Khusnudzon atau berprasangka baik, merupakan sikap hati yang direkomendasikan Islam. Hal itu, seakan kini sulit dilakukan, ditengah jaman modern yang serba curiga-mencurigai, tipu-menipu karena “hampir selalu” ada udang dibalik batu.

Bagaimanapun keadaan dan jamaannya, rekomendasi itu tetap berlaku, dan akan baik jika dilaksanakan.

Pertama, adalah berprasangka baik kepada Allah, sang pembolak-balik hati. Dalam Alquran, bahkan Allah menegaskan: “Ana fi dzanni ‘abdi, aku sesuai dengan prasangka hambaku. Artinya, jika kita berprasangka baik kepada Allah, Allah akan memberi kebaikan kepada hambanya. Pun sebaliknya, jika sang hamba berprasangka buruk kepada Allah, Allah akan memberi keburukan kepada hamba.

Kedua, adalah berprasangka baik kepada sesama-manusia. Prasangka baik ini diperlukan, mengingat ada hal-hal yang manusia tak mengerti satu sama lain. Hal ini tergantung cara pandang, jarak pandang dan bagaimana memandang.

Meminjam permisalan Imam Al-Ghazali soal memandang bintang, mungkin akan sedikit membantu. Pertama, pandangan anak kecil yang melihat bintang dan ia mengatakan bahwa bintang itu kecil. Kedua, pandangan orang dewasa yang mengatakan bintang itu sejatinya besar, meskipun terlihat kecil. Ketiga, orang arif yang mengatakan bahwa bintang itu kecil, karena di depan Allah, semesta ini kecil.

Dari contoh diatas, tentu bisa kita lihat bagaimana satu objek memiliki tafsir sendiri, yang dalam kapasitas, level dan ilmu masing-masing, bisa dibenarkan.

Kemudian, dalam konteks khusnudzon kepada orang, kita juga tak tahu sepenuhnya, apalagi sejatinya, seperti permisalan Imam Al-Ghazali diatas. Oleh karena apa yang dilakukan manusia, selain yang terlihat, juga ada di pikiran dan hatinya.

Selain itu, tingkat keyakinan juga berlapis: udzunul yaqin, ‘ainul yaqin dan haqqul yaqin. Udzunul yaqin adalah keyakinan yang kita peroleh dari pendengaran kita dari orang yang bisa saja terpercaya bisa saja tidak. Adapun Ainul Yaqin adalah keyakinan kita yang sudah menyaksikan atau mengalami langsung: empirik. Kemudian, Haqqul Yakin, adalah keyakinan atau kebenaran yang sejati: kebenaran Tuhan. Keberaran yang benar-benar benar.

Misalnya, kita melihat orang yang mengorek-orek sampah, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa orang itu adalah pemulung. Bisa jadi orang yang sedang mencari barangnya yang hilang, atau mencari sesuatu dari sampah itu. Tentang apa maksud orang itu, kita tidak tahu sebelum menanyakan langsung kepada orangnya.

Lagi, misalnya kita melihat orang berlari terburu-buru di pasar, kita tidak bisa langsung men-jugde bahwa orang itu adalah jambret. Bisa jadi ia dikerjar waktu, kebelet buang hajat atau menyelamatkan sesuatu, atau yang lainnya. Kita tidak tahu sepenuhnya sebelum menanyakannya.

Pun dalam kita beragama, karena pakaian, status sosial, atau perilaku lahiriyahnya misalnya, kita tidak bisa langsung mengukur tingkat kesalehan manusia. Juga kita tidak bisa men-judge “neraka!”, “kafir!”, atau “sesat!” kepada seseorang; oleh karena kehidupan terus berputar. Padahal, yang tahu hati dan masa-depan seseorang, hanyalah Allah semata.

Alkisah, suatu ketika datang seseorang kepada ulama sepuh Jawa Timur  yang terkenal memiliki karamah dan menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan Nabi Khidhir as. Lalu si ulama sepuh itu memerintahkan orang tersebut menemuinya di tengah sawah. Sampai pagi menjelang, tak ditemuinya sosok yang ia cari. Lalu kembali kepada sang ulama.

“ Kyai, semalaman saya menunggu di sawah tidak bertemu”

“benar kamu tidak melihat tak ada seorangpun?”

“Hanya ada satu petani di malam itu yang sedang mengairi sawah”

“Ya itulah nabi Khidzir as”

Lalu seseorang itu, minta ingin bertemu kembali, karena gagal. Sang ulama lalu menyuruhnya pergi ke sungai, namun sama: hanya melihat orang menjala ikan di malam itu. Iapun tak menemui sang penjala. Setelah kembali kepada sang kyai, sama jawabannya seperti yang lalu: itulah Nabi Khidhir. Terakhir, seseorang itu disuruh sang kyai ke stasiun kota. Dimalam itu, ia tak menemukan siapapun kecuali pelacur, sehingga ia tak menanyainya. Setelah kembali ke sang kyai, sang kyai berkata, bahwa itulah Nabi Khidzir as  yang menjelma sebagai pelacur.

Kisah diatas diceritakan oleh Habib Anis Sholeh Ba’asyin pada 25 Desember 2015 di Forum Gambang Syafaat, Selatan Masjid Agung Semarang. Terlepas sahih-tidaknya cerita tersebut, kita bisa mengambil pelajaran yang amat berharga: pentingnya berprasangka baik. Bahkan, kita bisa saksikan sendiri bagaimana artis-artis tanah air yang di akhir hidupnya bertaubat seletah tenggelam dalam dunia narkoba atau sex bebas. Artinya: hati dan masa depan seseorang tak ada yang tahu.

Khusnudzan atau berprasangka baik, memang tidaklah mudah, apalagi jaman yang serba cepat informasi ini. Namun, dengan latihan terus menerus, minimal kita akan bisa sedikit demi sedikit menjauh dari dampaknya, mendekat kepada anjuran baginda. Tentu, dengan senantiasa meminta petunjuk dari Yang Maha Kuasa.

 

Purworejo, 3 Januari 2016