Entah kenapa, tiba-tiba aku ingin menulis tentang adik ke-empatku, Ahmad Chotibul Anam. Ini karena kemarin aku menjenguknya di penjara sucinya: pesantren. Aku merasa bangga ia bisa betah tinggal di pesantren dan belum pulang kerumah lebih dari sebulan.

Meski demikian, ada rasa haru yang kutahan. Di usia 12 tahun yang masih sedemikian kecil, ia harus hidup mandiri bersama teman-teman sejawatnya. Mandi sendiri, cuci baju sendiri dan menentukan sikap sendiri. Padahal, seperti halnya Anam, sejak lulus SD aku juga dikandang di pesantren dan tetap biasa-biasa saja. Kini ketika aku lihat adikku, kok merasa sedikit terharu. Tapi sudahlah.

Kemarin, ia curhat karena dibully teman-temannya. Persoalannya sederhana, ia belum di khitan. Haha!, geli dengarnya. Maklum, kalau pas mandi di kali sesekali mungkin beberapa teman melihatnya. Ini hampir sama denganku, yang waktu itu khitan-nya juga agak telat, akhir kelas dua MTs.

Sambil menunjukkan kepolosann khas anak-anak, Anam mengadu padaku.

“Mas, Idul Adha besok aku akan khitan”ungkapnya.

“Emang kamu sudah berani?”balasku.

“Ya berani, lah! Sudah nggak betah dikatain teman-teman”imbuhnya.

“Oh, yayaya, baiklah. Cowok harus berani di khitan! Teteskan darahmu, demi sunnah rasul!”timpalku.

Seperti kebanyakan lelaki belia, ada yang menganggap di khitan itu menakutkan. Ini karena biasanya ada yang menakut-nakuti, bahwa proses eksekusinya menggunakan gergaji, arit, clurit atau pisau besar. Wuiiihhh, serem banget. Tambah-tambah dukun khitannya sudah tua, kalau nyasar gimana? Untungnya, khitan sekarang sudah modern, jadi tidak sakit. Sakitnya paling malamhari pasca di khitan, panas bingit rasanya, atau kalau pas belum sembuh total, eh ada teman nendang bola dan kena: proook! langsung deh mual, lemes, keringat dingin dan gelap lihat dunia. Oh, sakitnya.

Bicara soal khitan, adalah merupakan syariat Nabi Ibrahim a.s. yang kembali diadopsi dalam syariat Nabi Muhammad saw. Meski demikian, nabi sendiri nggak di khitan, lho, oleh dukun, dokter atau mantri, karena semenjak lahir Nabi sudah di khitan “otomatis”. Ini beda dengan kita para lelaki muslim yang tetap khitan manual. Hehe. Itu merupakan salahsatu mu’jizat Baginda Nabi, selain beberapa mu’jizat lain seperti keringatnya harum bak minyak wangi, jarinya bisa mengeluarkan air, kalau pas jalan dipayungi awan dan lain sebagainya.

Keistemewaan yang di berikan oleh Allah SWT kepada para nabi dan rasul ini namanya mu’jizat. Kalau untuk para sahabat nabi, auliya, ulama, namanya karomah. Adapun yang diberikan kepada kaum muslimin atau mu’minin, namanya maunah. Nah, untuk yang bukan muslim, ada nggak dong? Ada, santai saja, namanya istidroj.hehe

Secara terminologi, lughot, bahasa, khitan berarti pembersihan (An tandhif). Jadi, lelaki yang belum khitan, masih ada kotorannya. Maka, supaya ibadahnya sebagai seorang muslim sempurna, harus khitan. Oh ya, ada dua pendapat ulama tentang khitannya nabi Muhammad diatas. Pertama, begitu lahir sudah bersih dan dikhitan. Pemdapat kedua, yang mengkhitani adalah eyang beliau, Assayyid Abdul Muthallib.

Itulah seputar khitan, yang sebentar lagi adik kecilku akan segera melaksanakan, sebagai sebuah ketundukan pada Islam dan napak tilas pengorbanan khalilullah Ibrahim ‘alaihissalam. Semoga, kelak adikku tumbuh dewasa menjadi manusia yang bersetia pada garis hidup dan takdirnya. Amin ya rabbal ‘alamin.

Eh, hampir lupa. Masih ada lagi. Menurut kyaiku, ada beberapa perspektif manfaat khitan bagi lelaki. Perspektif Islam, jelas khitan itu sebuah kuwajiban dan untuk menjaga kesucian. Perspektif kesehatan, membuat bersih dan menghindari penyakit. Perspektif psikologi, menambah pede dan keberanian. Yang paling wow! adalah perspektif estetika, beda dengan yang tidak khitan, khitan membuat ” sensornya” lelaki menjadi penuh seni, indah dan menawan. Hahaha, geli!

Purworejo, 08 September 2015