Di Tahun Kelahiranmu

KEMBALI membayangkan 17 tahun lalu, tepatnya 15 Desember 1998, adik perempuanku terlahir ke dunia untuk pertama kalinya. Ia menangis sejadi-jadinya, tanpa kerlingan air mata. Ia menangis terlahir ke dunia, yang kata guru-guru agama, menyesal berjanji sehidup-semati hanya untuk Allah semata; dan janji itu diuji ketika masuk gerbang dunia.

Bayi mungil itu kemudian diberi nama Naily Ulya Ulin Ni’mah, sesuai dengan perasaan kegembiraan sang Ibu yang mendapatkan limpahan nikmat seorang anak: generasi penerus.

Ulin, begitu kami memanggilnya, atau Naily kata teman-temannya, mungkin sampai kini belum tahu keadaan-sosial waktu yang melahirkannya.

Pada pertengahan 1998, ribuan mahasiswa berdemo menduduki gedung DPR/MPR. Mereka berteriak-teriank, membawa spanduk-spanduk kecaman yang belum aku mengerti. Kedatangan mereka yang bagai gelombang dengan memakai bus dan truk dihalau oleh Polisi dan ABRI.

Aku yang masih duduk di bangku SD, belum mengerti ada apa gerangan kejadian ini. Namun, sesuai tradisi nenekku yang hobi mononton berita, kuperhatikan dengan seksama berita para mahasiswa-mahasiswi gagah yang berani berhadapan dengan ABRI dan Polisi.

Yel-yel dan lagu-lagu kebangsaan digemakan. Sesekali kulihat mahasiswa memaki-maki siapa entah dengan kata: “fasis!”. Beberapa diantara mereka juga meludahi aparat yang membuat barikade. Berhari-hari. Para aparat juga menggunakan senapannya untuk menahan gelombang mahasiswa. Beberapa diantaranya tewas, itulah Tragedi Trisakti.

Sampai kemudian, beberapa orang tua menemui presiden, diantaranya Gus Dur dan Cak Nun, dua orang yang sudah kukenal. Gus Dur kukenal waktu itu karena sangat diidolakan oleh Pak Likku. Sedangkan Cak Nun kulihat sering diskusi soal Ilmu Tauhid di TVRI.

Mahasiswa jebol dan menduduki gedung DPR/ MPR. Mereka bertahan selama berhari-hari.

Pagi di pertengahan tahun itu, kulihat Pak Presiden mengumkan mengundurkan diri. Sontak, seluruh mahasiswa berteriak, berpesta pora, sujud syukur, bagai prajurit usai menang dari medan laga. Aku heran, mengapa mereka begitu senang?

Jawabannya baru kutemukan, bertahun-tahun kemudian. Itulah ternyata yang dinamakan revolusi. Pasca 32 tahun negara ini dipimpin otoritarianisme Orde Baru, ditumbangkan berganti jama Reformasi.

Kuketahui juga, teori-teori revolusi itu dari buku-buku Karl Max, buku yang dilarang semasa Orde Baru. Selain karena membahayakan pemerintah, buku tersebut juga dianggap virus karena melahirkan paham Komunisme/Sosialisme yang dialamatkan pada PKI yang juga dianggap Atheis/ anti tuhan.

Sampai kini, stigma komunis menjadi sepenuhnya buruk. Padahal, ada sisi ilmiah dari pemikiran Karl Max yang sesuai dengan Islam. Bahkan, dalam beberapa hal tertentu, paham sosialis dan komunis amat kompatibel dengan Islam: membebaskan ketertindasan.

Meski begitu, Menurut Dawam Raharjo, karena dalam sisi ideologi radikal dan cenderung Atheis, praktis sosialisme-komunisme tak bisa bergandengan dengan Islam.

“Islam dan komunisme-sosialisme merupakan sesuatu hal yang berbeda, tak bisa dibandingkan. Sosialisme-komunisme dipakai oleh beberapa tokoh Islam, yang tidak banyak menemukan teori revolusi dalam khazanah Islam. Keduanya hanya bisa ‘bertemu di jalan’, tak akan mungkin bersatu” katanya, dalam suatu Diskusi Islam dan Marxisme di Indonesia, beberapa tahun lalu.

Ulin, sekali lagi belum mengerti ini. Namun semoga suatu saat ia mengerti, agar pemikirannya lebih luas. Bahwa revolusi-revolusi besar di dunia, termasuk di Indonesia, tak lepas dari pengaruh Karl Max, Lenin dan Stalin.

Meski begitu, sebagai santri, tentunya ia tetap bisa berpikir dan bertindak proporsional. Bahwa Islam menjadi agama yang menyelaraskan dua ideologi besar: Kapitalisme dan Komunisme-sosialisme.

Islam, mengakui kepemilikan pribadi, tidak seperti komunisme-sosialisme dimana tanah dan sumber kekayaan dimiliki negara; dibagi secara komunal, sama rata- sama rasa. Meski begitu, ada hak si miskin bagi si kaya, dalam doktrin zakat, infaq dan sedekahnya. Juga, penegasan nabi bahwa Sumberdaya Alam, energi, (air, api, hutan) dikuasai negara untuk kemakmuran rakyatnya.

Islam berada ditengah antara kapitalisme dan komunisme-sosialisme. Meski begitu, idealitas konsep itu belum kita lihat sepenuhnya. Misalnya dalam bank syariah yang lebih cenderung kapitalis daripada sebuah instrumen kemakmuran dan keserjahteraan sosial. Ini bisa terlihat dari gerakan-gerakannya yang lebih semangat meningkatkan aset daripada muntuk kesejahteraan.

Paham dan ideologi diatas, mengiringi kelahiranmu di revolusi 1998, bahkan jauh sebelum itu: menggerakkan pemberontakan-pemberontakan di jaman perjuangan.

Di umurmu yang ke 17 ini, semoga semangat belajarmu di pesantren semakin giat; melahap semua khazanah islam dari yang klasik sampai kontemporer, sebelum keuperkenalkan berbagai wacana nakal dari luar.

Oh, iya, maaf sebelumnya, buku bacaan dan grammer bahasa inggris yang kau minta tempo hari belum aku kirim, namun sudah kupersiapkan. Beberapa waktu kedepan, aku akan menjengukmu, menanyakan perihal sampai dimana ngajimu, hafalanmu dan sekolahmu.

Selamat Ulang Tahun, semoga kamu selalu dalam naungan-Nya, dan bisa membawa perubahan untuk masyarakat, dengan ilmumu, kelak di hari-hari kemudian.

Semarang, 16 Desember 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: