Era post-modern ini orang mulai skeptik akan adanya tindakan keteladanan yang ditampilkan tokoh atau kebijakan tertentu. Itu mayoritas, meski beberapa orang masih setia mencari air kemurnian ditengah padang pasir hedonisme ini. Ketika mayoritas orang memuja uang dan melakukan keputusan atau kebijakan yang mementingkan kelompoknya sendiri, masih terlihat beberapa orang atau tokoh yang layak diapresiasi dan dijadikan contoh. Mungkin tidak semua dari tindakan tokoh atau orang-orang itu anda sepakat semua, namun paling tidak, kita berusaha mencari dan mengambil apa yang baik dari mereka untuk dijadikan bekal hidup.

Ketika diwawancara Net.tv dalam program Indonesia Satu, mantan Danjen Kopasus Prabowo Subianto yang mencalonkan diri menjadi Presiden RI mengatakan:

“Orang yang mampu membangun negeri ini wajib mencalonkan diri sebagai presiden, dan berkontribusi jiwa, raga dan pemikirannya untuk membangun Negara. Jika orang baik tidak mau jadi pejabat, nanti pejabat diisi orang brengsek.”

Ketika ditanya lagi, jika nanti kalah bagaimana? “Jika kalah dengan cara yang sehat dan fair saya terima, namun jika dicurangi, saya tetap akan memperjuangkannya” jawabnya ditanya presenter Anita. Ini merukapan jawaban yang saya kira gentlemen dan masuk akal dan sesuai dengan apa yang diajarkan para leluhur.

Beberapa waktu lalu papan reklame di Jakarta jatuh dan menelan korban jiwa. Ahok ditanya wartawan, siapa yang bertanggungjawab akan hal itu? Iapun menjawab: “Kita(pemerintah)yang salah”, sebuah jawaban yang gentlemen karena berani mengakui kesalahan. Padahal, dia bisa saja menuding dinas atau pihak-pihak yang terkait. Namun, sebagai wakil gubernur ia mengambil alih kesalahan bawahannya, untuk kemudian dikoordinasikan lebih lanjut. Tentu ini menjadi pelajaran bergharga bagi para pemimpin, setelah sekian episode kita dipertontonkan pelemparan tanggungjawab dan kesalahan oleh para pemimpin.

Jokowi diserang lawan-lawan politiknya, dari yang bermutu sampai dengan yang tidak bermutu. Namun, apa jawabnya? Ia hanya berdiam diri dan tidak membalasnya: “Biarin saja apa kata mereka, saya tak kerja saja” katanya. Hal seperti ini saya anggap sudah mulai langka di negeri ini. Ketika seseorang disindir, biasanya akan menyindir balik. Dalam agama pun, ketika kita dilukai, boleh melukai sebagai balasan impasnya. Namun, agama Islam mengajarkan, bahwa tidak membalas atau memafkan itu lebih mulia. Saya kira ini tindakan keteladanan yang layak kita jadikan referensi dalam keseharian.

Mahfud MD, semasa menjadi ketua Mahkamah Kontitusi mencium aroma korupsi dari bawahannya yang bernama Akil Mochtar. Mahfud mendapat laporan adanya penyelundupan mobil dari Timor Timur yang dilakukan Akil Mochtar. Lalu, ia sebagai pimpinan berkata kepada Akil: “Saya mendapat laporan dugaan korupsi yang dialamtkan kepada saudara. Agar tidak jadi fitnah, saya akan laporkan hal ini ke KPK, saudara mau ikut apa tidak?” kata Mahfud dan kemudian Akil ikut bersama ke KPK. Meski hal tersebut kemudian tak berhasil memejahijaukan Akil, namun keberanian Mahfud MD cukup diapresiasi. Toh pada akhirnya, jauh setelah peristiwa itu, semasa jadi ketua KPK Akil terjerat korupsi dan diketahui ada mobilnya yang tidak diketahui platnya. Hal ini diungkapkan Mahfud MD dalam acara Aiman dan Mahfud MD di Kompas TV.

Mahfud juga mengatakan, “Dulu Gus Dur jadi presiden tidak dengan uang sepeser-pun, nyatanya kalau Allah berkehendak bisa jadi. Saya ingin Mahfud MD seperti itu, jadi presiden dengan restu Allah.”katanya. Ini merupakan usaha disertai kepasrahan yang juga hari ini mulai luntur dimakan zaman.

Emha Ainun Nadjib, mengajarkan cara berpikir yang benar, ketika semua orang sudah berpikiran politis tak terkontrol. Tindakan atau ucapan apa saja dimaknai secara politis dan sarat kepentingan. “Pikirannya orang sekarang selalu ada udang dibalik batu. Kalau ada orang mengumpulkan massa untuk pengajian, dikira ada maunya, mau nyaleg dan lain sebagainya. Kalau ada orang berbuat baik, dikira ada udang dibaliknya. Sehingga, orang sudah tidak percaya lagi akan adanya tindakan kemurnian yang lahir secara manusiawi dan alamiah. Kalau orang ngaji, ya memang untuk ngaji itu sendiri, tidak untuk meningkatkan moral, atau biar dikira tokoh atau bla bla bla” katanya.

Kata Cak Nun, panggilan akrabnya, Gus Mus bahkan pernah “stress” setelah pentas hampir dua jam dengan puisi dan eksplorasi  gerakan, usai acara ditanya wartawan: “tadi itu pentas maksudnya apa, Gus?” “Maksudnya ya pentas itu tadi” kata Gus Mus. Untuk apa pentas dua jam kalau setelah itu ditanya apa maksudnya. Inilah hal-hal yang kecil namun bisa berdampak besar. Lalu, bagaimana agar kita bisa bertindak seperti itu? “Pertama, kita yakinkan diri bahwa kita ini bukan orang suci atau orang baik. Untuk itu, ada hal-hal atau tindakan yang kita infaqkan sepenuhnya agar kita bisa menabung kebaikan. Misalnya, jika kita dokter, setahun sekali kita bisa melakukan pengobatan gratis. Atau jika kita punya rizki, kita bisa bersedekah kepada anak yatim atau tetangga yang kurang mampu” kata Cak Nun.

Pun demikian, kita menuntut ilmu atau mengajar di sekolah diniatkan sebagai menabung kebaikan. Tidak semua yang kita lakukan kita hargai dengan uang. Ada hal-hal yang kita berikan sepenuhnya ada pula yang bisa kita negosiasikan. Missal kita guru, kita mengajari murid itu tidak usah kita hargai. Anggap saja itu tanggungjawab dan tabungan kesucian kita. Adapun gaji, itu konsekuensi logis dari yang ditimbulkan dari kegiatan belajar- mengajar seperti butuh bensin sebagai transport dan sebagainya. Namun, mengajarkan ilmu adalah peristiwa mulia yang tak patut untuk dihargai apalagi dikonversi menjadi uang. Semoga kita bisa mengambil pelajaran.

Markas Besar PC IPNU Purworejo, 30 April 2014