Catatan Kongres IPNU XVIII

Sebagai seorang kader IPNU, saya bangga sekaligus menanggung beban ketika diamanati rekan-rekan IPNU Jawa Tengah untuk menjadi Ketua Panitia Daerah Kongres IPNU XVIII di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, 4-8 Desember 2015. Namun, kata kyaiku, amanat itu jangan dicari, namun jika diberi jangan lari. Aku menyetujui.

Surat Keputusan PP IPNU telah diposting, H-1,5 bulan. Pasca itu juga belum ada tindak lanjut yang signifikan. Praktis, persiapan efektif hanyalah sebulan. Pengurus PW IPNU Jawa Tengah dikumpulkan; dibentuklah kepanitiaan kecil. Aktivitas kepanitiaan pun berjalan seadanya, sampai PP IPNU turun ke Jawa Tengah meng-clearkan konsep acara.

Dengan berbagai keterbatasan personil dan tupoksi, kami panitia daerah berjalan seadanya.  Sibuk komunikasi dan konsolidasi ke berbagai tokoh dan alumni. Tak lupa, juga ke birokrasi menyiapkan pelbagai kebutuhan fisik dan non-fisik seperti perijinan dan lain-lain. Semua personil, yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari itu, bekerja penuh semangat. Jam untuk tidurpun amat singkat.

Kadang terjadi cek-cok hal-hal sepele. Kadang larut tertawa bersama dalam secangkir kopi di pojok gedung hijau muda di Jl Dr Cipto No 180 Semarang. Susah-senang bersama. Lapar kenyang bersama. Sampai tibalah hari itu, hari yang sedikit banyak akan menentukan nasib pelajar NU kedepan.

-oOo-

Hari itu adalah 5 Desember 2015. Hari yang menentukan, dimana pembukaan Kongres IPNU XVIII akan dilangsungkan. Semenjak dua-tiga hari sebelumnya, ponsel saya tak henti berdering. Ada telpon panitia atau pihak terkait yang berkoordinasi. Ada pula peserta yang saking semangatnya hampir sampai dilokasi, seperti 30 personil dari Kalimantan Barat dan 70 dari Sulawesi Selatan. Mereka saya arahkan ke Kantor PWNU di Semarang, sedangkan satunya lagi ngecamp di NU Center Boyolali. Juga, banyak lagi kader luar Jawa yang datang sebelum Asrama Haji dibuka, dan kami tak mau menelantarkan mereka.

Juga, malam H-1, yang oleh karena kesalahan saya tidak menghadirkan grup tari ke Gladi Kotor, saya sempat di damprat oleh panitia pusat, di depan umum. Saya hanya diam dan menginsyafi. Itu saya ingat sebagai bagian dari resiko tanggungjawab dan janji yang kuingkari. Banyak pelajaran dari peristiwa kecil itu.

Semua peserta dari berbagai penjuru Nusantara telah berdatangan sehari sebelumnya dan mendapatkan kamar. Pagi ini, mereka telah dandan rapi untuk menghadiri upacara pembukaan di Gedung Muzdalifah. Satu persatu, dari grup shalawat, tarian, sambutan serta pemukulan gong oleh Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin berjalan mulus. Hampir tak ada satupun aral yang melintang. Pembukaan sukses. Ucapan selamat mengalir dari berbagai Pimpinan Wilayah dan alumni. Kami panitia lega, sangat-sangat lega. Bagi kami, pembukaan sukses adalah 5o% sukses, oleh karena pembukaan dihadiri tamu-tamu kenegaraan.

Di sebelah timur, tepatnya Gedung Jeddah kemudian berdiri Panggung Apresiasi untuk kader IPNU-IPPNU. Gedung ini akhirnya bisa kami pakai setelah secara alot, dua hari, berebut dengan panitia nasional IPPNU yang akan menjadikannya tempat Sidang Pleno. Selama 4 hari kemudian, tempat ini ramai oleh musik akustik dari IPNU Band Purworejo yang menghibur peserta kongres dengan lagu-lagu kesukaan anak muda. Panggung musik ini menjadi alat pencair dari kebekuan dan ketegangan kongres.

Oh iya, gedung ini memiliki dua lantai. Sementara bagian bawah dipakai panggung apresiasi, bagian atas kosong. Selanjutnya, atas keputusan pribadi, saya serahkan kamar atau ruang kosong gedung atas itu untuk peserta penggembira atau rombongan liar (romli) yang banyak tercecer dan tidur sembarangan. Mereka tak kebagian penginapan yang sudah ditiduri peserta resmi. Meski seadanya, minimal ruang-ruang itu bisa dijadikan pelindung dari hujan yang beberapa malam mengguyur venue.

Sebelah selatannya, ada puluhan stand bazar yang berderet manis berisi pelbagai dagangan mulai dari pakaian, pernak-pernik sampai makanan. Bazar ini sengaja panitia hadirkan untuk memeriahkan acara Kongres. Nyata, bahwa pada bazar kali ini lebih ramai daripada bazar Kongres Ansor di Jogjakarta beberapa waktu lalu. Saya sedikit berbangga. Tidak bisa dibayangkan bagaimana rasanya berkongres jika hanya sidang-sidang dan seminar.

Perlengkapan, konsumsi, akomodasi, saya cek semua: terpenuhi. Hanya beberapa hal yang kecil-kecil masih butuh penyelesaian. Itu bisa ditangani hanya dengan memencet ponsel dan berkoordinasi. Saya bersyukur, kader IPNU sigap dan mungkin berbangga jika diikusertakan membantu dalam kongres ini.

Acara demi acara pun secara umum berjalan lancar. Hanya saja ketika sidang pleno pengesahan sempat ricuh sedikit.

Saya sendiri tidak banyak masuk di forum, hanya beberapa kali, utamanya ketika “genting”. Pertama ketika IPNU se-Pulau Jawa ribut menentukan pimpinan sidang. Saya masuk dan menjadi juru lobi dari Jawa Tengah: berhasil. Satu pimpinan sidang dari Jawa Tengah maju ke jajaran presidium sidang. Setelah tiga menit lobi dan berhasil itu, saya kembali keluar.

Kedua, ketika ribut komisi A soal umur. IPNU Jawa Timur keukeuh mempertahankan hasil Muktamar PBNU: 27 tahun. Sementara kebanyakan luar Jawa belum siap. Saya merasionalisasikan untuk tetap 29, didukung dan diterima utusan-utusan PW IPNU yang menjadi juru lobi di kanan panggung depan. Jawa Timur  dan beberapa pendukungnya yang pro-29 tak bisa lagi berkata. Setelah tiga menitan mengatasi hal pelik itu, saya kembali keluar.

Ketiga, saat sidang pleno pengesahan umur 29 hasil komisi A yang menuai resistensi dari peserta kongres. Karena hal ini, peserta sempat ricuh dan lempar-lemparan kursi. Sidang ditunda. Juru damai dari PBNU dihadirkan di forum. Saya tak mengenal orang itu. Dalam sambutannya yang hening, ia hanya meminta peserta damai tidak terprovokasi dan meminta menaati keputusan umur hasil Muktamar: 27 tahun. Utusan PBNU dan SC meminta semua peserta berjabat tangan. Saya tidak mengerti apa maksud dari jabat tangan tersebut; mungkin psiko-teraphy kelompok mereka untuk menunjukkan bahwa pro-27 menang; atau mungkin hanya sekadar meredam ketegangan.

Saya tetap memberi semangat kepada para pendukung 29, yang duduk di sebelah kiri forum, tidak mau berjabat tangan. Saya sendiri masih berkeyakinan, keputusan PBNU tidak mengikat kepada banom. Mana AD/ART NU yang mewajibkan banom menurut keputusan mereka? Tidak ada! Kalu dalihnya adalah perapian umur, kenapa tidak diberlakukan dalam Kongres Fatayat NU? Sebagai tambahan, PBNU menetapkan batas umur fatayat NU adalah 40 tahun, namun fakta berkata bahwa ketua umumnya berumur lebih dari itu. Dan PBNU diam saja. Hal inilah yang membuatku curiga fatwa “politis” PBNU di malam itu kepada seluruh peserta.

Setelah ditunda hampir 10 jam, sidang dilanjutkan. Oleh rekan-rekan dari luar Jawa dan beberapa dari Jawa yang pro-29 saya kembali ditunjuk menjadi juru loby. Sayang, kali ini saya sedikit menanggung malu karena tak bisa berhasil memperjuangkan apa mereka inginkan: 29 tahun. Padahal jika saya dalam lobi keukeuh 29, saya yakin hasil umur 27 tidak akan ditetapkan. Oleh karena ratusan “pasukan” dibelakang saya dari berbagai wilayah utamanya luar Jawa, juga masih dalam on fire untuk setiap saat mendukung dan mempertahankan, dengan cara apapun.

Saya memakai kaidah, dar’ul mafaasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih; mencegah keburukan itu diutamakan daripada mengambil suatu kebaikan. Jika saya keukeuh, hampir pasti perang terbuka seperti diawal akan terjadi: saling lempar kursi. Juga, sidang yang sudah sedemikian molor tak akan selesai-selesai; padahal tempat, konsumsi dan semua berbayar. Mending kami legowo dalam lobi untuk mengalah: 27 tahun.

Saya tahu dan sadar bahwa keputusan lobi saya di depan ini akan membuat tepuk tangan riuh peserta kongres bagian kanan; dan membuat terluka ratusan peserta kongres sebelah kiri. Namun, sebagai juru lobi, saya harus memberi keputusan; dan keputusan saya dituntut untuk menghasilkan yang lebih mashlahat; keluar dari sekat kelompok dan kepentingan politis peserta kongres yang sudah terpolarisasi menjadi dua kubu. Saya memutuskan, dan saya siap dengan resiko. Ini keputusan penting bagi diri saya, dalam hidup saya yang mewakili banyak orang. Saya tak terpengaruh sama sekali, apalagi takut dengan PBNU. Namun semata-mata menyelamatkan kongres dari deadlock dan kekosongan pimpinan.

Sebagai catatan, saya pernah dua kali “melawan” argumen pengurus PBNU dalam suatu forum, terlepas benar dan salahnya. Pertama adalah KH Masdar F. Mas’udi dan Prof Dr Maksoem Mahfudz. Ini prinsip dan keyakinan saya dalam berislam; bahwa kita anak muda boleh berbeda pemikiran, gagasan dan bahkan tindakan dengan orang tua. Yang tidak boleh adalah tidak menghormatinya. Intinya, saya ingin mengatakan bahwa dengan siapapun saya sudah terbiasa sepakat untuk tidak sepakat.

Semenjak keputusan itu, Alhamdulillah Kongres berjalan tertib, karena “pengarahan subyektif” dari utusan PBNU itu memang tak akan efektif jika jika umur tetap dipaksakan. Hanya seperti obat tidur yang melelapkan sejenak. Kubu 27 merasa diri mereka menang, dan memang benar-benar menang. Saya sadari itu, oleh karena bagi saya hidup tak sekadar menang-kalah, namun juga baik-buruk dan benar-salah. Sampai akhirnya, kongres menghasilkan pimimpin baru, seorang yang kuketahui beberapa hari sebelum buku LPJ PP IPNU 2012-2015 dicetak dan disebar sudah didukung oleh beberapa cabang Jawa Barat yang menyatakan menerima LPJ itu. Dukungan dan penerimaan LPJ dirilis terbuka di NU Online, jauh sebelum kongres digelar.

Kini acara telah selesai, dan secara beban kepanitian, secara umum tertunai. Saya lega, sangat-sangat lega. Soal ada beberapa ketidakpuasan dari peserta Kongres, itu hal yang wajar. Tak mungkin kami – yang sekali lagi – jumlah personil panitia lokal bisa dihitung jari(mugkin karena efek pilkada serentak?), mampu memuaskan ribuan kader dari seluruh Indonesia.

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Tharieq

Kantor PW IPNU Jawa Tengah –  Semarang, 11 Desember 2015

Iklan

4 thoughts on “Catatan Kongres IPNU XVIII

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: