Resensi Ngaji Duror Bagian I –  Seorang bocah yatim, pada suatu malam, tertidur dengan kitab Durorul Bahiyyah di sampingya. Ia merupakan anak desa yang merantau ke kota. Bekalnya adalah harapan dan cita-cita. Semangatnya untuk maju dan meletuplah yang membawanya terdampar di sebuah rumah kontrakan kumuh, tempat para aktivis berpeluh.

Namanya Didi. Ia hidup bersama. Susah senang bersama. Lapar bersama. Makan bersama. Menghisap rokok bergantian temannya. Malam itu, ia mengakan permintaan yang tak seperti biasanya.

“Mas, aku ingin ngaji” katanya pada suatu malam kepada Seniornya, Mamad.

“Ayo, kita ngaji bersama” jawab Mamad dengan pandang kasih sayang. “Kita dari yang paling dasar saja: kitab Durorul Bahiyyah” jawab Mamad menganjurkan mengkaji karya Al-Imam Asy-Syaukani (1759–1834 M), kitab sederhana dan ringkas yang membahas tentang permasalahan fiqih.

Malam itu juga, pengajian secara sistem sorogan dimulai. Sorogan berasal dari kata sorog (bahasa Jawa), yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri menyodorkan kitabnya di hadapan kyai atau ustadz yang menjadi asisten kyai. Dalam metode sorogan, murid membaca kitab kuning dan memberi makna sementara guru mendengarkan sambil memberi catatan, komentar, atau bimbingan bila diperlukan.

Mamad mengawali ngajinya dengan menghadiahkan fatihah kepada sang penyusun kitab. Ini merupakan metode belajar salafiyyah. Didi menyimak dengan seksama dan mengartikan apa yang dikatakan Mamad.

Sebelum pembukaan, tulisan pertama dalam kitab tersebut adalah penggalan sabda Baginda Nabi Muhammad saw: “Tuntutlah ilmu pengetahuan dan ajarkanlah kepada oraang lain”.

Pada bagian pembukaan, Mamad menjelaskan tentang kata Al-Hamd (puji) yang mengawali risalah kecil itu. Bahwa segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam.

“Puji itu ada 4 macam, Pertama, Qodim ala al-Qodim: pujian Allah kepada Allah sendiri. Contohnya banyak kita jumpai di Al-qu’an, semisal:”Sesungguhnya Aku lebih tau apa yang tidak kalian ketahui” (Qs. Al Baqarah: 30).” terang Mamad menjelaskan. Kedua, Qodim ala al-hadits : pujian Allah kepada mahluknya. Contohnya: “Wa innaka la’ala khuluqin ‘adzim; Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar di atas budi pekerti yang luhur”(Qs. Al Qolam : 4).” lanjut Mamad sambil menyalakan rokok yang sudah di tangannya.

“Bisa dipahami sampai sini, ya?” tanya Mamad.

“Iya, paham-paham” jawab Didi. Mamad melanjutkan setelah menyedot asap yang begitu dalam.

“Ke tiga, Hadits ala Qodim: pujian mahluk kepada Allah. Sebagai umat Islam tentunya harus sering melakukan ini. Semisal ucapan kita “Ya Allah.. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyayang”. Lalu yang keempat, Hadits ala hadits: pujian mahluk kepada mahluk lainnya, seperti ucapan kita kepada kerabat kita “Kamu baik banget” atau semisal “Tambah cantik kamu sekarang” atau mungkin “Indah sekali pelanginya” dan sebagainya.”terang Mamad. Didi memaknai sambil mencatat yang sekiranya penting. Mamad melanjutkan.

“Dan segala puji di atas hanyalah milik Allah. Qodim ala al-Qodim, hadits ala al-Qodim milik Allah karena memang jelas pujian tersebut teruntuk Allah. Qodim ala Hadits, Hadits ala al-Hadits juga milik Allah karena dengan memuji suatu karya berarti memuji penciptanya. Bila kita mengatakan “Keren ini lukisan” maka hakikatnya kita memuji seniman yang telah membuat lukisan tersebut. Paham, kau, Di?”

“Iya. Berarti semua pujian itu hakekatnya kembali kepadanya-Nya? Masya Allah, saya baru tahu” jawab Didi dengan penuh kepolosan.

“Itulah pentingngnya mengaji, kita jadi tahu apa yang sebelumnya belum kita tahu” jawab Mamad. Didi mangguk-mangguk kepalanya, pertanda ia menerima apa yang disampaikan. Mamad melanjutkan.

“Yang menarik, di sini adalah pujian Allah kepada Nabiyyuna Muhammad saw yang telah tersebut di atas: wa innaka la’ala khuluqin ‘adzim. Pada Ayat tersebut sangat nampak betapa Allah bersungguh-sungguh dalam memuji mahluk-Nya yang bernama Muhammad, mengukuhkan pujian dengan kata Inna (sesungguhnya). Tidak hanya Inna, bahkan Allah menambah huruf pengukuh lain yaitu lam yang artinya “benar-benar”. Dua huruf pengukuhan dalam satu kalimat ini menunjukkan bahwa lafadl yang setelahnya disebutkan merupakan hal yang nyata adanya. Allah juga menggunakan perangkat I’rob Jer berupa ala (di atas). Ini menunjukkan bahwa sesuatu dari Muhammad berada di atas di bandingkan mahluk-mahluk lain. Nah, yang berada di atas apa? Yang berada di atas adalah Ahlak yang luhur. Lafadl “khuluqun” merupakan jama’ dari lafadl “ahlakun”. Jelas sudah betapa Allah bersungguh-sungguh memuji Nabi Muhammad SAW. Maka seyogyanya kita sebagai umat dari Nabi Muhammad yang menghamba kepada Allah memuji beliau, mencintai beliau dan meneladani beliau dalam kehidupan sehari-hari.” terang Mamad panjang lebar.

Mamad berhenti sebentar untuk memberikan kesempatan Didi berpikir dan mencerna, selain karena rokok yang ada di tangan kiri juga lama tak disedotnya. “Fhhhhhhuuuuuhhhh……” asap tebal menyebar kelangit. Lalu, kopi hitam yang sudah sedari awal disiapkan Didi di mejanya diteguk secara perlahan.

“Jelas?” tanya Mamad.

“Jelas” jawab Didi.

“Oke, baguslah. Untuk sementara, ngaji kita cukupkan sampai disini dulu. Tadi ada beberapa makna yang aku lupa, karena sudah lama tak buka kitab. Tak ada sah-sahan(artian)nya lagi. Kita lanjutkan besok saja”

“Iya, siap” jawab Didi.

“Sekarang, kamu baca lagi kitab sekaligus artinya, lalu catat dalam buku diari. Kalau dapat ilmu itu dicatat. Soalnya, ada yang mengibaratkan seperti barang gembalaan, kalau tidak dicatat, bisa kabur itu ilmu”

” Iya, akan saya catat dan pelajari kembali pelajaran kali ini.”jawab Didi dengan penuh semangat yang menggelora. Kemudian ngaji perdana tersebut ditutup dengan bacaan fatihah.

Kini waktu di jam dinding sudah menunjukkan pukul 11:11 WIB, dan Didi sudah tergeletak dengan kitab disampingnya, yang sedari selesai ngaji pukul 21:00 WIB sampai larut tiba, ia menelaahnya kembali.

Purworejo, 18 September 2015