Dimanakah Surga?

Ini adalah percakapanku dengan seorang cewek misterius, via facebook, mulai Rabu, 11/10/2015. Diskusi ini belum berakhir sampai hari ini. Mohon bisa dikoreksi kalau ada yang kurang pas.


“Surga itu dimana, mas?”

“Kulo mboten mangertos, neng. Informasi dari nabi hanya timingnya, pasca dunia, di alam akhirat setelah adanya yaumil hisab, tapi soal dimananya?, barangkali surprise Allah nanti. hehehe ๐Ÿ™‚ ”

“Surga itu, ada di hati kita”

“Oh, kok bisa? kata baginda di telapak kaki emak?”

“Kalau hanya hati yang bisa menerima Allah, dan hati kita telah kemasukan Allah, apa bukan surga namanya? yang di janjikan di surga juga pertemuan dengan Allah. Kalo kita telah menemukan Allah dihati, berarti kita telah menemukan surga. Tak masalah tuhan yang ditemukan tak berwujud, karena memang tuhan tak berwujud namun ada dalam setiap wujud. He, teoriku ini ngawur, kah? ๐Ÿ˜€ ”

“Teory kamu? hmmm, hebat teorinya. salut. Itu juga yang sudah dibahas para sufi di abad pertengahan. Bahkan, Al-Hallaj kemudian dipenggal karena dianggap menebar paham wahdatul wujud, penyatuan makhluk dengan tuhan. Semesta ini, jelmaan tuhan. Begitu juga kata rumi, yang sepertinya meng-afirmasi teorimu, seperti dalam syairnya berikut ini:
Kucari Tuhan di gereja…tak kutemukan Ia disana. Kucari Ia di vihara…tak ada juga disana. Di kuil, di masjid, atau tempat-tempat suci lainnya…tak kulihat Ia disana. Jauh-jauh kucari, ternyata Tuhan ada didalam hatiku sendiri. Ia bersemayam disana.
Tapi, menurutku agak beda: Allah dengan syurga itu. Surga itu makhluk. Sedangkan Allah: the real paradise.Terkait dengan “surga” dunia itu, malah agak memahami dari syair lagu ‘Jika Cinta Allah’ karya Ahmad Dhani, berikut ini:
pernahkan kamu merasa bahagia
di saat kamu ada bersama kekasih hatimu
jauh pun terasa dekat, sakit pun terasa nikmat
hidup pun seperti bersama malaikat
badai hanya serasa seperti hujan
terik matahari seperti sejuk saja
tak ada masalah
takkan ada derita
bila isi hatimu
penuh dengan rasa cinta, cinta kepada Allah
takkan ada air mata
jika isi hatimu
penuh dengan rasa rindu, rindu kepada Allah
pernahkah kamu merasa damai
saat sang kekasih ada selalu di sisimu
setiap waktu
caci maki serasa seperti puji-pujian
dan suara sumbang sepertinya merdu
badai hanya serasa seperti hujan
terik matahari seperti sejuk saja
tak ada masalah
jika kamu cinta kepada Allah
maka tak ada penderitaan.
Aku belum bisa seperti itu. Masih terlalu awam. Masih jarang-jarang menghadirkan tuhan secara “online” dihatiku. Syariatnya saja masih kocar-kacir, masih jauh untuk memasuki dunia hakikat. ๐Ÿ˜ฆ ”

“oh ๐Ÿ˜ฆ aku belum pernah baca tentang hal itu pada al-Halaj sama Jalaludin Rumi. Bukan, surga bukan tempat. Eh… bukan makhluk seperti katamu, mas. ๐Ÿ˜€ ”

“Iya, setidaknya mirip. Makanya aku apresiet pendapat kamu. Kalau pertanyaanya dimana? Jawabannya bukannya tempat; menanyakan tempat.
Kalau pendapaku, sampai hari ini, selain Allah itu semuanya makhluk. ๐Ÿ™‚ ”

“Kalau masih membedakan atas depan, kiri kanan, makhluk atau bukan, itu masih manusiawi”

“Oh, begitu. Aku kan memang manusia, bukan malaikat. Apalagi bersayap. hehe. Terus menurutmu gimana? Hanya menghadirkan Allah gitu? Yang lain tak ada? Atau bagaimana. ๐Ÿ˜ฆ ย “Maksud ‘masih manusiawi’ itu gimana? Aku masih gagal faham. Jika hati kita menemukan Allah, menurutku itu bukan syurga. Melihat Allah itu bukan surga, melainkan salahsatu nikmat terbesar dalam surga.ย Dalam term tasauf, menyatu dengan Allah itu namanya Tajalli. Itu tingkatan tertinggi, maqam ma’rifat. Jadi, menurutku bukan syurga.”

to be contnued… (menunggu balasan)

Semarang, 13/11/2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: