Wanita Berkerudung Itu

Malam pekat menyelimuti kota. Cahaya bulan sayup-sayup menembus mendung yang bergelantung. Tak ada suara binatang yang bercengkerama laiknya di desa. Mungkin mereka sudah lama digusur oleh pembangunan kota. Suara motor dan mobil angkotlah yang sesekali memecah hening, mengantar pedagang pasar pagi mencari laba.

Aku sudah berusaha melupakannya. Minimal dua bulan semenjak bertemu terakhir dengannya. Namun tak bisa. Sosok wanita berkerudung itu masih selalu menyapaku dimana-mana. Ia selalu muncul dihadapanku secara tiba-tiba. Bahkan ketika aku menghadap yang kuasa. Entah mengapa. “Cinta memang diluar kekuasaan manusia”bisikku dalam dada.

Namanya Fia. Ia lahir pada 07 Ramadhan 1411 H. Kulitnya bersih sawo matang. Matanya tajam bak pedang. Senyumnya meneduhkan. Romannya ramah. Perilakunya enerjik. Pola pikirnya cerdas dengan logika diatas rata-rata. Tingginya seukuran wanita Jawa pada umumnya, sekitar 160 cm. Sekilas ia sama dengan wanita sebayanya. Namun entah ada aura apa yang membuatku menanggung rasa yang entah. Rasa yang tak bisa kuungkapkan dengan kata.

“Kau jatuh cinta pada orang yang salah. Enyahlah dari kehidupanku” katamu waktu itu yang masih selalu terngiang di telingaku.

Jawaban itu tak kuduga sebelumnya. Akupun tak ingin memaksa. Kubilang, bahwa aku hanya ingin mencintainya.

“Jangan hubungi aku lagi. Aku kasihan kau menanggung derita cinta” ungkapnya mengunci pintu hati. Katanya, selama aku belum move on kepadanya, aku tidak boleh menghubunginya. “Siapa yang tahu waktu ketika aku move on itu?” tanyaku. “Aku tahu” jawabnya.

Aku mencoba berdamai dengan diri. Semenjak ungkapan itu keluar dari bibir manisnya, kucoba resapi. Kupikir-pikir dikamar sambil melihat sepasang cicak didinding yang berkasih mesra. “Aku harus bisa. Bukankah jika kehadiranku membuatnya menderita, ketidakhadiranku adalah bahagia baginya?”gumamku dalam hati.

Kemudian aku tak pernah menghubunginya.

Setelah kusadari sepenuhnya, aku memang belum pantas untuk wanita sesempurna dirinya. Seandainya toh waktu itu ia menerimaku, belum tentu aku bisa menjaganya. Aku mencoba realistis, bahwa diriku bukanlah siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa. Jauh berbeda dengan dirinya yang dari sisi apapun serba berada. Intinya, aku belum pantas bersanding dengannya.

Malam selalu membawa tamu kedamaian bagi orang yang lelah di waktu siang. Namun tidak berlaku bagiku. Sosok Fia selalu hadir dan menyapaku. Ia hidup dalam kenangan dan imajiku. Malam jadi begitu menggelisahkan, menyeretku kedalam dunia fantasi yang begitu menyenangkan. Untunglah tuhan menciptakan makhluk bernama kenangan dan rindu. Ia selalu bisa mengantarkanku menuju serpihan kisah indah yang telah lalu.

Hari itu, hari pertama kami berjumpa, tidak hanya hari kemerdekaan Indonesia, dimana semua orang merayakan dengan penuh suka cita. Namun juga diriku, dimana merayakan kemerdekaan kecil dari kesepian yang menghantui bertahun-tahun. 17 Agustus itu, aku seakan mendapat kemerdekaanku: berjumpa dengannya.

Langit tampak cerah. Ia seakan ikut berbahagia atas kemerdekaan Indonesia yang ke-72. Awan-awan berparade secara bebas di langit kota semarang. Sama seperti 72 tahun lalu Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan, seluruh alam pertiwi menyambutnya dengan penuh kebahagiaan, setelah tiga abad lebih hidup dibawah penindasan.

Aku menuju kota seribu bunga, menjemput Fia. Di kota yang memajang patung pahlawan goa selarong, Pangeran Diponegoro itu aku terdampar di salahsatu kecamatan dekat lereng Merapi: Muntilan.

Sebagai kota yang lekat dengan santri, Terminal Muntilan, seperti juga terdapat di terminal lain, memiliki Mushalla. Tempat yang takkan dijumpai di negara-negara lain selain Indonesia: Terminal dan Mushalla. Ini merupakan asimilasi budaya yang telah hidup dan menjadi urat nadi dalam kebudayaan masyarakat. Aku mandi dan shalat disana, sambil menunggu Fia.

“Aku sudah di tengah-tengah terminal, Mas” bbm Fia masuk ke smartphonku.

“Iya, aku segera menuju kesitu” jawabku.

Kulangkahkan kaki menyusuri toko-toko yang berderet manis sepanjang tepi Terminal. Sopir, kernet, manol dan pedagang kaki lima berlalu-lalang. Kulihat, ditengah-tengah terminal beberapa orang-orang itu berkerumun mengelilingi papan catur. Di seberangnya, kulihat wanita muda berkerudung hitam: itulah Fia.

Ia menyambutku dengan keramahan yang sempurna. Kuduga, ia akan malu-malu bertemu denganku setelah sekian tahun tak bertemu. Ternyata salah. Ia begitu enerjik, tomboy dan renyah. Setelah bersalaman, kami terlibat dalam obrolan panjang sambil menunggu bus menuju Jogja datang.

Tak lama berselang, bus dengan kelebihan penumpang datang. Kami memasukinya. Aku terpisah dengan Fia. Ia duduk dengan seorang turis yang entah darimana. Kuperhatikan, ia dengan lancar dan beraninya ngobrol dengan turis pria disampingnya itu. Sepertinya, dulu bahasa inggris dan conversationnya dapat nilai bagus.

Di jogja, seharian aku dan Fia mengitari kota dengan Bus Trans Jogja. Cukup dengan Rp. 3000,- bus itu akan membawa penumpang keliling kota sepuasnya. Sambil menikmati keramahan kaki lima, bangunan tua dan lalu-lalang mahasiswa, aku dan Fia ngobrol banyak hal. Kulihat, rona mukanya berseri bahagia bisa berkeliling kota dengan bus Trans Jogja. Semua pemandangan bisa terlihat jelas mengingat bus tinggi dengan kaca yang terang memotret pemandangan.

Matahari mulai menuju garis cakrawala. Burung-burung berterbangan mencari sarangnya. Langit memerah menjuratkan mega di ufuk selatan. Malam perlahan akan menggulung siang, sebuah sunnatullah yang tak bisa dilawan.

“Maukah kita bermalam di Jogja ini?” tanyaku yang entah dari mana keberanian itu muncul.

“Boleh” jawabnya, yang diam-diam aku mendengarnya berkecamuk dalam hati. Bagaimana mungkin aku mengajak seorang perempuan dewasa tidak seizin ayahnya? “Ini cacat moral”gumamku dalam hati. Maklum, ajaran agamaku mendoktrin, wanita sebelum menikah itu haknya ada di genggaman ayahnya. Sedangkan setelah menikah, ia berpindah-tangan kepada suaminya.

“Tapi tolong, ijinlah sama ayah dan ibumu: bahwa kau akan bermalam di Jogja” saranku.

“Iya, ini aku sudah ijin.” Jawabnya.

Aku jadi sedikit lega. Meski begitu aku merasa tak enak kepada ayahnya, jika suatu hari nanti ia tahu bahwa aku adalah lelaki yang pernah “menculiknya” sehari-semalam.

Malam itu aku dan Fia banyak memproduksi kenangan yang indah: tak tahu arah rute bus, naik becak bersama dipayungi lampu kota, makan di bersama di warung pinggiran, menyimak pagelaran yang menawan sampai menumpang tidur di rumah seorang teman. Sungguh, sehari itu seakan akumulasi kebahagiaan dari seribu hari yang telah kulalui.

Disaat pagi sudah mengganti malam, perpisahan akan segera datang. Fia tak mau diantar pulang. Ia mengaku sudah dewasa untuk pulang sendirian. Sebagai seorang lelaki, aku merasa menjadi pengecut membiarkan wanita pulang sendirian. Namun, karena ini adalah kemaunnya, aku tak berdaya. Biarlah tuhan yang menjaganya.

Pasca hari itu, Fia selalu mengirim tulisan kepadaku tiap malam. Kita saling bercengerama, diskusi dan tertawa ria meski lewat tulisan. Disaat aku tak kuat lagi memendam perasaan, kunyatakan cintaku padanya. Lalu, seperti telah kusampaiakan, ia menjawab dingin: “Kau jatuh cinta pada orang yang salah. Enyahlah dari kehidupanku”. Sungguh, jawaban yang tak pernah kusangka sebelumnya.

Meski begitu, kepada wanita berkerudung itu: aku tetap mencintainya, dan mencintai kehilanganku atasnya.

Semarang, 10 November 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: