KH Achmad Chalwani Nawawi merupakan Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, Mursyid Thariqah Qadiriyyah/ Naqsyabandiyyah, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo dan mantan DPD RI Provinsi Jawa Tengah. Dalam berbagai ceramah dan pengajian, beliau banyak berpesan kepada santri, warga nahdliyyin dan khususnya kader-kader muda NU. Berikut adalah 12 pesan yang sering beliau sampaikan dari berbagai pengajian.

Pertama, shalatlah berjamaah.

Jangan tinggalkan shalat berjamaah. “Al-Jama’atu ummu ar-riyadlah; shalat berjamaah itu induk segala lelaku, perihatin”. Selain pahalanya dilipatkan menjadi 27 derajat, shalat berjamaah akan menjadi perekat agar ilmu bisa masuk, tidak hanya singgah di otak tapi juga dihati.

Kedua, Menuntutlah Ilmu Selagi Muda.

Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin Imam Ghozali mengutip sebuah hadits berikut: “Wamaa uutia al-aalimu ‘ilman illa wahuwa syaabun; Allah tidak akan memberikan ilmu kepada seseorang, kecuali ketika ia masih muda.” Jika seseorang sudah tua, hanya pengembangan, akan mudah lupa dalam belajar. Maka, bagi yang masih muda, jangan sia-siakan waktu muda anda untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya.

Ketiga, Khawatirlah Kehilangan Islam.

Khawatir kehilangan itu penting, agar ada usaha untuk menjaganya. Memang, Islam tidak mungkin hilang dari muka bumi. Tapi sangat mungkin Islam hilang dari suatu kampung, kota dan bahkan negara. Seperti yang terjadi di Spanyoltempat Ulama besar Ibn Malik, pengarang kitab Al-Fiyyah dilahirkan. Karena umat islam merasa nyaman (jawa: kantengen), maka perlahan islam hilang, masjid berubah menjadi gereja. Maka, kita Islam Ahlussunnah wal Jamaah  yang tergabung dalam NU jangan merasa nyaman. Kalau sudah merasa nyaman, nanti tidak ada aktivitas, kegiatan dan geliat yang menghidupkan agama Islam seperti mujahadah, pengajian dll.

Keempat, Memilih Guru Haus Jelas.

Hadrotussyekh KH Hasyim Asyari Tebuireng Jombang, dalam Qonun Asasi NU berkata, mengutip Syekh Ibnu Syirin: I’lam anna hadzal ilma dienun, falyangdhur akhadukum amman ya’khudzu dienahu; ketahuilah, ilmu agama itu agama. Maka, jika mengambil ilmu agama itu harus jelas dari siapa mengambil. KH Hasyim Asyari Jelas, dalam syar’iat mengambil dari KH Cholil Bangkalan. Dalam tarekat mengambil dari Syekh Mahfudz Termas. Jadi, pendiri Nahdlatul Ulama itu ahli tarekat. Maka, idealnya pengurus NU juga masuk tarekat.

Kelima, Ikutilah Arahan Kiai dan Guru.

Saya dulu ketika nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pernah dinasehati KH Abdul Aziz Mansyur begini:

“Kamu itu kalau ngaji, ikuti arahan kyai, maka akan tenteram hidummu. Konsep berguru agar mulia dunia dan akhirrat adalah mengikuti petunjuk Syekh Nawawi Banten yang termaktub dalam kitab Salalimul Fudlola’ syarah kitab Kifayatul Atqiya’. Syekh Nawawi Banten berkata: Man Istaqofa bi ustadzihi ittalaqullahu bitsalasi balayatin; Barangsiapa meremehkan guru Allah akan menurunkan tiga bala’. Pertama: Kalla lisanuhu; kathel (sulit berbicara) lisannya. Kedua, Nasiya ma hafidza; lupa dengan yang sudah dihafal. Ketiga, Waftaqara fi akhirihi; hina di akhir hidupnya”. Na’udzubillahi min dzalik.

Keenam, Jangan Tinggalkan Metode Salafiyah

Metode salafiyyah tidak boleh ditinggal, karena sangat ampuh. Metode salafiyah punya keyakinan: bahwa ilmu dari guru tidak akan masuk ke hati murid atau santri jika tidak disertai dengan riyadlah, mujahadah, tirakat, lelaku dll. Jika orang punya ilmu tidak di-riyadloi, maka hanya akan berhenti di otak. Dengan metode salafiyah ini, ilmu tidak hanya singgah di otak, namun masuk ke hati. Kalau hanya di otak saja, itu namanya intelektual.

Maka, di Pondok Pesantren An-Nawawi peninggalan ayah saya, tidak meninggalkan metode salafiyyah, seperti ketika habis shalat santri membaca wirid tasbih, shalawat, tahlil dan lain-lain, termasuk membaca wirid Sunan Ampel: ya Chayyu ya Qayyum lâ Ilâha Illa Anta 41x. Sunan Ampel Raden Rahmatullah ketika babad Tanah Jawa membaca kalimah ini. Jika kita sering membaca kalimah ini, kata ya Chayyu, menjadikan kita punya gagasan dan kreasi. Adapun ya Qayyum menjadikan kita mandiri. Selain itu juga membaca: Allahu khafidhu latifun qodimun, qodirun azaliyun chayyun qayyum la yanamu, setelah itu membaca: maulayashol, yarabbibil dan huwal habib. Ini  untuk menjaga agar ilmu melekat di hati. Ada juga bacaan Hadzihi dar darullah…, termasuk membaca iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’in 41x, serta Laqad jâakum..9x. Ini namanya metode salafiyah, peninggalan ulama dahulu  yang tidak boleh ditingggal. Termasuk juga (metode salafiyyah), Ustadz-ustadz di pesantren tidak berani membaca kitab sebelum hadiah fatihah terlebih dahulu kepada pengarang atau mushannif-nya.

Ketujuh, Jangan berkecil hati menjadi santri.

Maka, jangan berkecil hati mengirim putra-putri anda di pondok-pesantren. Santri-santri An-Nawawi ditempat saya, saya nasehati begini:

“Kamu mondok disini nggak usah berpikir macam-macam, yang penting ngaji dan sekolah. Tak usah berpikir besok jadi apa, yang akan menjadikan Gusti Allah”.

Ketika saya dulu nyantri di Lirboyo, tak berpikir mau jadi apa, yang penting ngaji, nderes(baca al-Quran), ngafalin naddzman kitab dan shalat jamaah. Ternyata saya juga jadi manusia, malahan bisa melenggang ke gedung MPR di Senayan. Tidak usah dipikir, yang menjadikan Gusti Allah. Tugas kita ialah melaksanakan kuwajiban dari Allah SWT. Allah mewajibkan kita untuk menuntut ilmu, kita menuntut ilmu. Jika kuwajiban dari Allah sudah dilaksanakan, maka Allah yang akan menata. Jika Allah yang menata sudah pasti sip!, begitu saja. Jika yang menata kita, belum tentu sip!.

Kedepalapn, Ikutilah organisasi Ulama.

Talzam Jamaatal muslimin wa imamahum; ikutlah kamu sekalian kumpulan orang Islam dan pemimpinnya. Maksudnya, kita semua disuruh nabi untuk mengikuti perkumpulan orang Islam yang dipimpin ulama. Kita jangan gampang-gampang mengikuti perkumpulan Islam yang dipimpin bukan ulama, walaupun namanya Islam. Yang harus diikuti adalah perkumpulan Islam yang dipimpin ulama seperti Nahdlatul Ulama dan Thariqah yang Mu’tabaroh

Kesenbilan, Internet bukan Guru.

Perkembangan teknologi membuat kita semakin mudah dan mengakses informasi dari internet. Saya minta, usai membaca artikel di internet, bersegerahlah untuk di tashikan kepada ulama’. Karena dengan kita berhadapan langsung dengan ulama’ akan ada cahaya yang masuk ke dalam hati kita, dan juga karena internet bukanlah guru. Padahal “man laisa lahu syaikh fa syakhuhu syaithon; barangsiapa tidak punya guru maka gurunya adalah setan”.

Disamping itu, dengan kita berhadapan langsung didepan ulama, otomatis kita juga bisa melihatnya yang mana melihat ulama merupakan pahala. Ada lima hal dimana hanya dengan melihatnya saja kita sudah mendapatkan pahala. Lima hal tersebut adalah: al-nazdr ila al-ka’bah (melihat ka’bah), al-nazdr ila al-mushaf (melihat mushaf), al-nazdr ila al-walidain (melihat kedua orang tua)[2], al-nazd ila wajh al-alim (melihat wajah ulama), dan al-nazdr ila al-zawjah (melihat istri). Kita semua arus bersyukur pada Allah ketika kita masih punya orang tua. Apabila berhadapan dengan mereka pandanglah wajah keduanya dengan ramah.

Kesepuluh, Jangan Lupakan Nasehat KH Ali Maksum

Dalam berbagai kesempatan saya selalu mengingatkan kepada para kader NU baik yang ada di IPNU maupun PMII untuk mengingat dan bertafakur akan pesan al-marhum KH. Ali Ma’shum Krapyak dimana ketika beliau masih menjadi rais PBNU sering berpesan kepada kader-kader NU. Pesan yang dimaksud adalah sebagai berikut;

Pertama, Al-Ma’rifat bi Nahdhatil ulama. Sebagai kader muda NU kita harus tahu apa itu NU. Apa sih NU itu? Apa yang kita tahu tentang NU? NU adalah perkumpulan para ulama’ dan para pengikutnya. Ada sebuah hadits yang menyatakan untuk mengikuti kumpulan orang muslim beserta pemimpinnya. Hadits yanag dimaksud adalah;

تلزم جماعة المسلمين وامامهم رواه بخاري Artinya; ikutilah perkumpulan orang-orang Islam beserta para pemimpinnya. HR. Bukhari

Kedua, Al-Tsiqah bi Nahdhatil ulama. Yang kedua kita harus percaya dengan NU. Percaya dengan segala keputusannya.

Ketiga, Al-Jihad fiy Nahdhatil ulama; Berjuang dalam wadah NU. Dan,

Keempat, Al-Shabr fiy Nahdhatil Ulama. Kita semua harus sabar, tahan uji di dalam NU. Sabar sangatlah penting, karena sabar merupakan kunci dari keberhasilan. Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Tanara al-Bantaniy  mengatakan bahwa, “al-shabr ka al-sibr; sabar itu seperti beratawali”. Berjuang memang pahit terasa, tapi tentunya kita tahu bahwa setelah minum jamu yang pahit kemungkinan besar kita akan kembali fit.

Kesebelas, Perjuangan Itu Pahit.

Perjuangan itu terasa pahit, sangat pahit. Semua Nabi berjuang tidak ada yang terasa enak, semuanya pahit, banyak tantangan yang harus dihadapi. Maka, kalau hendak berjuang, bersiaplah mengalami kepahitan! Tidak ada perjuangan yang mudah serasa membalikkan telapak tangan.

Dalam kitab Nurul Abshar yang berisi mauizdah-mauizdah dari para wali disebutkan bahwa Syekh Abi Hasan al-Syazdili berkata: tidaklah seorang alim itu sampai dipuncak keilmuan sebelum di uji empat hal oleh Allah. Empat hal tersebut adalah:

  1. Dijadikan bahan pembicaraan orang yang memusuhi. Ketika banyak diguncing orang lain, maka janganlah kalian berkecil hati. Jangankan kamu, kyai saja banyak yang dicela.
  2. Dicela oleh saudara-saudaranya.
  3. Dicela oleh orang-orang bodoh.
  4. Dibenci oleh sesama ulama.

Syekh Syadzili pun mengatakan: “fain shabara ‘ala zdalika, shara imaman muqtadan bih; ketika sabar menjalani ujian tersebut maka akan jadi pemimpin yang di ikuti oleh rakyatnya”. Janganlah sekali-kali kita berkecil hati jika empat hal atau sebagianmya terjadi kepada kita.

Kedua belas, Merapatlah ke Nahdlatul Ulama.

Ketiga, bahwa aliran Islam ala Wahabi dewasa ini gencar menyerang amaliyah kita warga pesantren. Dari itu, saya menghimbau (khususnya seluruh alumni pesantren An-Nawawi) agar bisa merapat ke Nahdlatul Ulama (NU) di daerahnya masing-masing. Ini salah satu cara kita untuk melanjutkan perjuangan Islam ala walisongo yang ratusan tahun ada di Indonesia. Memang, dahulu Islam yang dibawa oleh wali songo hanya “Islam” saja tidak ada embel-embel yang lain. Namun, Islam Ahlussunnah wal Jamaah itu bukan embel-embel, tetapi Islam itu sendiri, sesuai yang dibawa oleh Walisongo. Walau tidak ada “embel-embel”, Islam dari para wali tersebut sudah Ahlussunnah wal jamaah. Nah, belakangan muncul berbagai aliran dalam Islam dengan berbagai identitas baik berupa ormas ataupun partai. Untuk itu, identitas Ahlussunnah wal jamaah yang dalam konteks Indonesia diperjuangkan oleh NU, perlu kita tegaskan supaya tidak salah.

Dikutip dari berbagai catatan ceramah beliau oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun, kontributor website: pelajarnupurworejo.org