Oleh: Ahmad Naufa Kh. F.

(Dimuat di Buletin “Nahdliyyin” Edisi I/ November 2014.)

Sebentar lagi PCNU Purworejo akan mengadakan Konferensi Cabang (Konfercab), tepatnya pada 24 November 2014. Berbagai agenda telah disiapkan panitia untuk mendukung moment transisi-reorganisasi lima tahunan tersebut seperti dari jalan sehat, parade terbang Jawa sampai manual kegiatan Konfercab itu sendiri. Sebagai sebuah organisasi sosial keagamaan terbesar, momentum konfercab itu tentu sangat signifikan bagi proses berjalannya organisasi di masa depan, khususnya di kabupaten Purworejo.

Seperti laiknya organisasi sosial atau bahkan partai politik sekalipun, yang ramai menjadi buah bibir dalam setiap kali reorganisasi adalah siapa calon ketua atau pemimpinnya. Ini jelas tak bisa dielakkan, karena sosok ketua memiliki prestise yang tinggi dan menjadi sebuah simbol organisasi. Ketua dapat menentukan arah dan maju mundur organisasi yang sekaligus mendapat berbagai jaringan dan manfaat, baik secara social, ekonomi maupun politik. Itulah mengapa sejak dulu sampai kini pimpinan NU selalu diperebutkan karena masih sexy, apalagi menjelang pilkada atau momentum politik.

Namun, terlepas perdebatan tentang siapa sosok yang layak untuk memimpin organisasi yang didirikan oleh KH Hasyim Asyari atas restu  KH Cholil Bangkalan ini, ada pertanyaan yang lebih penting untuk diurai. Pertanyaan itu adalah, apa saja problem dan potensi NU yang harus diurus? Sebuah pertanyaan yang sebenarnya kita semua tahu jawabannya. Memang, tak ada habisnya menyoal tentang problematika NU, ibarat sudah seperti menjadi Negara sendiri. Meski begitu, tak selayaknya mengeluh. Warga NU harus tetap optimistis dalam menatap masa depan yang cerah.

Persoalan pendidikan kiranya menjadi faktor dominan dalam berbagai kepengurusan NU dimanapun. Lembaga pendidikan Ma’arif yang selama ini menjadi ujung tombak warga NU dalam sekolah formal masih menyisakan segudang persoalan. Pun demikian di Kabupaten Purworejo. Sekolah-sekolah Ma’arif rata-rata masih minim sentuhan sehingga nasibnya banyak yang diujung tanduk. Hal ini berbeda dengan tetangga sebelah, Ma’arif NU Kebumen misalnya yang begitu progressif, unggul dan memiliki daya saing tinggi. Wajar jika disana Ma’arif menjadi favorit.

Dalam hal ini, termasuk sekolah tingginya yaitu STAINU Purworejo, yang beberapa waktu lalu sempat disindir oleh Ketum PBNU karena managerialnya yang masih belum tertata dengan baik.  Tentang Lembaga Pendidikan NU ini, perlu kiranya kerja keras dari semua elemen baik NU stuktural maupun Kultural yaitu tokoh-tokoh pesantren, kyai muda, pengusaha, politisi dan kalangan professional agar kedepan semakin diperhitungkan.

Selain Pendidikan, di bidang social dan kesehatan kiranya juga menjadi PR bersama. Selama ini, pengelolaan Lembaga Kesehatan NU masih minim. Padahal, warga Nahdliyyin jelas-jelas membutuhkan hal dlarury tersebut. Kepengurusan kedepan hendaknya harus bisa memilih orang-orang yang tepat untuk mengisi pos ini, agar tidak seperti yang dulu-dulu, hanya open tetapi tidak atau kurang open.

Bidang penerbitan, LTN sebagai corong dakwah NU kepada masyarakat juga terlihat stagnan. NU maupun banom-banomnya seakan membiarkan saja warganya digempur oleh bulletin ber-ideology trans-nasional yang masuk ke masjid-masjid dan mushalla. Hal ini kiranya perlu di counter dan diantisipasi secara masiv untuk membendung gerakan mereka.

Di bidang ekonomi, untuk Purworejo memang menunjukkan peningkatan yang signifikan. Kini sudah memiliki BMT, toko buku dan kios yang bisa menjadi penghidupan organisasi.  Khusus untuk hal ini, kata Ketua Tanfidziyyah, sudah bagus namun perlu ditingkatkan managerialnya. Jika dimaksimalkan, potensi ekonomi warga nahdliyyin memang luar biasa. Meski begitu, hendaknya perlu juga NU dan Banom membuat program-program yang berkaitan dengan ekonomi dan wirausaha agar warganya meningkat SDM-nya. Pelatihan dan penyuluhan dengan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak, kiranya dibutuhan untuk kedepan.

Terakhir, dalam bidang politik, peran NU sudah terlihat jelas. Meski demikian, banyak terjadi pergesekan-pergesekan karena beda pilihan politik. Dibeberapa tempat, NU masih menjadi barang jualan yang laris manis saat Pilkada. Hal ini tentu patut disesalkan mengingat NU sudah kembali khittah dan memilih jalur politik kebangsaan dan meninggalkan politik praktis. Kedewasaan dan kesadaran politik ini perlu dipahami bersama agar meski berbeda-beda tertap bersama. Benturan-benturan kecil itu harus segera diislahkan dan melakukan rekonsiliasi agar warga di grass root tidak bingung. Jika pemimpin-pemimpin NU bersatu dan bangkit, sesuai namanya, kebangkitan ulama, tentu akan menjadi kekuatan civil society yang luar biasa. Ulama yang harus bangkit, bukan ummat, oleh karena ummat tetaplah dalam kategori awam.

Itulah beberapa refleksi, evaluasi, PR dan catatan penting untuk kepengurusan di peiode mendatang. Siapakah yang nantinya memimpin? Itulah yang memiliki tanggungjawab untuk merangkul semua pihak untuk memajukan Nahdlatul Ulama tercinta. Siapa yang mampu dan diamanati untuk mengemban amanah itu? jawabannya tanggal 23 November mendatang kita tunggu.