Pendidikan Alternative

“Aku ingin sekali membeli novel Totto-Chan, namun tak dapat.” kata seorang perempuan muda, suatu ketika, kepadaku. “Iya, kota itu kota mati. Dinamika baca, ilmiah dan keilmuan, tak cukup untuk menyediakan kelengkapan pengetahuan. Kuantar saja kau ke jogja, untuk mencarinya”jawabku. “Tidak usah, gampang, kapan-kapan saja”jawabnya. Kemudian waktupun memisahkan kita.
Buku apakah itu? Aneh, pertama kali itu aku mendengarnya.
Aku kurang suka terjangkit rasa penasaran. Meski begitu, aku tak berani atau lebih tepatnya malu, untuk menanyakan kepadanya: buku apakah itu?. Kucari saja novel yang dicari perempuan muda itu. Ketemu. Ternyata sebuah novel tentang pendidikan alternativ, unik dan anti-maenstrem.
Kubaca dari awal sampai akhir.
Novel karangan Tetsuko Kuronagayi itu bercerita tentang sosok gadis kecil yang bertingkah agak aneh, anti-maenstream: Totto-Chan. Ia beda tingkahlakunya dari kebanyakan murid sebaya, seperti sering menarik bagasi mejanya untuk memasuk dan mengeluarkan pensil, penghapus atau buku; memandangi jendela kelas dan mengudang pengamen jalanan menyanyi di depan kelas, serta segenap tingkah-laku unik lainnya. Sampai-sampai, Totto-Chan dikeluarkan dari sekolahnya.
Oleh Ibunya, kemudian ia dibawa ke sekolah baru pimpinan Mr Kobayashi: Tomoe Gakuen. Di sekolah aneh yang menggunakan gerbong kereta itulah, Totto-Chan “menemukan kehidupannya” yang bebas namun terkendali.
Totto-Chan, untuk pertama kalinya yang membuat ia terkesan, adalah diminta bercerita tentang dirinya leh kepala sekolah. Dengan penuh perhatian dan perasaan, kepala sekolah bersetia menyimak ungkapan hati dan pikiran Totto-Chan. Tak terasa, Totto-Chan tiga jam lebih bisa bercerita tentang banyak hal.
Di sekolah barunya, Totto-Chan juga merasakan aroma kebebasan, dimana murid-murid ditanya dulu pelajaran apakah yang ingin dikajinya terlebih dahulu. Murid-murid bebas memilih. Selain itu, para murid juga diarahkan minatnya sesuai bakat dan kemampuannya oleh para guru. Beberapa waktu, para murid juga diajak “keluar” oleh para guru untuk belajar ke alam bebas: seperti mengamati dan belajar langsung tentang pertanian, dan berbagai hal di kehidupan nyata. Murid-murid diajarkan sekaligus praktik tentang perbedaan, menghargai sesama, tanggungjawab dan banyak nilai-nilai lain.
Salahsatu yang disukai Totto-Chan, dalam novel tersebut, adalah ketika ada praktik memasak. Gadis kecil itu baru baru tau, kalau untuk tersedia makan di meja makan, melalui proses panjang yang cukup sulit dan rumit. Bersama teman sekelasnya, Totto-Chan amat menikmati belajar memasak tersebut. Selain itu, berkemah juga menjadi hal yang mengasyikkan bagi Totto-Chan, dimana anak-anak yang kebanyakan takut dunia luar dan malam, disekolah itu sudah mulai diperkenalkan.
Membaca buku ini, mengingatkanku pada film India yang amat menginspirasi: Taare Zameen Par. Dalam doktrin film tersebut: every child is spesial. Tak ada anak kecil yang nakal, adanya adalah anak kecil yang terbelenggu atau tidak diarahkan kepada minat dan bakatnya. Dunia anak adalah dunia tersendiri yang mesti dipahami menurut logika dan psikologi anak-anak.
Di Indonesia sendiri, menurutku sudah ada sekolah yang semacam ini, meski masih minim. Sebut saja, pendidikan alternatif Qaryah Thayyibah di Salatiga, Jawa Tengah. Melalui metode pendidikan yang beda dari maenstrem, sekolah ini sempat “menggemparkan” dunia pendidikan Indonesia dengan karya-karya siswanya serta sikap beberapa muridnya yang menolak dan ingin menghapus Ujian Nasional. Selain itu, Qaryah Thayyibah juga menjadi objek dan kajian berbagai peneliti dan pengamat pendidikan baik dalam maupun luar negeri. Meski begitu, aku sendiri belum pernah kesana, hanya tahu melalui media.
Sekolah alam, dalam kategori seperti diatas, yang pernah aku kunjungi adalah di Kota Magelang, Jawa Tengah. Aku lupa nama sekolahnya. Lokasinya berada kurang lebih 1 km di Belakang Rumah Sakit Jiwa Prof Dr Soerojo Magelang. Nama pendirinya adalah Kyai Abdur Rasyid, ketua PCNU Kota Magelang.
Kyai Abdur Rasyid menggunakan “peluang” pendidikan persamaan sebagai formalitasnya (semacam paket c?). Memanfaatkan lahan sekitar dua-tiga hektar, beliau membangun pesantren sekaligus sekolah alam. Kelasnya menggunakan rumah panggung tanpa pagar, sehingga sambil belajar, para santri bisa melihat alam sekitar. Berbagai disiplin ilmu dikaji, seperti nahwu, shorof, matematika, bahasa inggris, komputer dll.
Ketika aku sampai disana, murid atau para santri sedang gotong royong membangun perpustakaan. Ada juga beberapa yang kecil-kecil sedang bermain musik dengan asyiknya. Aku dibuatkan kopi oleh santri putri yang keluar dari dapur umum, bersebelahan dengan air mancur yang tak pernah henti bernyanyi gemricik. Sambil ngobrol dengan sang kyai, waktu itu, kulihat juga kolam-kolam ikan yang menjadi pembatas antara bangunan satu dengan lainnya. Pikirku, pesantren ini cukup merepresentasikan isi novel itu.
Membaca novel Totto-Chan, membukakan kita bagaimana perspektif dan metodologi pendidikan yang kian hari harus kian disesuaikan sesuai kebutuhan dan tantangan zaman.
Aku harus berterima kasih kepada perempuan muda itu, yang telah mengenalkan buku itu padaku. Kuharap, kini ia juga sudah mendapatkan novel itu. Lalu, suatu saat, jika mau, akan kuajak ia mengunjungi sekolah atau pesantren unik, seperti yang dilukiskan dalam novel yang dicarinya itu. []
Semarang, 14 Muharram 1437 H./ 27 Oktober 2015
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: