Membandingkan Manusia

Perbandingan atau memperbandingkan, menurutut saya, harus berangkat dari hal yang sama. Jika tidak, tak pantas dan atau hanya akan sia-sia membandingkannya.
Dua atau lebih motor dengan merek sama, keluaran tahun 2014, boleh saling dibandingkan: manakah yang lebih baik, misalnya. Pastinya, salahsatu dari keduanya akan ada yang lebih baik. Inilah perbandingan yang wajar, namun sesungguhnya tidak adil. Mengapa? karena kita hanya melihat baik-buruknya setelah setahun terpakai; tak melihat masing-masing motor tersebut seberapa jauh berkelana, kemana saja dan berapa kali di servis.
Pun demikian dengan manusia. Manusia, beda dengan motor, berasal dari satu bahan yang sama: sperma. Kesamaan disinipun saya paksakan, karena pada faktanya, baik ulama maupun ilmuwan banyak yang mengatakan kelas dan kualitas gen orang berbeda-beda. Itu juga yang kemudian menjadikan manusia berbeda rupa, bentuk dan warna.
Pasca lahir ke dunia, bayi mengalami pertumbuhan, dialektika dengan keadaan dan lingkungan yang sudah pasti berbeda-beda. Apa yang mereka dapatkan, baik pengalaman maupun pengetahuan, beda satu dengan lainnya.
Sampai pada bangku sekolah, dari keberbedaan latar belakang tersebut, mereka diberikan kesamaan mata pelajaran. Lalu secara periodik dinilai dan diperbandingakan: mana yang paling unggul dan cerdas.
Perbandingan tersebut, hemat saya, kurang tepat. Termasuk penilaian-penilaian secara sepihak, tentang sosok sesorang dimuka kehidupan umum. Dalam obrolan arisan, perkumpulan, organisasi, misalnya. Memperbandingkan satu dengan lainnya, sejatinya hanya akan sia-sia.
Manusia, meski hidup dalam dunia yang sama, namun pada faktanya memiliki dunia sendiri-sendiri. Artinya, di dunia ini, tak ada satupun orang yang mampuย menjadi orang lain. Karena berbeda kehidupannya itulah, sebenarnya, manusia tak bisa dibandingkan satu dengan lainnya.
Dalam memperbandingkan aspek agama seseorang, pun demikian. Tak akan bisa diperbandingkan satu dengan lainnya. Selain karena makna ibadah itu luas, sosio-kultural orang yang berbeda, juga karena agama tak hanya sekedar kuantitas dan matematis. Agama sangat dinamis dalam memberlakukan hukum bagi manusia.
Pada intinya, saya melihat manusia tak bisa dibandingkan satu dengan lainnya. Memperbandingkannya hanya akan mengurangi ataupun memenggal proses kehidupan salah-satu dari manusia itu.
Manusia memang berbeda, meski banyak kesamaan: ras, agama, hobi dan sebagainya. Untuk itu, karena beda, yang bijak adalah tidak membandingkannya, namum meletakkan dan memposisikannya sebagaimana tempatnya.
Semarang, 16 Desember 2015
di Ujung Subuh, dari insomnia yang menggelisahkan.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: