Puisi dan Sajakku III

Antara Hati, Pikiran dan Perbuatan

Sampai saat ini, duhai kekasihku, aku belum mengerti sepenuhnya akan diriku. Ilmu biologi memang mengajarkanku teori evolusi, tapi sedikitpun aku tak meyakini. Teks menginformasikan bahwa aku adalah khalifah; pengganti Tuhan di muka bumi. Namun tasauf meyakinkanku, bahwa aku partikel Tuhan, dan akan kembali kepadanya.

Itu rumit, kasih, khususnya bagi orang awam sepertiku. Kuputuskan saja: aku adalah hati, pikiran dan perbuatan.

Aku ingin menjalani kehidupan ini dengan sederhana, seperti petani yang menghasilkan padi karena mengasihi sawahnya. Biarlah orang-orang kota tak tahu susah-senang hidupnya, yang penting mereka membeli dan terpenuhilah keutuhan hidup utamanya.

Jika aku adalah hati, maka ia berbolak-balik, seperti kata guruku. Menurut orang Jawa, esok dele sore tempe. Hati memang selalu berubah, berevolusi. Tuhanlah yang maha membolak-balikkan hati itu, aku menurut saja: termasuk kenapa aku bisa mencintaimu. Aku pasrah saja, seperti kata Iwan Fals, aku mencintaimu saat ini, entah esok hari. Meski begitu, aku diajarkan oleh leluhurku, untuk memegang teguh komitmen.

Hatiku adalah hati manusia biasa: bukan hati para nabi atau ulama, yang teguh memegang prinsip. Kadang ia goyah, kadang kuat bak karang, kadang juga bimbang. Aku sendiri masih belajar apa yang dinasehatkan nabi: mendengar kata hati nurani, meski bising dosa mungkin masih mengaburkan ini.

Jika aku adalah pikiran, karena memang aku berpikir tentang kehidupan. Orang hidup adalah orang yang berpikir, seperti kata kitab Idlohul Mubham, bahwa manusia adalah hewan yang memiliki akal pikiran.

Pikiranku-pun biasa biasa saja, jika dilihat dari produk pemikiran. Akal, seperti kata para ulama, bahwasanya ia adalah mahakarya Tuhan yang tinggi dan perkasa. Namun, aku sendiri masih belum bisa mengasahnya, memupuknya dan mengkonversinya menjadi sebuah produk yang membawa perubahan dan kemanfaatan bagi banyak orang, seminimalnya diriku. Produk monumental belum terpikir olehku, seperti Imam Ghazali dengan magnum opusnya yang berjilid-jilid: Ihya’ Ulumuddin, penemuan Albert Einstein e=mc², atau orang yang mampu mengubah wajah dunia: Thomas Alfa Edison. Bisaku baru terus-terus mengasahnya.

Tindakan? itulah hal yang paling sulit didunia ini. Jangankan mengobarkan semangar revolusi seperti Che Guevara di Kuba atau Bung Karno untuk Indonesia, untuk diri-sendiri saja, aku masih harus banyak berjuang.

Aku hanyalah anak manusia biasa, yang punya mimpi dan cinta sebagai bunga-bunga dunia. Kukira, sama sepertimu, apapun cita-citamu. Mari kita raih bersama, dengan usaha dan doa.

Aku berharap, kaulah takdirku. Namun aku tak berani mendahului takdir tuhan. Aku ingin, kau bahagia disampingku. Namun aku juga tak bisa menjamin kau akan bahagia disampingku.

Seperti kata Aan Mansyur, kasih: “Aku mencintaimu, dan mencitai pepisahanku atasmu.”

Semarang. 25 Oktober 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: