Nahdlatul Ulama Adalah…

Gema adzan bergema sayup-sayup ditengah gemuruhnya kota. Beberapa orang terlihat beranjak menuju masjid untuk menjalankan ibadah shalat isya. Malam minggu itu Alun-alun kota memang tampak ramai dibanjirii pemuda-pemudi dan bahkan keluarga. Ada yang sekadar jalan-jalan, membeli makanan di kaki lima yang berderet si sepanjang jalan, bermain skate board atau sekadar kumpul-kumpul dengan komunitas mereka masing-masing.

Bejo dengan ditemani Cak Luk, Bondan Wangi, dan Mat Saripun tak ketinggalan terlihat disana. Ia parkir didepan warung angkringan depan Polres yang berada di selatan alun-alun kota. Dengan hanya beralas selembar tikar yang di hamparkan di trotoar itu, mereka kadang menghabiskan malam dengan berbagai cerita dan obrolan yang tak terbatas.

“Saya pesan jahe susu sama kepala ayam bakar, mas!” bengok Bondan Wangi dengan gaya jenakanay yang khas. “ente mau pesan apa, bro?” tanya Bondan Wangi pada Bejo, Cak Luk dan Mat Saripun. “Aku kopi hitam, ceker bakar sama mie telor” jawab Cak Luk. “Kalau aku teh susu dan kepala ayam bakar saja” kata Bejo. “Aku terserah kamu ah, apa aja, Ndun” jawab Mat Saripun sambil utek-utek BB-nya.

Tak lama berselang, pesanan pun datang. Mereka menyantap makanan khas orang pinggiran itu sambil menikmati malam suasana kota yang gegap gempita. Seperti biasa, usai makanan habis, merekapun ngobrol sambil menikmati setiap sedutan rokok.

“Pun, kamu kenapa to dari tadi ngutek-utek BB sambil dilempit mukanya. Baru diputusin cewekmu apa?” tanya Bondan Wangi pada Mat Saripun diikuti senyum tipis Bejo dan Cak Luk.

“Tidak Ndun, aku tuh sedang pusing. Besok aku disuruh ngisi materi tentang ke-Nahdlatul Ulama-an di Pendopo Kecamatan. Daridulu kan aku NU kultural, bukan struktural, jadi kurang tahu apa itu NU. Bagiku NU itu ya Tahlilan, Yasinan, Berjanjen dan Subuh Qunutan” jawab Mat Saripun yang dikenal aktiv di organisasi pemuda itu.

“Oooo….itu to problem-mu. Lha dari kemarin itu kamu kemana aja? Ngisin-isini orang NU kok ndak tahu apa itu NU. Kalau setiap anak orang NU kaya kamu, mau jadi apa NU kedepan?” jawab Bondan Wangi yang kali ini cukup serius. “Yowis, daripada kamu besok malah setengah modar ditelanjangi ma peserta, mending Cak Luk nanti yang njelasin” tambah Bondan Wangi. Bejo dan Cak Luk masih mendengarkan sambil menikmati rokoknya.

“Lha emang kalau kamu yang jelasin, kenapa?” cecar Mat Saripun

“Aku kan juga sama, to, belum tahu. Hehehehe, ingin belajar juga maksudnya.”

“Oooooooo, dasar, jarkoni; ngajar-ngajar ning ngelakoni.” Kata Mat Saripun sambil kesal pada Bondan Wangi.

“Sudah, sudah, nggak usah ribut, biar Cak Luk yang jelasin” kata Bejo menengahi sambil nyeruput teh susu kesukaannya.

***

Mata Cak Luk jauh memandang orang lalu lalang sambil sesekali menghisap rokok yang terselid diantara jari jemarinya. Nama aslinya adalah Lukman Khakim, namun teman-teman biasa menyapanya Cak Luk. Meski ia pernah nyantri lama di pesantren terkemuka dan menjadi aktivis IPNU, jiwanya bebas dan tak mau terbelenggu. Pakaiannya kadang cukup memakai kaos oblong dan celana jeans yang compang-camping. Meski begitu, Cak Luk rajin shalat dan riyadlah. Sudah tiga tahun ini ia puasa ndawud, yaitu sehari puasa-sehari tidak. Ia berprinsip bahwa orang itu bukan dinilai dari luarnya, namun dalamnya. Dengan nada pelan, ia memulai menjelaskan NU kepada teman-temannya.

“NU itu, organisasi yang tegas memperjuangkan kelangsungan Islamnya walisongo. Secara formal, NU didirikan pada 31 Januari 1926 oleh KH Wahab Hasbullah atas restu KH Hasyim Asyari dan KH Cholil Bangkalan Madura. Namun secara kultural, NU sudah ada bersamaan dengan masuknya Islam itu sendiri ke Nusantara.”

“Lha mamangnya, siapa to sejatinya Walisongo itu?” tanya Mat Saripun sambil melongo membuka mulutnya.

“Sabar to Rip, Cak Luk yo biar sambil merokok, kan salit!” jawab Bondan Wangi diikuti tawa Bejo dan Cak Luk. Cak luk meneguk minuman yang ada didepannya, lalu melanjutkan cerita.

“Walisongo adalah sebuah konsolidasi Islam yang secara terstruktur untuk menahan perjanjian politik-ekonomi kepausan yang waktu itu menggunakan Portugis dan Spanyol dalam Perjanjian Tratado de Tordesilhas dilanjutkan Perjanjian Zaragoza. Melihat Eropa membagi kekeuatan dunia dengan kekuatan ekonomi baru, maka sultan Muhammad dari turki mengirim ulamanya kesini, untuk membentengi Nusantara. Sultan Muhammad membentengi Turki, sehingga orang Eropa jika mau ke Asia tidak bisa lewat daratan, tetapi di paksa lewat lautan. Tapi akhirnya mereka lolos juga ketika tahun 1511 berhasil menguasi Malaka dibawah pimpinan Alfonso d’ Albuquerque, yang kemudian dilawan balik oleh pasukan Kerajaan Demak waktu itu. Malaka jatuh ke tangan Portugis, Malaka dikunci oleh Portugis. Nusantara yang waktu itu kerajaannya Demak dan teman-temannya, karena tidak diberi akses keluar, dipaksa menjadi negara daratan setelah sekian ribu tahun menjadi negaran maritim. Itulah yang kemudian menyebabkan Demak bergeser ke pedalaman, Jipang, Pajang dan Mataram. Ratu laut utara digeser menjadi ratu laut selatan.”

Cak Luk menarik nafas sejenak. Mat Saripun, Bondan Wangi dan Bejo nampak antusias mendengar cerita sejarah yang baru kali ini di dengarnya. Melihat Cak Luk yang sepertinya mulutnya sudah kering ingin minum sambil menikmati rokok. Bibir atasnya digigit oleh bibir bawahnya sambil menatap Bondan Wangi danMat Saripun dua orang juniornya. Melihat hal itu, Bejo pun melanjutkan cerita Cak Luk.

“Kemudian mereka melakukan modus operandi baru, dengan mendesain model Islam untuk perebutan minyak di Timur Tengah, namanya Islam Wahabi. Wahabi di desain khusus oleh kepentingan Amerika dan Inggris. Yang mendesain namanya Hampper Alenbi dan Lauren, memaksa Muhammad Bin Abdul Wahhab membuat Islam model baru. Maka Muhammad bin Abdul Wahhab membuat kitab Kasyfu Shubhatil Kholiqil Ardhi Was Samawat, yang isinya takhayyul, bid’ah dan khurafat. Dimana bukaanya, Khairul umuuri ausaatuha wa sarrul umuuri muqdasatuha wa kulla muqdasatin bid’ah wa kulla bid’atin dlolalah wa kulla dlolalatin finnar. Dan Islam model baru tersebut sukses. Islam model baru ditancapkan sekaligus kekuatan ekonominya. Dan Islam Walisongo tersebut menolak atas Islam model baru tersebut. Jadilah kemudian NU dipinggirkan, sampai hari ini. Bahkan ketika orang NU merasa punya presiden bernama KH Abdurrahman Wahid, tumbang dalam dua tahun. Kalau waktu itu, misalnya, NU mengikuti agenda Wahabi internasional kemudian di dalam negeri menjadi guru, imbas dari Politik Etis belanda yang disepakti oleh Ratu Wilhelmina setelah disodorkan oleh Van De Venter sebagai anggota Kostrad, mungkin ceritanya jadi lain. Mungkin kalau mengadakan pertemuan di hotel-hotel mewah bintang lima, seperti mereka-mereka itu.” Jelas Bejo panjang lebar.

Kini Mat Saripun dan Bondan Wangi mulai faham mengapa wajah Islam di Indonesia bercorak tradisional seperti ini. Kini mereka tambah mantap dengan penjelasan dua seniornya. Terasa lega, Cak Luk pun melanjutkan obrolan sejarah di pinggir warung angkringan itu.

“Semua yang paling lantang teriak tentang Islam, takhayyul, bid’ah dan khurafat ini semua dulu sekolahnya ada di pakistan, yang rata-rata hampir 90% alumni University Of Pesyawar. Sekolahan ini yang membikin adalah Amerika Serikat.”

Suasana malam itu semakin hangat dengan suasana kota purworejo yang ramai permainan anak-anak. Mulai dari becak hias, bendi, mobil-mobilan sampai kereta mini selalu menghiasi malam yang penuh makna itu. Pohon-pohon yang mengelilingi alun-alun kota semakin menentramkan hati dengan belaian angin malam yang semribit.

“Lalu, keepentingannya apa Amerika kok berbuat seperti itu?” Sergah Mat Saripun. Nampaknya ia semakin penasaran. Begitu juga dengan Bondan Wangi. Cak Luk pun melanjutkan cerita ilmiahnya.

“Kepentingannya adalah mendidik kaum muslimin untuk menghadapi Soviet waktu itu yang ada di Afganistan. Dengan kepala sekolah yang sangat terkenal waktu itu bernama Abu Yusuf yang merupakan murid Taqiyyudin An-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir. Abu Yusuf ini adalah teman Gamal Al Banna adik dari Hasan Al-Banna yang memecah Ikawanul Muslimin menjadi pro-Amerika dan Anti-Amerika. Kemudian orang ini meramu cita-cita Ikhwanul Muslimin menjadi Jamaah Tarbiyyah. Dari jamaah tarbiah dirubah menjadi sel inti menjadi Hizbul ‘Adalah. Kemudian Hizbul ‘Adalah ini merembet ke Indonesia menjadi Partai Keadilan dan selanjutnya berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera.”

“Oooooo…seperti itu to urut-urutannya. Saya kira mereka ada begitu saja di Indonesia, ternyata memang selalu ada api dibalik asap” celetuk Mat Saripun.

“Ah, sok tahu kamu pun…tahumu ya paling asap rokok lintinganmu yang gede itu, haha” kelakar Bondan Wangi mengejek Saripun.

“Kenapa semua orang ini turun kesini hari ini?” Tanya Mat Saripun lagi. Kali ini giliran Bejo menjawab, membantu Cak Luk agar bernafas terlebih dahulu.

“Persoalannya cuma satu; setelah Soviet runtuh mereka tidak ada kerjaan. Amerika yang telah membuat Islam model baru di tanah Arab dan menguasai minyak, tiba-tiba dihadapkan pada persoalan dunia yang sangat pelik, dimana ia menghadapi banyak bangsa-bangsa yang tidak patuh kepada Amerika Serikat. Yaitu sebuah kekuatan baru yang bernama Shanghai Corporation.”

“Apa itu Shanghai Cooperation?” Tanya Bondan Wangi pada Bejo. Cak Luk dan Saripun tetap tenang mendengarkan, sambil sedikit menggigil dibelai angin malam.

“Shanghai Cooperation ini adalah blok ekonomi diluar United Kingdom dan United States.” Jawab Bejo sambil mengepulkan asap rokoknya.

“Minumnya minta di jok nggak mas?” tanya Mat Sidiq, sang penjual Angkringan. “Iya bos, teh manis dua, kopi hitam satu dan teh susu satu” jawab Bondan Wangi mewakili rekan-rekannya. Para aktivis IPNU Purworejo ini memang sudah biasa nongkrong di Angkringan depan Polres Purworejo. Selain karena lokasinya strategis dan dekat dengan Base Camp IPNU, yang punya juga orang NU. Bahkan saking fanatiknya motor Mat Anduk ada stiker NU-nya. Pernah suatu saat ditanya Bejo tentang stiker NU-nya, ia menjawab: “Saya itu pede dan bangga jadi warga NU mas. Kadang orang  banyak yang tidak pede menjadi NU. Untuk menyatakan kebanggaannya saya tempellah stiker NU di motor” jawab Mat Sidiq.

Tak lama kemudian minuman tambahan diantarkan. Nampak gelas kosong diganti dengan gelas yang berisi minuman baru. Rokok Pro Mild kesukaan Bejo, Sampoerna Hijau kesukaan Cak Luk, Class Mild kesukaan Bondan Wangi dan 76 Filter kesukaan Mat Saripun tercecer diatas tikar yang mereka duduki. Sesekali keempat cowok itu istirahat sambil makan gorengan atau kacang untuk sekadar rehat atas diskusi berat ini. Mat Saripun dan Bondan Wangi menunduk sambil mengerutkan keningnya. Tangan kanan keduanya berada di kening menandakan mereka sedang memahami atau mencerna apa yang baru mereka dengar.

“Lalu, kenapa negara-negara itu tidak bisa diatur Amerika?”tanya Saripun.

Cak Luk melempar muka ke arah Bejo dengan sorot mata tajam. Bejo paham kondisi ini karena sejak tahun 2000 berteman dengan Cak Luk. Bejo melanjutkan.

“Karena sumber minyaknya tidak berasal dari negara Wahabi. Maka dari itu Amerika melancarkan serangan-serangan ke negara-negara diluar Wahabi. Agar apa? Agar bisa mengontrol negara-negara ini yang berada dalam kelompok Shanghai Corporation. Maka negara-negara Sunni dan Syiah dihajar dimana-mana, Irak dihajar, Iran dihajar. ”

“Lalu apa ketakutan Amerika?” Tanya Bondan wangi sambil mengelus-elus hidungnya yang tak mancung.

“Ketakutan Amerika adalah setiap kali kekurangan dana, Amerika mengeluarkan obligasi dan yang membeli selalu negara-negara dalam Shanghai Corporation; ada Cina, Korea, Jepang, dan Soviet. Agar obligasi tidak dikembalikan ketika Amerika dalam posisi terjepit, maka sumber-sumber minyak negara-negara ini harus diputus. Maka negara-negara Sunni harus dihajar.  Sunni terbesar di dunia adalah di Indonesia yang bernama Nahdlatul Ulama. Maka operasi itu di tekan kesini dalam rangka penghancuran sunni terakhir di Indonesia. NU inilah Islam Sunni yang dulu menggagalkan finishing-nya Amerika di Tanah Arab untuk membongkar Makam Rasulullah SAW. Islam yang dari Hizbul ‘Adalah yang turun ke Indonesia ini membuat kavling dan kekuatan baru. Islam Indonesia yang sudah dikavling NU dan sebagian Muhammadiyah ini, mesti dipecah konsolidasinya untuk dibuat kavling baru.” jawab Bejo panjang lebar.

Ia menyeruput minuman di depannya sejenak. Rokok tinggal sisa tiga batang. Ia menyulutnya untuk menahan mata yang harus melek diluar adat-istiadat kebanyakan orang. Bejo mencontohkan.

“Satu contoh ketika Indonesia di suruh teken kontrak Anti Terorisme Internasionalnya Amerika, Indonesia tidak mau karena tidak ada bukti bahwa di Indonesia ada terorisnya. Tiba-tiba bom Bali medak.?

“Siapa pelakunya sebenarnya siapa itu? Apa Backrounnya?”sergah Mat Saripun penasaran. Kali ini Cak Luk menyambung.

“Namanya Amrozi, Imam Samudra dan kawan-kawan. Amrozi adalah adiknya Mukhlas. Mukhlas pernah dibawa tahun 1981, ketika geger anti azas tunggal Pancasila. Beberapa kelompok dihajar oleh Pak Harto dan sebagian lari. Komandan yang melarikan diri itu bernama Abdullah Sungkar, yaitu panglima DI-TII Jateng-DIY. Dia dibawa oleh Soeripto, orang sosialis yang ikut Beni Moerdani. Dibawa lari ke Malaysia sampai ke Afganistan. Abdullah Sungkar membawa muridnya bernama Abu Bakar Ba’asyir. Abu Bakar Ba’asyir membawa Muridnya bernama Mukhlas. Mukhlas membawa adiknya bernama Amrozi. Amrozi membawa adiknya bernama Ali Imron.”

Cak Luk tampak kehabisan air liur. Ia meminum sejenak. Ketika ia mau melanjutkan, Bejo sudah terlamjur menyambungnya.

“Soeripto kemudian mendesain Islam di Indonesia dengan membawa Hizbul ‘Adalah Afganistan ke Indonesia di tumpangkan kepada Kapita Selekta-nya M. Natsir dengan usroh-nya di Bandung, digabungkan dengan Jamaah Tarbiyah dan digabungkan dengan murid-murid Abdullah Bin Baz Wahabi di tanah Arab, kemudian digabung dengan SDI-TII yang tokohnya Anis Matta dkk kemudian menjadi sebuah kekuatan baru bernma Hizbul ‘Adalah, Partai Keadilan (Partai Keadilan Sejahtera)” jelas Bejo. Cak Luk melanjutkan pembicaraan hangat ini dengan menasehati kedua juniornya.

“Maka saya selalu mewanti-wanti kepada kamu sekalian selaku bocah NU, se-salah-salahnya dalam politik jangan sampai ke PKS, karena kalau yang lain masalah politik, untuk yang satu ini masalah akidah. Karena agendanya jelas, pengapusan Sunni atau NU di Indonesia” pesan Cak Luk. “PKS itu punya banyak kaki, dan banyak di Indonesia yang tidak saling mengenal satu sama lainnya. Ada kakinya bernama Jamaah Tabligh, Salafi, Salafi Haroki, ditataran kampus ada Kammi dan ada juga Hizbut Tharir. Mereka satu dengan lainnya kadang kurang mengenal, namun intinya sama. Ibaratnya mereka satu kampus cuma beda fakultas.” jelasnya.

* * *

“Kenapa di Qanun Asasi NU diberi koridor: La Islama Illa Bil Jamaah, Wala Jamaata Illa Bi Imarah, Wala Imarota Illa Bit Tho’ah, Wala Tho’ata Illa Bi Tha’atillah? Kenapa?” tanya Bondan Wangi yang juga alumnus pesantren ini. Bejo tak sabar menjawab.

“Karena waktu itu di Arab, tempat Rasulullah lahir, sedang ada konsolidasi yang masiv terkait modus operandi baru Islam Wahabi. Kitab utama Wahabi adalah Kasyfu Subhatil Khaliqil Ardhi was Samawat, yang nulis namanya Muhammad Bin Abdul Wahhab. Muhammad Bin Abdul Wahhab sendiri dihantam oleh kakaknya bernama Sayyid Sulaiman dengan menulis kitab bernama Syadidal Barqi.”

“Apa tujuan Muhammad Bin Abdul Wahhab membuat kitab itu?” tanya Mat Saripun Penasaran sambil mengepulkan asap rolol berbentuk bundar-bundar.

“Tujuannya adalah Untuk memisahkan Arab dari Turki. Oleh karena ketika itu kekuatan Islam terkonsolidasi di Turki. Islam di Arab di kuasai turki dengan gubernur Ali Basya. Kalau masih dikuasi Turki, Minyak Arab tidak bisa diambil. Maka Islam di Arab di Provokasi agar lepas dari Turki. Provokasinya apa? Dengan mengatakan bahwa Islam di Arab waktu itu sudah banyak bid’ah, takhayyul dan khurafat.”

“Bid’ah itu apa to?”Tanya Saripun. Kali ini Cak Luk menjawab.

“Bidah yaitu memperbarui sesuatu yang tidak ada dan tidak dilaksanakan oleh rasulullah. Kalau takhayyul mempercayai sesuatu diluar Allah. Khurafat, meyakini sesuatu diluar Allah.”

“Terus?” ceplos Bondan Wangi.

“Akhirnya dengan provokasi itu Arab mau mengikuti Ajaran Wahabi dan ingin kembali ke Islamnya Rasulullah. Begitu kembali ke Islamnya Rasulullah, eksistensinya berubah. Imamnya bukan lagi orang Turki tapi orang Arab. Kemudian Turki yang sedang menghadapi konflik dengan Ibnu Sa’ud yang dibantu Amerika dan Inggris dan difasilitasi gubernur Quait, akhirnya benar-benar bisa memisahkan Arab dari Turki. Semenjak itu, Ziarah Kubur dipersoalkan, Shalawat dipersoalkan, Thariqah dipersoalkan, Jenggot dipersoalkan, Qunut Dipersoalkan, semua dipersoalkan.”

Bejo yang rokoknya sudah tinggal dua cm melanjutkan.

“Ketika berpisah dari Turki, Arab mulai membangun ekonominya. Dengan bantuan Amerika dan Inggris, akhirnya dibangunlah Aramco, sebuah kilang minyak pertama di Timur Tengah untuk mengeksplorasi kekayaan bumi Arab. Sampai kemudian terjadi gejolak di tanah Arab dan meledak penguasaan atas Ka’bahyang dipimpin oleh Juhaiman Ibnu Muhammad Ibnu Saif al-Otaibi  pada 20 November 1979.” Terang Bejo.

[Tulisan ini masih dalam tahap penyempurnaan]

Iklan

One thought on “Nahdlatul Ulama Adalah…

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: