Aku mengenal Sherin semenjak sebelas tahun lalu. Ia selalu menyapaku tiap kali bertemu. Orangnya cantik, tinggi sedang, murah senyum dan renyah. Tiap kali bertemu juga aku membalas senyumnya. Tiga tahun begitu-begitu saja. Aneh memang, seperti basa-basi ala orang kota. Tak pernah ada percakapan atau pembicaraan empat mata, sebelum akhirnya waktu memisahkan aku dan dia.

Sembilan tahun pun berlalu.

Secara tak sengaja – setelah lama terpisah – aku dipertemukan kembali dengannya. Kami kemudian saling berbicara, tukar pikiran dan berdiskusi ringan. Kuketahui kemudian, ia anaknya cerdik, anti-maenstream, wanita shalihah dan tentunya idaman semua pria. Selain rajin tidur di jam 21.00 WIB dan bangun di jam 02.00 WIB untuk bertahajjud, ia juga seorang pemikir feminisme – banyak menyuarakan ketertindasan perempuan.

Meski demikian, keliaran pemikirannya terbatas oleh lingkungan. Latar belakang orang tuanya yang taat beragama dan tradisi yang melingkupinya, tak memungkinkan ia melakukan keinginannya. Sehingga, kehidupannya terkungkung pada tradisi Islam tradisional yang belum mengenal pemikiran feminisme-liberal. Semua gagasan, kemarahan dan luapan hatinya ia ledakkan dalam tulisan-tulisan yang disebar ke internet dengan nama samaran. Tak seorangpun mengetahui rahasianya yang terdalam, seperti Kartini yang terlahir dalam bentuk jelmaan.

Dalam suatu kesempatan, aku mendiskusikan masalah status sosial perempuan dengannya. Kupancing secara perlahan untuk mengungkapkan apa kegundahan hati dan pikirannya. Berhasil. Ia menggugat dengan meletup-letup anggapan orang-orang tua yang menginginkan anak perempuan. “Tak ada kebanggan orang melahirkan anak perempuan, meski ketika sang ibu mengandung ditanya menjawab: terserah yang kuasa saja. Toh pada faktanya, perempuan sekarang seperti barang dagangan: dengan gaya dan trend baru di eksploitasi dan diperjualbelikan. Ini jahiliyyah modern,” katanya menutup pembicaraan. Aku masih diam, belum memberi counter attack. Selain masih menjajaki dan memahami, juga mencoba menyiapkan siasat dan “amunisi”. Jawabanku akan kutahan setelah alur berpikirnya benar-benar kumengerti, entah esok nanti.

Lalu kuajak Sherin jalan. Sambil sesekali bergurau, ternyata kutemukan sisi kefeminiman juga: ia perhatian pada lelaki, menawarkan sesuatu dan memiliki kemanjaan laiknya perempuan. Ia bercerita dengan penuh kelembutan dan kecerdasan. Sunggun cantik dan menawan. Ku ketahui juga, selain sebagai perempuan yang berjiwa pemberontak, ia juga mandiri: tak mau mengandalkan lelaki. Ia tak mau diantar, atau mengerjakan sesuatu yang berat sendiri. Ia juga mengaku kalau teman-temanya kebanyakan cowok, malas berteman cewek yang rata-tata hobbiya ngegosip.  Kuanggap saja ini nilai plus.

Semenjak itu, dari hari ke hari aku diskusi intens dengannya. Ia mengirim persoalan untuk dibahas, cerpen menawan setiap malam, berkelakar kejombloannya yang lama dan membahas problematika sosial-kemasyarakatan. Kami bermesraan secara virtual dengan diskusi ilmiah, rasional dan islami. Kadang aku menang, kadang kalah. Seringnya sih kalah, dia terlalu cerdas untukku. Meski begitu, ia tak sombong dan merendah bila mengalahkanku. Pokoknya kita klik!

Tanpa kusadari, ternyata ada benih cinta yang mengalir. Kebersamaanya yang singkat ini, bagiku begitu berkualitas. Kami banyak menciptakan moment dan kenangan yang tak terlupakan. Kami berdua seolah sudah seperti kekasih yang lama dipisahkan. Ia tak malu lagi bermanja padaku, tak seperti dulu. Perhatiannya padaku juga laiknya sepasang suami istri: menyilakan istirahat, memberi semangat, memperingatkan kesehatan badan, menyedikitkan rokok dan memperbanyak minum air putih. Tanda-tanda cintanya padaku tampak begitu nyata. Aku melihat ia sepertinya juga tertarik kepadaku, dan kita adalah pasangan yang serasi, seperti Ainun dan Habibi.

Kuberanikan diri: menulis sebuah surat kepadanya. Ini karena aku belum memungkinkan untuk menemuinnya. Kucurahkan semua isi hati, dengan berpuisi dan bersajak layaknya anak muda yang dimabuk asmara. Setelah jadi, kukirim kepadanya. Sementara aku, bersiap mendapat jawaban “ya” darinya. Kukira, ini adalah jawaban dan kemeangan dari pencarianku selama ini yang tertunda, sebuah pertemuan yang sudah diagendakan tuhan di langit sana. “Tuhan menjawab doaku”, gumamku dalam hati. Inilah tulang rusukku yang kucari selama ini, desirku dalam hati.

Bertahun-tahun, aku sudah menunggu momentum ini: bertemu dengan pasangan yang klik dihati. Aku merupakan tipikal lelaki yang tak mudah jatuh cinta pada setiap wanita. Padahal, setiap harinya aku dikelilingi banyak wanita yang beraneka warna. Tapi toh semua itu belum mampu meluluhkan hatiku. Padahal, jika mau, akupun bisa seperti beberapa temanku yang play boy memiliki beberapa pacar wanita: dalam waktu yang sama. Namun, sepertinya aku tak begitu. Aku punya ibu dan adik perempuan. Aku mau langsung serius dan kepada orang yang benar-benar aku cintai. Jadi, kulawan keinginan dan hasrayku selama ini.

Ini bukanlah prinsip yang munafik, hanya soal pengendalian diri. Kalau soal ada wanita cantik dan kemudian merasa senang, itu juga kualami: sama seperti semua lelaki. Hanya saja, aku dipesani guruku: “jangan bermain dan mempermainkan wanita, itu maksiat yang bisa mengganggu hafalan dan kecerdasanmu”. Namun untuk kali ini, kurasa sudah waktunya untuk mengenal serius dengan wanita. Selain sudah berumur, aku juga ingin seperti kebawanyakan umat islam lainnya, mengikuti sunnah rasul dan menjalankan syariat nabi Adam pertama: menikah.

Akhirnya jawaban dari Sherin yang kutunggu tiba. Aku tak sabar membacanya. Dengan hati berbunga-bunga, aku menyendiri di kamar, khusuk untuk membacanya. Alhamdulillah, Inilah balasannya:

“Kamu salah mencintai, Mas. Aku ini sudah ‘mati rasa’ kepada manusia. Aku sudah lama meninggalkan Allah. Kini semua cintaku sudah kuserahkan kepada-Nya. Cintanya begitu besar kepadaku: menidurkanku, membangunkanku, memberiku nafas, detak jantung, kesehatan, pengelihatan, makanan dan meski kusakiti, Dia selalu memaafkan. Kasih sayang-Nya kurasakan setiap saat: di bumi yang kuinjak, di daun yang tersapu angin, di nyanyian burung-burung, di dalam suka dan duka kehidupan; semua berjalan atas kasih dan kehendak-Nya.

 Lebih baik, kau cari wanita lain, kan banyak teman-teman Mas yang cantik. Seberapa cinta Mas dibanding dengan cinta-Nya yang agung? Apa yang Mas mau janjikan? Mas salah orang, jelas salah orang dan jangan pernah memaksa aku. Aku biarlah begini, Mas. Tak ada yang sanggup memaksa aku. Bahkan jika seluruh dunia berkata ya, aku tak takut jika harus sendiri untuk berkata tidak. Aku tidak tahu apakah aku akan menikah atau tidak?”

Purworejo, 16 September 2015