Tentang Hidayah (Rekaman Diskusi II)

Inilah diskusi keduaku dengan seorang cewek dari Bandung, cukup radiks dan memusingkan.

 

“Tak ada sehelai daunpun yang jatuh tanpa izin Allah. Benar begitukan, mas?”

“Allah sendiri yang menginformasikan dalam Al-Quran begitu”

“Lalu apakah semua yang Allah izinkan juga Allah ridhoi?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa Allah izinkan yang tidak Allah ridhoi?”

“(Mungkin)Karena Allah ‘demokratis; Dia membebaskan dan mengizinkan manusia memilih kafir atau islam; dengan konsekuensi masing-masing”

“Adakah syarat untuk datangnya sebuah hidayah?”

“Itu hak prerogatif Allah; yang bahkan baginda nabipun tidak memiliki…”

“Bagi siapa hak perogratif Allah itu berlaku, mas? Bukankah Allah itu Maha adil dan bijaksana?”

“Bagi siapa saja yang Allah kehendaki. betul: Maha Adil dan Bijaksana”

“Bagaimana dengan keberadaan taufik, mas?”

“taufik itu apa yang kita lakukan atau kehendaki sama dengan kehendak Allah”

“Aku masih belum mengerti dengan kedatangan sebuah ‘hidayah’ masJika hak perogratif Allah untuk memberikan hidayah berlaku bagi siapa saja yang Allah kehendaki, lalu bagaimana dengan mereka yang (maaf) belum beriman dan yang sidah beriman tapi belum mau shalat. Apa itu berarti mereka tidak Allah kehendaki untuk dapat hidayah?”

“Itulah makanya; itu hak prerogatif Allah. Kalau mengerti malah bingung sendiri nanti kamu, hehe. Itu spirit agar kita selalu berkhusnudzon kepada siapapun; termasuk Allah.”

“Lantas agar Allah menghendaki mereka dapat hidayah itu harus bagaimana?”

“Kan ada dakwah (islam). Ingat bagaimana cerita Sayyidina Umar?”

“Yupz”

“yaitulah, di dunia ini tak ada kebaikan mutlak; juga keburukan mutlak. Apa kamu tahu shalat kamu khusyuk atau diterima? Apa ibadahmu sudah menjamin kamu masuk syurga?”

“Jika Sayyidina Umar yang jadi contohnya untuk aku memahami pemikiranmu, lalu bagaimana dengan Sayyidina Hamzah, paman Rasul. Entah mengapa aku selalu berfikir bahwa datangnya hidayah itu tidak ‘ujug-ujug’ mas.”

“Apakah ada orang yang tahu apa bunyi hati Sayyidina Hamzah? apakah kurang bukti bahwa Hamzah cinta kepada nabi?”

“Kalau begitu bagaimana dg paman2 Rasul yang lain yang menentang Rasul dengan terang-terangan?”

“Apapun pemikiranmu; tak masalah. Tapi itu terserah Allah; bisa dengan ujug-ujug atau bahkan langsung seketika. Ya menentang. Apa pertanyaannya?”

“Apa mereka tidak mendapat hidayah Allah? Sehingga mereka dengan terang-terangan menentang Allah.”

“Siapa paman-paman itu?”

“Ayolah, mas, aku serius, jangan kau tes aku frown emotikon”

“Dalam al-Quran: Innallaha la tahdy man ahbabta; walakinnallaha yahdi man yasya’; Allah tidak memberikan hidayah kepada orang yang kamu cintai; tapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki. Terjemahan bebasnya kira2 begitu”

“Jadi, tidak adakah hukum kausalitas dalam turunnya hidayah?”

“Tidak ada(pakemnya).”

“Misalkan para ilmuwan yang mendapat hidayah melalui risetnya?”

“Tidak selalu: bisa iya bisa tidak. Terserah Allah. Bisa dengan kausalitas; bisa tidak. Kausalitas itu sendiri siapa yang menciptakan?”

“Menurutmu? smile emotikon”

“Jika Allah berkehendak, Ia akan menjadikan sebab menuju kehendak itu, dengan Kun Fayakun.”

“Jadi, apa hidayah bisa diusahakan? Eh, punten, mas, seblumnya, kalau saya mengganggu istirahat atau pekerjaan sampean”

“Hidayah itu bentuk pemberian; usaha itu cara. Beda konteksnya. Sedangkan orang mencari hidayah itulah hidayah. Nggak papa. Aku malah seneng ada teman diskusi. Belum ngantuk juga. grin emotikon”

“Meski pemberian tidak selmanya butuh alasan, tapi bukankah ada cara untuk mndapatkan sebuah pemberian, contoh sederhananya dengan meminta.”

“Kenapa dia harus meminta?”

“Itu contoh sederhananya bahwa untuk mndapatkan pemberian juga bisa diusahakan. Bukankah kita hidup di alam syari’at, mas, yang di dalamnya terdapat hukum kausalitas, tapi kenpa untuk urusan hidayah tidak bisa diusahakan?”

“Kalau tidak mengharap pemberian? mengapa pula harus meminta? Syariat itu hanya di level bawah: mengajak, tetapi tidak bisa memaksakan masuk apalagi memberi hidayah.”

“Siapakah orang-orang yang Allah kehendaki untuk mendapat hidayah itu, mas?”

“Siapapun, terserah Allah.”

“Apa salah mereka (yang tidak mndapat hidayah), sehingga mereka tidak Allah kehendaki untuk mendapat hidayah?”

“Mereka tidak salah. Itulah namanya takdir.”

“Bukankah taqdir juga bisa diuasahan, mas?”

“Memang, tapi namanya usaha tak sepenuhnya sukses. Bisa iya bisa tidak.”

“Terlepas dari berhasil atau tidaknya berarti hidayah bisa diusahakan? smile emotikon”

“Iya: bisanya manusia usaha, keputusannya ditangan Allah. Dan kalau seseorang masuk Islam misalnya, itu bukan karena usaha tadi. Misal, karena arahanmu temanmu masuk islam. itu bukan karena kamu; kamu hanya perantara. Allah yang memberi hidayah.”

Semarang, Ahad: 29 November 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: