri bersalaman dengan semua santri baik putra maupun putri ketika berangkat umroh. Fenomena ini kemudian menarik saya untuk mengkaji lebih dalam bagaimana sebenarnya hukum berjabat tangan tersebut.

Dalam novelnya yang legendaris, Arok – Dedes, Pramoedya Ananta Toer menyebut bahwa wanita-wanita Nusantara, utamanya para kawula, hanya memakai jarit atau sarung pada bagian bawahnya. Buah dadanya otomatis dibiarkan gandul-gandul begitu saja. Baru kemudian ketika Islam masuk dan memberi warna di akhir era Majapahit mulai banyak yang memakai kemben(penutup buah dada). Lalu, peraturan legal-formal memakai kemben ditetapkan ketika berdiri Kesultanan Islam Demak.

Fakta sejarah juga terlihat dalam video wanita-wanita Bali tahun 1900-an yang diambil oleh kolonial belanda dan masih bisa kita saksikan di youtube sampai sekarang. Dalam video-video itu, hampir pada tahun-tahun itu semua wanita di Bali belum memakai kemben. Meski begitu, tak ada yang aneh dan wajar-wajar saja. Misalnya, dalam suatu scene video itu, seorang wanita cantik  penjual warung melayani pelanggannya yang lelaki semua, namun toh tak ada yang menggoda apalagi sampai mencolek-coleknya. Demikian juga aktivitas wanita lainya; ke sungai, menjemur padi, pergi ke pasar, tak ada yang memakai kemben. Mengapa fenomena ini saya angkat? Satu alasannya: hanya ingin menunjukkan bahwa manusia Indonesia itu pada umumnya sudah terbiasa dengan pola hubungan lelaki-wanita, tidak nafsuan dan relatif bisa mengontrol diri.

Hal ini berbeda misalnya dengan Timur Tengah.  Menurut teman saya Asrul Hadi, aktivis IPNU yang kini sedang belajar di Makkah, ketika di warung memesan makanan daging kambing dia langsung di-comment oleh sang penjual: apa tidak takut nafsunya meletup-letup jika makan daging kambing? Kontan saja teman saya agak kaget dan sedikit menyimpulkan bahwa nafsu orang-orang Timur Tengah memang lebih “gila” dari masyarakat Nusantara. Adalah wajar jika para ulama Timur Tengah membuat produk fiqg yang seakan begitu kaku bagi kita masyarakat Indonesia, oleh karena di sana setting sosiologis, psykis dan antropologisnya berbeda.

Pasif Dalam Jabat Tangan

Bagi yang patuh pada fatwa madzhab, berjabat tangan jelas haram karena bukan muhrim. Bagi yang terlalu liberal, hal ini bukan jadi soal, artinya membolehkan begitu saja tanpa ada sekat yang menghalanginya. Jika mengambil sikap moderat tentunya kita masih bisa bersikap apatis. Apa maksud apatis? Yaitu tidak memulai namun tetap mau jika diajak. Ini merukapan sikap moderat mengingat berjabat tangan hari ini dan untuk masyarakat negeri ini memiliki banyak pemaknaan; mulai dari bentuk maaf,  persekawanan, silaturrahim, merekatkan persaudaraan sampai komunikasi politik. Khusus yang terakhir, hal ini menjadi heboh ketika dahulu mantan Presiden Megawati tidak mau berjabat tangan denga rival abadinya, Susilo Bambang Yudhoyono. Belakangan, kedua tokoh bangsa itu sudah mau berjabat tangan meski dengan membuang muka.

Pada intinya, tulisan ini bukan berarti ingin merekonstruksi pendapat madzhab. Sebagaimana kita tahu, dari uraian diatas dan pergaulan sehari-hari sulit untuk menghindari berjabat tangan dengan perempuan bukan muhrim. Kita dituntut untuk mengikuti syari’at tapi tetap tidak mengurangi kualitas hubungan antar individu laki-laki dan perempuan. Untuk itu, patutlah dicari cara yang elegan dalam menghindari bersalaman dengan perempuan bukan muhrim sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada agar keakraban tetap terjaga. Jika kita belum bisa melakukan syariat seutuhnya, minimal kita meyakini bahwa itu syariat yang sesungguhnya. Sehingga, kehati-hatian akan senantiasa dijaga. Wallahu A’lam.

Purworejo, 08 September 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: