Aku Terima

“Kamu pernah, punya pacar?” pertanyamu padaku, suatu ketika, di sore itu. Pertanyaan yang untuk pertama kalinya keluar dari mulut seorang cewek. Cewek yang baru pertama kali ini aku bertemu, setelah sekian tahun terpisah oleh ruang dan waktu. Cewek itu tepat dihadapanku. Aku bahagia, meski dalam hati kecil bertanya: pertanyaan itu untuk apa? Tapi, sudahlah, itu tak terlalu penting. Yang penting cewek manis nan cerdas itu respeck padaku. Mungkin dia nyaman denganku semenjak beberapa jam betemu. Akupun begitu nyaman dekat dengannya. “Semoga saja, cewek itu akan semakin dekat padaku, dan kemudian bisa menjadi kekasihku” bisikku dalam diam.

Aku kemudian bercerita tentang tiga kisah asmaraku, semenjak duduk di sekolah. Ia Nampak menyimak dengan seksama. Kerling matanya tajam menatap mataku, sampai jauh ke relung hatiku. Senyumnya mempesona, menjadikan aku menemukan dirinya dalam diriku. Kata-kata dalam pertanyaannya lugas, renyah. Obrolan di depan sepasang cangkir kopi itu mengalir deras, sampai tak terasa senja tiba.

Kami berdua kemudian menuju halte yang disesaki penumpang. Maklum, hari libur. Kami antre dengan sabar. Ia sesekali bermain dengan anak kecil disampingnya, mencandanya, memberi permen dan memanfaatkan keluguan anak-anak. Ibu si anak Nampak senang. Pun aku demikian, membuat imajinasi yang entah melayang-layang. Ada sejuta kedamaian. Waktu bus datang, tiba-tiba ia berdiri kedepan, dan secara reflek menarik tanganku. Aku begitu grogi. Sekali itu seumur hidup tanganku diraih dengan penuh kasih oleh seorang wanita. Ada perasaan gemuruh dalam dada. Ada sebuah momentum yang takkan terlupa.

Kami menuju sebuah warung makan. Kutawarkan makan untuknya, namun tak mau. Ia ingin makan denganku: sepiring berdua. Secara sadar kutolak, meski itu menguntungkan dan kuharapkan. Persoalannya sederhana: bertoleransi kepada para pelanggan lain yang ada. Ia mau. Kami makan secara berhadap-hadapan. Bercerita. Bercanda.

Sampai saatnya berpisah, tanpa kuduga ia tak mau kuantar. Ia berkata: “aku ini sudah dewasa”. Aku tak bisa memaksa. Kami pulang sendiri-sendiri. Bertambahlah kecamuk rasaku dalam dada. Kami beda arah pulang. Ia menyeberang jalan. Itulah saat-saat yang paling menggetarkan. Ada kekhawatiran dan beratnya sebuah perpisahan. Dia berpamit via bbm; perpisahan diam yang mengharukan.

Esok harinya, dan hari-hari berikutnya, ia banyak mengirim kepadaku tulisan. Aku merasa semakin dekat dengannya secara perlahan. Hari-hariku penuh warna. Aku seperti mengenalnya sebelum aku bertemu untuk pertama kali dengannya.

Suatu ketika, sekitar seminggu semenjak pertemuan itu, aku menyatakan cinta kepadanya. Aku mau kita hidup bersama. Ia menolak. Alasannya sederhana: ingin mendekat tuhan dan melanjutkan sekolah. Ada lagi alasan: katanya, aku jatuh cinta pada orang yang salah. Aku terima, meski hasrat berkecamuk dalam dada. Aku terima, karena aku sadar siapa diriku dan siapa dirinya. Aku terima, karena cinta memang tak bisa dipaksa.

Dari hari ke hari, bulan ke bulan, kenangan bersamanya selalu memesrai perjalananku. Aku berusaha wajar, normal, seperti sebelum aku menyatakan cinta kepadanya. Aku berpasarah: jika memang dia ditakdirkan untukku, tentu tuhan punya banyak cara untuk menyatukannya denganku. Seandainya pun tidak, adalah sebuah pengalaman yang berharga, aku bisa mengenal dirinya: sosok wanita yang penuh misteri dan mengajariku sejuta makna.

Semarang, 18 November 2015 – 01:55 WIB

Iklan

4 thoughts on “Aku Terima

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: