Hujan

Semarang, 06 November 2015

Hujan lebat mengguyur kota malam mini. Suara halilintar menggelegar diikuti kilat yang memancar di langit. Baru kali ini, curah hujan lebat turun dari langit. Tanah yang tersiram seketika menghembuskan bau harum. Pohon-pohon terasa segar, bagai petani-petani sawah yang selesai mandi.

Di beberapa kabupaten, para ulama bahkan melakukan shalat istisqa’, shalat untuk meminta hujan. Hal ini diserukan langsung oleh organisasi pengikut ulama: NU. Selain karena kebakaran yang melanda di beberapa provinsi, kekeringan juga terjadi di beberapa kota di Jawa Tengah. Salahsaatunya adalah Kabupaten Grobogan. Laziznu Jawa Tengah beberapa waktu lalu sudah mengirim beberapa tangki air untuk membantu warga.

Di sumatera, Riau dan Kalimantan, terjadi kebakaran hutan yang beratus-ratus hektar. Seluruh kekuatan Negara dikerahkan, namun masih saja kesulitan. Para TNI dan relawan yang ikut memadamkan-pun ikut ikhtiar bathin: shalat Istisqa’. Alhamdulillah, di Riau, setelah beberapa kotanya dikepung asap, kembali segar setelah diguyur hujan. Ternyata, api yang sebesar itu, dipadamkan dengan biaya bermilyar-milyar, dengan seketika, bisa dipadamkan oleh tuhan dengan hujan.

Membicarakan hujan menjadi menarik, meski kini pengetahuan modern sudah bisa membuat hujan. Tak sedikit orang yang mengumpat hujan, oleh karena mengganggu agenda, tergenang banjir atau mengotori rumah. Namun, disisi lain, banyak juga orang yang meminta hujan, untuk menyuburkan sawah, mengalirkan sungai, tambak dan termasuk pula meredam kebakaran.

Hujan juga menyimpan sejuta kenangan. Maka, aku ingin mengenang hujan, karena disana ada kebahagiaan.

***

Wonosobo, 1994

Di Dusun Krajan, anak-anak adalah kehidupan tersendiri, seperti juga di tempat-tempat lain. Dunia anak-anak adalah dunia permainan. Dunia yang hanya sekali seumur hidup mereka rasakan. Permainan sendiri mengenal musim. Bila musim kemarau, biasanya ada beberapa permainan yang popular di desaku: sepak bola, layang-layang, mobil-mobilan, kelereng,  bentengan serta petak umpet jika malam tiba.

Di musim penghujan, lain lagi. Selain sepak bola yang selalu popular, juga ada ceguran dan ngobor jangkrik. Untuk sepak bola, aku dan teman-teman lain hujan-hujanan, dengan resiko yang sudah diketahui sebelumnya: dimarahi ibu. Hujan-hujanan disertai bermain di air yang tergenang merupakan dunia yang begitu asyik. Kami tak takut sakit dengan bermain hujan. Usai sepak bola aku akan dimarahi ibu karena dua hal: hujan-hujanan dan meninggalkan shalat asyar.

Untuk ceguran, kami memiliki banyak opsi sungai.  Jika yang terdekat kurang deras alirannya, maka kami akan mencarinya di desa tetangga. Kami berjalan kaki berkilo-kilo hanya untuk menuju bendungan itu. Teman-temanku waktu itu, sudah berani meloncat dan salto dari tebing yang tinggi dan curam. Semua yang menyaksikan akan bersorak-sorai. Aku sendiri sampai kini belum berani melakukan hal ekstrem itu.

Agar tak tenggelam, kami menggunakan gethek, yaitu debog pisang yang yang dikumpulkan lalu diikat. Dengan gethek itu, kami bisa menyeberangi sungai, meloncat serta latihan renang. Di kemudian hari kuketahui, ternyata renang dianjurkan oleh seorang pemimpin besar dan utusan Tuhan dari tanah Arab bernama Muhammad.

Bila musim hujan tiba, jangkrik-jangkrik juga muncul di ladang-ladang yang ditanami Jagung. Ketika orang-orang sudah pulang dari ladang, dan anak-anak mandi untuk menuju madrasah dengan membawa oncor, sejenis obor dari bambu, mereka sudah mulai janjian mencari jangkrik setelah ngaji.

Sebelum bedug maghrib berbunyi, kami sudah berkeliling melihat pengurus madrasah menyalakan lampu petromakh. Kami takjup dengan lampu dengan bahan bakar spirtus ini. Cara menghidupkannya pun unik: dengan memompanya. Mewah. Hanya masjid yang memilikinya, semua penduduk di kampungku memakai lampu senthir untuk menerangi rumah-rumahnya.

Setahun kemudian, kakekku, atas bantuan dari orang dari seberang membuat kincir air. Dalam pembuatannya, dikerjakan oleh banyak orang. Kincir itu terbuat dari kayu dengan dibentuk seperti baling-baling. Di bagian atasnya, diberi dynamo seperti seperti dynamo pada sepeta unta menghidupkan lampu yang pernah kulihat di kota. Kincir itu diletakkan dibawah guyuran air yang selalu mengalir dari curug di dekat rumah.  Ajaib, dengan guyuran air itu, lampu bohlam bisa hidup terang. Lampu-lampu itu dinyalakan ketika bedug dan kentongan maghrib bunyi sampai selesai madrasah.

Usai ngaji, kami ngobor jangkrik dengan oncor atau kayu pinus yang dibakar. Ada dua jenis jangkrik yang menjadi primadona waktu itu: jiteng dan jrabang. Hanya dua itu yang layak kami simpan. Apabila diantara kami ada yang mendapat jenis jangkrik clupur misalnya, yang ngeriknya thuuuurrr…thuurrr…thurrr…, akan ditertawakan.  Bahkan, beberapa temanku mencari jangkrik untuk dijual di pasar. Mitosnya, jagkrik dapat mengusir tikus dirumah.

Jangkrik yang kami tangkap kami buatkan kandang menggunakan irisan bambu yang dususun secara rapi. Desain rumah jangkrik ini, kuketahui kemudian, mirip dengan rumah-rumah penduduk di Arab Saudi yang berbentuk kubus. Kandang jangkrik ini kami membuat sendiri, bermodal pisau dan karet. Kandangnya pun ada yang bertingkat-tingkat dan dapat dihuni banyak jangkrik.

Itulah, dianta hal-hal yang membuat aku rindu pada hujan. Kemudian aku tahu bahwa hujan adalah ciptaan tuhan untuk keseimbangan alam, diantaranya menghidupkan yang mati. Dari situlah kemudian tumbuh buah-buahan, biji-bijian yang dimakan oleh bangsa manusia. apapun yang terjadi, tak selayaknya manusia mengumpat hujan. Tanpa hujan, manusia takkan hidup dan kehidupan akan kehilangan segala-galanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: