Setia atau Mati!?

(Sebuah prolog 5th Anniversary Jamaah Maiyah Purworejo dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW)

Itulah sepenggal kalimat yang disepakati untuk menjadi tema diskusi: “setia atau mati!”. Seberapa pentingkah setia, loyalitas dan komitmen dalam pelbagai dimensi di kehidupan ini? Bagaimanakah interpretasi dan aktualisasi “setia” itu dalam narasi politik, ekonomi, relasi sosio-kultural dan ideologi?

Sebelum menjawab itu, tentu para Jamaah Maiyah akan menginterpretasikan apa makna “setia” itu secara epistemologis? Apakah setia itu bersifat ideologis, metodologis atau hanya sebuah “instrumen” relasi-sosial manusia belaka.

Dalam Islam, setia memiliki landasan teologis, bahkan menempati kedudukan yang tinggi dan substansial, setelah “cinta”. Kalimat syahadat adalah “janji setia” manusia kepada tuhannya, untuk senantiasa menghamba, melayani, dan mengaktualisasikan diri sesuai dengan kaidah-kaidah dan petunjuk tuhan.

Qul in kuntum tuhibbunallaha fattabi’uni yuhbibkumullahu wayaghfir lakum dzunubakum (Q.S Ali Imran: 3:31). Katakanlah(Wahai Rasulullah): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah,ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.

Jika kita cinta Allah, maka “fattabi’uni” disana adalah konsekuensinya. Kita harus mengikuti dan mentaati Rasululllah terlebih dahulu. Barulah Allah pun akan mencintai kita. Karena konsekuensi cinta adalah kata kerja. Dan kata kerja yang dimaksud adalah taqwa. Maka cinta hendaknya melahirkan kekuatan untuk menjadikan kita bertaqwa, bersetia atas segala aturannya.

Allah pun melanjutkan dalam firmanNya: “Yuhbibkumullah Wayaghfirlakum zunubakum”, “Niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Ya, Setelah Allah memerintahkan pada kita untuk patuh, maka Allah pun menjanjikan kita dengan cinta dan ampunan-Nya. Maka disana kita melihat bahwa cinta juga melahirkan kesetiaan dan harapan.

Bagaimanakah konteks “kesetiaan kepada Nabi dianggap bersetia kepada Allah SWT.” dalam laku dan kehidupan sehari-hari? Kesetian pada jati diri sendiri. Kesetiaan pada ilmu. Kesetiaan pada pekerjaan dll.

Dalam relasi sosial, misalnya, mampukah kita bersetia? kesetiaan macam apakah yang ideal? Apakah hanya pada ranah prinsip, ideologi ataukah tertumpu pada sosok dan figur tertentu, seperti kesetiaan anjing kepada majikannya?

Dalam konteks politik kebangsaan-kekinian, “kesetiaan” seperti atau kepada sipakah yang ditampilkan Todung Mulia Lubis-Nursyahbani dkk yang telah melaporkan perkara HAM 65 ke “Mahkamah Internasional” di Den Haag, dan sidangnya berlangsung tanggal 10-14 November 2015. Kemengemis-ngemisan mereka meminta ruangan di sebuah gedung di Den Haag, kepada bekas penjajah yang sesudah 70 tahun masih enggan mengakui kedaulatan Indonesia secara de yure itu, untuk “mengadili” sesama bangsa sendiri, apakah itu bentuk dari ketidaksetiaan? (Lagi-lagi kita akan dan perlu berbicara konteks sejarah.)

Apakah kesetiaan bisa rusak, cacat dan bahkan gugur jika dikhianati? Ataukah kesetiaan itu fleksibel: bisa tak terbatas dan bisa jadi memiliki batas? Jika iya, lalu dimanakah batas-batas kesetiaan itu? Layakpunahkah manusia yang tak memiliki kesetiaan?

Kita cari jawabannya, dan jawaban-jawaban dari problematika “nilai” dan “idealitas” lain yang mengemuka, dalam Diskusi Rutin Wolulasan: Jamaah Maiyah Purworejo pada malam tanggal 1 Januari 2016, di Jl. Sibak No. 18 Purworejo Pkl 20.00 WIB – selesai, dengan iringan musik akustik dari IPNU Band dan puisi-puisi dari penyair kita Rekan Asrul Hadi yang baru pulang dari Makkah.

NB:
1. Terbuka untuk umum, tanpa membedakan kelas, pendidikan, status sosial dan agama.
2. Free/ Tanpa HTM (hanya “bantingan” grin emotikon )
3. Maulid Al-Barzanji, juga akan dibacakan sebelum diskusi, sebagai manifestasi rasa cinta kepada Nabi Muhammad yang ulang tahun di bulan Rabiul Awwal ini. Memperingati manusia cahaya yang setia mengawal umatnya, dari dunia hingga akhiratnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: