Bertemu Habib Anis dan antara Tanzih dan Tasbih

Sore tadi saya bersama rekan-rekan pengurus IPNU Jawa Tengah silaturrahmi ke kediaman Habib Anis Sholeh Ba’asyin di Pati. Lawatan ini juga dalam meminta masukan, saran dan arahan dari ulama, habaib, tokoh dan senior atas Kongres IPNU XVIII di Boyolali, dimana kami menjadi panitia daerah.

Kami disambut dengan penuh hangat di kediaman beliau. Sambil merokok, duduk lesehan dan menikmati teh manis yang dihidangkan, kami terlibat diskusi yang menarik dengan beliau. Awalnya, beliau yang membuka dan mengarahkan, bahwa dengan pesatnya laju informasi dan komunikasi hari ini, memunculkan fenomena era baru: psywar(Psychological Warfare) atau biasa disebut perang urat syaraf.  Berbeda dengan perang-perang konvensional yang bermodalkan senjata atau berbagai peralatan fisik lainnya untuk mengalahkan musuh, Psywar memanfaatkan sisi psikologis dan pemikiran lawan agar bisa dipecah konsentrasinya.

“NU harus menyipakan satu generasi baru dizaman yang mengalami perubahan secara radikal ini”, begitu kurang-lebih nasehatnya. “Fenomena adanya hegemoni kelompok, perang, politik, ekonomi, sosial serta pemikiran di internet hari ini harus mampu direspon dan dikawal secara massif” imbuhnya.

Menurut pimpinan orkes Sampak Gusuran tersebut, generasi yang harus dipersiapkan adalah yang memiliki dua komponen: ilmu dunia dan akhirat. Artinya, selain secara basic memiliki pengetahuan dan ideologi  keislaman ala ahlussunnah wal jamaah yang memadahi, juga memiliki pengetahuan serta skill yang dibutuhkan masyarakat modern.

Apa yang beliau sampaikan saya benarkan, bahwa hari ini peran “kaum sarungan” di dunia maya memang belum begitu signifikan. Baru ada beberapa situs yang menjadi trend dan muncul ke permukaan dan memiliki nama. Selain itu, kontennya juga masih banyak menyajikan kegiatan-ceremonial, khilafiyah dan sentiment sektarian. Padahal, pada level “masyarakat awam”, yang dibutuhkkan adalah sajian-sajian yang tidak melangit, seperti soal hukum fiqh sehari-hari: ubudiah dan muamalah.

Pada faktanya, masyarakat awam memang banyak mencari hukum-hukum fiqh yang mungkin belum mereka ketahui atau karena masyarakat urban yang tak sempat bertanya kepada ulama atau kyai, lalu mencari di internet via mesin pencari. Seperti misalnya, soal haid, nifas bagi wanita sampai pada hak dan kuwajiban suami istri dalam rumah tangga dll. Jika hal ini tidak direspon secara cerdas oleh kalangan muda cyber NU, tentu kita akan kalah dalam psywar tersebut.

Selain membahas soal media, kami dalam obrolan hangat dengan sesekali menyedot rokok, juga menyorot polarisasi tajam yang hari ini muncul antara Wahabi dan Syiah. Menurut Bib Anis, panggilan akrabnya, anak muda NU harus berhati-hati dalam mengkonfirmasi dan mengafirmasi hal-hal yang sensitive tersebut. “Jika tidak, kita akan langsung diklaim dan dipolarisasikan ke dalam dua kubu tersebut” kata Bib Anis.

Beliau menjelaskan, bahwa banyak ulama besar mengatakan Syiah itu bagian dari Islam. “Saya itu sudah bertahun-tahun mengkaji Syiah, yang begitu banyak variannya. Setelah kita teliti, pada periode awal, tak ada keluarga nabi yang menghina sahabat. Ini terjadi jauh sesudahnya. Patahan inilah yang mesti dipahami” tuturnya sambil mengeluarkan kumpalan asap rokok.

“Kamu-kamu sekalian, selaku generasi muda NU, yang penting jangan reaktif. Jangan sampai kita dituduh Wahabi atau Syiah. Kalau bisa, pelajari kembali teologi Islam, seperti masalah yang tak pernah selesai dibahas: Tanzih dan Tasbih.” Tutur Bib Anis. Pada tingkat pembicaraan ini aku agak blank. Kupenjamkan mata sambil mengingat-ingat dua istilah itu dalam kitab tauhid yang pernah kupelajari: Aqidatul Awam, Kifayatul Awam atau Fathul Majid. Tapi tak ketemu, entah memang tak ada atau aku tak masuk madrasah waktu itu, atau memang aku benar-benar lupa.

Sampai akhirnya kami berpamitan dari Bib Anis, aku masing terngiang dua istilah itu. Tanzih dan Tasbih, dua istilah yang menghantui pikiranku. Entah mengapa. Karena resah, akhirnya kucari dan kugali kembali, dua istilah yang dalam teologi Islam menjadi perdebatan tak berkesudahan itu. Ketemu.

Antara Tanzih dan Tasbih

Secara bahasa, tanzih berarti jauh dan tasybih berarti menyerupai. Tanzih berasal dari kata nazzaha berarti menjauh, berjarak, dan membersihkan. Tanzih adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan bahwa Tuhan dan makhluk-Nya amat jauh dan tak terbandingkan (uncomparable).

Tuhan tak dapat digambarkan dan dibandingkan dengan makhluk-Nya. Ia berbeda secara mutlak dengan makhluk-Nya dan tidak ada kata sifat yang mampu melukiskan-Nya. Sedangkan tasybih berasal dari kata syabbaha yang berarti menyerupakan, yakni menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Tasybih adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bahwa Tuhan mempunyai kemiripan dengan alam sebagai makhluk-Nya karena alam adalah lokus penampakan (madzhar) diri-Nya. Dengan kata lain, alam (secara harfiah berarti tanda) adalah ayat untuk mengungkap identitas Tuhan.

Mayoritas teolog Islam lebih sering menekankan aspek tanzih Tuhan. Bahkan, di antaranya mengatakan: barangsiapa yang menyerupakan Tuhan dengan sesuatu maka ia musyrik. Bagi teolog, Tuhan harus berbeda dengan makhluk-Nya karena Ia adalah Tuhan. Makhluk tidak boleh dan memang tidak akan pernah mungkin menyerupai Tuhannya.

Para teolog tersebut mendasarkan pandangannya pada ayat dan hadits di samping logika. Mereka sering mengutip, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” (QS As-Syura: 11).”Tuhan menjadi tumpuan kosmos dan seluruh makhluk, Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS Ali ‘Imran: 97).

Dalam mengenal Allah manusia harus melihat TanzihNya (Kesucian Allah dari segala sifat yang baru / mensucikan Allah dari menyerupai mahkluk) pada TasybihNya (KeserupaanNya dengan yang baru) dan tasybihNya pada tanzihNya (keserupaanNya dengan yang baru pada kesucianNya dari segala sifat yang baru). Artinya untuk mengenal Allah harus menggabungkan dua aspek tadi sekaligus.

 

Mengutip perkataan Abu Sa’id Al-Kharraj, “ Aku mengenal Allah dengan menggabungkan dua hal yang bertentangan.” Menurutnya apabila seorang mengenal Allah hanya dengan aspek tanzih berarti dia telah membatasi kemutlakanNya. Karena tanzih berarti menafikan segala sifat bagi Allah seperti yang dilakukan oleh kalangan Mu’tazila yang melucuti Tuhan dari segala sifat, hingga Allah menjadi suatu yang tak bisa dikenal dan dijangkau. Hal ini mengakibatkan terputusnya hubungan Tuhan dengan manusia. Kemudian jika hanya mengenal Allah dalam aspek tasybih saja seperti yang dilakukan kalangan al-Mujassimah maka mengakibatkan keserupaan Tuhan dengan yang baru.

Teolog besar Ibnu Arabi dalam kitab Fusus al-Hikam mengatakan, “Pensucian dari orang yang mensucikan merupakan pembatasan bagi yang disucikan, karena ia telah mengistimewakan Allah dan memisahkanNya dari sesuatu yang menyerupai, jadi pensucianNya dari suatu sifat yang wajib merupakan keterikatan dan keterbatasan, maka tidak ada di sana kecuali Yang terikat dan Maha Tinggi dengan kemutlakanNya dan ketidak terbatasanNya.”

Mengenai hal ini, ‘Abd al-Raziq al-Qasyani menjelaskan bahwa tanzih berarti mengistimewakan Allah dari segala yang baru yang sifatnya materi dan dari segala yang tidak pantas baginya pensucian dari sifat materi, hal ini berarti bahwa setiap sesuatu yang berbeda dari yang lain maka ia tentu memiliki sifat yang bertentangan dari yang lain tersebut. Dengan begitu ia menjadi terikat dengan suatu sifat dan terbatas dengan satu batasan. Jadi tanzih tersebut merupakan pembatasan. Lebih jelasnya, bahwa yang mensucikan telah mensucikan Allah dari sifat materi dan menyamakanNya dengan sifat rohani yang suci. Dengan begitu ia telah mensucikan Allah dari keterbatasan namun dengan sendirinya ia telah membatasNya dengan kemutlakan, sedang Allah Maha Suci dari ikatan keterbatasan dan kemutlakan, akan tetapi Ia Maha Mutlaq tidak terikat oleh tanzih maupun tasybih juga tidak menafikan keduanya.

“Tidak ada yang serupa denganNya” potongan ayat ini mengisyaratkan tanzih, dan “Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” potongan ayat ini mengisyaratkan tasybih.

Sedangkan Abdul Karim al-Jily,  ulama yang populer dengan ajaran dan konsep tasawufnya tentang al-Insan al-Kamil  menerangkan mengenai hal ini sebagai berikut:

“Yang mensucikan mengosongkan Tuhan dari segala sifat sehingga dia menghilangkan kuasa Tuhan, yang menyerupakan Tuhan menghiasaiNya dengan sifat yang tak pantas aritnya memakaikan Tuhan dengan sifat selainNya (Mujassimah) sedang yang berada di antara keduanya (tidak mengosongkan dan tidak memakaikan) artinya seorang yang ‘arif yang berada antara tasybih dan tanzih tidak menanggalkan apa yang pantas bagi Allah dan menyifatiNya dengan pakaian atau sifat yang tidak pantas bagiNya. Bahkan ia berkata Allah adalah Yang Lahir dan Yang Batin atau ia menyifati Allah dengan Lahir dan Batin. Aspek Batin merupakan hukum kesempurnaan bagiNya sedang aspek Lahir merupakan nyatanya Ia dalam segala yang ada.”

Jika kita mengatakan dengan tanzih maka kita membuatNya terikat; jika kita mengatakan dengan tasybih kita membuatNya terbatas; jika kita katakan dengan dua hal tadi maka kita akan seimbang dalam bertauhid. Wallahu A’lam.

Semarang, 10 November 2015

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: