Langit telah menggulung siang dengan pekat malam. Hembusan angin menembus dinding-dinding. Dingin. Suara lalu lalang kendaraan sudah berganti binatang malam. Manusia telah larut dalam mimpi-mimpi dan lelah siang hari. Sepi. Detik demi detik merangkak dengan begitu kencang, suara yang tak pernah terdengar di waktu siang.

Di kota kecil itu, seorang tengah bergelisah diri. Tak bisa tidur. Pikirannya melayang menerka-nerka masa depan dengan gamang. “Memang benar kata orang: musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Tapi, apakah diriku adalah musuhmu? Kenapa tidak berdamai saja?”gumamnya Maman dalam hati. Ia membolak-balikkan badan diatas kasur bersprei biru, tak kuasa menahan goncangan batin. Goncangan beberapa waktu lalu yang masih terasa.

Satu bulan yang lalu.

Maman bertemu dengan seseorang yang menjadi idamannya, Rere. Namun sayang, cewek cantik itu menutup hati untuk Maman yang telah lama hatinya tertambat. Padahal, bagi Maman, Rere adalah sosok bidadari yang diharapkan bisa menjadi jalan penyelamatnya. Ia begitu sempurna dengan segenap kekurangannya. Kecerdasan dan ketulusan hatinya mampu memikat Maman untu bersemangat menjalani hari ke hari.

“Maaf mas Maman, jangan sama aku, sama yang lain saja!”jawab Rere ketika diminta Maman untuk menambatkan hati bersama. “Mulai hari ini, jangan ganggu aku. Aku kasihan sama kamu, mas, jika terus-terusan merindukanku; memipikan seseorang yang takkan kamu dapatkan”tegas Rere.

Maman menurut. Karena kecintaannya, ia takkan mengganggu Rere. Cintanya tumbuh dan selalu terawat dalam dialog imajiner, mimpi, rindu dan ruang di hati. Ia selalu menyirami, merawat dan memperlakukan dengan indah. Begitulah satu-satunya cara ia mendapat butir-butir emas kebahagiaan. Maman sadar, ia tak pantas untuk sosok sesempurna Rere. Namun Maman juga memahami, bahwa cinta itu anugerah Yang Kuasa. Ialaj dzat membolak-balikkan hati manusia. Cinta tak bisa dipaksa atau memaksa. Yang terprnting, mencintai dan mengagumi manusia berarti mengagumi Sang Pencipta.

Kini, Rere menjadi semangatnya dalam menjalani hari-harinya. Maman teringat pesan temannya, “Jangan sampai kehilangan harapan”, sebuah kalimat yang selalu ia pegang. Meski seperti jarum yang jatuh dalam jerami, harapan Maman untuk mendapatkan Rere tak pernah surut, malahan semakin hari semakin bertambah. “Laron saja, dalam perjuangannya mendapatkan cahaya, ditengah teman-temanya yang binasa, tak pernah surut meraih” ucap hati Maman pada pikirannya. Seandainyapun ia tak mendapatkan apa yang ia inginkan, toh ia sudah berjuang. “Buat apa mendapatkan jika hanya sebuah keterpaksaan?Tak penting mendapat atau tak mendapatkan, karena perjuangan itu sendiri adalah sebuah kenangan. “ bisik Maman dalam hati.

Rere, Rere dan Rere. Seseorang yang tak sedikitpun mencintai Maman, namun Maman tetap memujanya bagai ratu persia. Ia kadang-kadang muncul dalam bentuk imajiner, memberi kekuatan, kebahagiaan dan kedamaian pada Maman. Munculnya pun tanpa pamit, kadang melambai-lambai dalam sepiring makanan, kadang di pinggir jalan, kadang menari-nari diatas ayat-ayat al-Quran, kadang pula senyam-senyum di depan sajadah panjang. Maman menerimanya laiknya tamu yang datang; membalas senyum, berbagi cerita dan bercanda tawa. Ia berterimakasih, meski Rere sudah menutup pintu hatinya, namun masih rajin menyambanginya.

Adalah wajar jika hari-hari Maman ditemani makhluk yang entah; entaj jin, entah bidadari, entah putri dari kahyangan yang menjelma Rere. Sementara ia melakukan aktivitasnya, makhluk manis tersebut selalu hadir tanpa diduga-duga. Suatu kehormatan bagi Maman, ada makhluk langit yang mau mengunjungi bumi. Cahaya purnama yang jatuh ke sungai terpencil desa, meski adalah cahaya fana.

Kini sebulan telah berlalu.

Maman gelisah tak menentu. Ada sesuatu yang menggelisahkan jiwanya. Ia kemudian berpikir keras, meresapi dengan hati yang paling dalam. Setelah lama bergelut dalam malam, ia temukan juga apa itu gerangan. Ternyata hanyalah sebuah kekhawatiran. “Aku tak masalah ia tak mencintaiku, ia tak bersanding denganku. Yang aku khawatirkan adalah, jika-jika nanti rasa cinta ini hilang dariku.” Gumam Maman.

Purworejo, 24 September 2015 – 21:52