4 Hal, Biang Runtuh atau Kokohnya Pesantren

Kebesaran pesantren di tentukan oleh empat hal yakni, Pengasuh, Wali Santri, Santri dan Alumni. Jika salah satu dari empat pilar ini keropos, maka rapuhlah sebuah pesantren bahkan tidak akan dapat berkembang. Begitu juga sebaliknya, jika keempatnya kokoh, maka semakin besar dan kuatlah sebuah pesantren.

“Mulakno aku njaluk, pertemuan alumni ini penting banget dilaksanaake paling ora telung sasi pisan. Perlune nggo memperkokoh pondok pesantren An-Nawawi, tabarukan karo poro Muassis, Mbah Zarkasyi, Mbah Shidiq, Mbah Nawawi,” tutur KH Achmad Chalwani mengawali mauidhotu khasanahnya.

“Kenapa pesantren harus tetap tegak, karena kita kepingin terus berjuang menegakkan kalimat Allah kapan saja dimana saja. Iblis tidak pernah berhenti menggoda dan menjerumuskan manusia agar semakin menjauhi kyai,” tambahnya.

Disinilah Pesantren menemukan titik relevansinya. Betapa tidak, hampir semua lini kehidupan berpotensi untuk dijadikan kendaraan iblis dalam rangka menggoda manusia. Ketika manusia sudah tidak lagi mau peduli dengan pesantren dan menjauhi kyai, iblis dengan mudah menjerumuskan manusia.

“Iblis ini bukanlah mahluk sembarangan. Saat jadi azazil dulu, tirakate luar biasa. Iblis pernah sujud, rukuk iktidal selama 40 tahun. Ia bahkan pernah bergelar Sayyidul Karobiyyun atau penasehat malaikat selama 80 ribu tahun,” tandas Kyai karismatik ini.

“Lha nek alumni ora gelem kumpul-kumpul dalailan, tahlilan, lungguh lesehan ngene iki, iblis tan soyo gampang anggone nggodo awakmu. Alon-alon bakal ngedoh karo kyai. Ketemuan alumni Kyai ki banget penting. Nabi jaman mbiyen yo ndue forum pertemuan karo Askhabussuffah nang Madinah. Askhabussuffah kui alumnine santri Nabi naliko nang Mekkah,” katanya.

Kemudian beliau bercerita, bagaimana kasih sayang yang sangat besar dari Mbah Nyai Saodah kepada para santri. “Ibu ki kan saking gematine nek karo santri. Siro lah yo jaman nang Berjan sering di paringi maem to?. Dadi ojo mung aku sing di delok, tapi koe kudu ndelok poro Muassis, mbah Nyai. Ngalap berkahe,” tuturnya.

Beliau juga menceritakan salah satu bentuk kasih sayang mbah Nyai adalah kasihan ketika ada nama santri yang kurang pantas. Jika mendapati santri yang namanya fals, Nyai kemudian nimbali kemudian menawarkan nama baru sebagai pengganti.

Tau ono santri jenenge Sutini. Ibu ra tegel njuk ditawani jeneng anya Dul Jalal. Ono meneh santri jenenga Parito. Karo Ibu ditawani diganti Dul Qohar. Anake di pondokke nang Berjan, tau tak takoni kenal Parito pora, ngakune ra kenal. Padahal kui jeneng bapakne jaman mbiyen sak durunge diganti karo Ibu. Ono meneh santri jenenge Suram terus karo Ibu di ganti Ihsan,” ujar mbah Kyai.

Begitulah rasa sayang Mbah Nyai yang sangat besar kepada para santri. Dan masih banyak contoh-contoh lain yang perlu digali sebagai pembelajaran dan teladan bagi para alumni pondok pesantren An-Nawawi Berjan.

Mbah Zarkasi, Mbah Sidiq, Mbah Nawawi ngerti nek saiki alumni-alumni do ngumpul. Malah-malah iso ndunga’ake awak dewe sebab wong sing wis mati kui tetep iso ndungakke sing ijih urip syarate matine nggowo amal Sholeh. Lha nek sing wis sumare ae ijih kerso ndungakke awak dewe, mosok awak dewe sing ijih urip ra gelem ndedungo kanggo poro masyayikh,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut para alumni juga diijazahi dalailul khoirot secara umum. Pesen beliau untuk dibaca di rumah dengan niat nderes bukan wiridan. Dalailul khoirot ini dikarang oleh Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli. Suatu ketika, beliau hendak berwudhu untuk melaksanakan sholat dzuhur. Namun sumur sangat dalam sehingga tidak dapat mengambil air.

Kemudian ada anak perempuan berusia sekitar 8 tahun. Air tersebut kemudian di lambai-lambai menggunakan tangan si anak kecil. Atas izin Allah air itu kemudian mengalir naik dan akhirnya dapat digunakan untuk berwudhu oleh Sulaiman Al Jazuli dan para sahabatnya.

Merasa takjub dan heran, Sulaiman bertanya ikhwal rahasia dibalik memanggil air sumur itu. Gadis kecil itu menjawab bahwa sejak kecil ia dibiasakan membaca sholawat secara rutin. “Mendengar jawaban itu, Sulaiman Al Jazuli kemudian menuliskan seluruh shalawat yang ia hafal. Kumpulan shalawat itu kemudian dibaca di depan kakbah,” tandasnya. (bersambung)

Reportase Pertemuan Himpunan Alumni An-Nawawi ke 2, Kabupaten Magelang di Desa Wiyono Kecamatan Grabag Magelang, 13 September 2015. Disarikan oleh Lukman Hakim, wartawan Harian Purworejo.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: