Belajar Ikhlas ala Petugas Parkir dan Toilet

Siap-siaplah kejang-kejang, jika membaca tulisan yang nyeleneh ini!

Suatu ketika, ada teman yang bertanya kepada saya: “Bro, bagaimana caranya ikhlas, move on? Tolong, ajari saya.”

Saya terdiam.

Pertanyaan itu tidak langsung saya jawab, karena memang tak hanya sulit, namun rumit dan problematik. Saking rumitnya, Imam Ghazali (w. 1111) menguraikannya panjang lebar dalam kitab Ihya Ulumuddin; juga, Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari menjelaskannya panjang-lebar dalam magnum opusnya: Al-Hikam.

Setelah saya sidik asbabul wurud dari pertanyaan itu, ternyata temanku itu ingin ikhlas melepas kekasihnya, atau istilah bule luar negeri move on. Ia galau tingkat dewa, setelah tunangannya berbalik arah kepada pria lain. Ia bingung mau menaruh muka dimana, oleh karena tanggal pernikahan terlanjur dilingkari dan keluarga besar sudah dikabari. “Djancuk!” katanya.

Perlahan, saya mencari referensi. Selain untuk menjawab kebutuhan teman saya itu, juga karena hal itu banyak menjadi depresi orang modern, baik pejabat pemerintah, politisi, pengusaha, ekonom, apalagi kaum millenials, yaitu generasi muda penggemar k-pop, pemegang gadget, tablet dan android. Kegalauan mereka atas satu hal itu, kadang tidak hanya merugikan diri sendiri, namun bisa mengganggu ketertiban dunia. Edyan!, kayak Hittler atau Westerling aja!

Lihat saja bagaimana para pejabat tidak mampu ikhlas menerima gaji yang dipatoknya, sehingga harus memiliki skill korupsi. Juga, para pengusaha kelas kakap yang dengan seenaknya menimbun bbm dan atau sembako serta mengendalikan harga, sehingga rakyat kecil semakin tercekik dengan kemelaratannya. Atau, anak-anak millenials yang otak dan hatinya setengahsinting galau: rela antre berjam-jam sampai pingsan sekaligus membuang 2 juta untuk nonton konser bule hasil publikasi media.

Itu semua dan seabrek urusan hati mulai dari dendam, dengki, hasut, cemburu, iri, dan lain sebagainya, banyak menyiksa kehidupan manusia modern, orang-orang yang banyak mentuhankan memuja teknologi.

Akhirnya, dari beberapa referensi yang saya belajar sekaligus pelajari, ada beberapa point yang minimal bisa diupayakan untuk mendetoxifikasi penyakit-penyakit hati diatas.

Pertama, seperti syair yang dipopulerkan Cak Nun, tentu melaksanakan salah-satu dari lima obat hati: membaca Alquran sekalian maknanya, shalat malam, dzikir malam, puasa dan berkumpul dengan orang-orang saleh.

Dari kelima obat itu, paling mudah bagi saya adalah yang terakhir, berkumpul dengan orang shaleh: orang-orang yang layak. Sebab, banyak sekarang orang yang sudah tidak layak dalam pergaulan. Meski begitu, jika ada orang yang belum layak, tak seyogyanya kita musuhi apalagi menjustifikasi mereka dengan pekikan “syirik”, “kafir” “sesat”, “bloon” dlsb, namun justeru kita mesti mengarahkannya.

Soalnya, sekarang sedang musim jika ada orang salah jalan malah disalah-salahkan, bukan malah ditunjukkan.

Selanjutnya, soal ikhlas atau bahasa gampangnya move on, kita bisa belajar dari petugas parkir dan toilet. Mungkin dengan membandingkan mendampingkan kata “ikhlas” dengan “move on” saya akan banyak di-bully. Namun semata itu hanya untuk memudahkan saya dalam mengunyah persoalan dan menggauli kenyataan, tidak bermaksud merancaukan term “resmi” yang sudah dipahat indah oleh ahli logika (mantiq), filsafat atau tasawuf.

Ikhlas adalah mengorientasikan hidup, mati, ibadah dan segalanya hanya kepada Allah SWT. Tidak ada yang penting, atau mementingkan sesuatu selain-Nya. Dialah motivasi dari segala hal yang kita niatkan dan lakukan, bukan karena yang lain semisal ijasah, jabatan, uang, pujian, syurga atau apapun. Gampangnya, move on dari hal-hal fisikly dan duniawi.

 

Petugas Parkir, dimanapun mereka berada, menganggap bahwa motor dan mobil yang diparkir adalah titipan dari “juragan”. Mereka menjaga dan merawatnya, namun tak terpikir untuk memilikinya. Ketika sang “juragan” mengambilnya, maka dengan senang hati ia mengembalikannya. Sampai saat ini, belum ada di berita manapun, baik Metro TV maupun TV One yang mengabarkan ada tukang parkir yang sedih, galau, patah hati atau tidak bisa move on gara-gara kendaraan yang diparkirkan kepadanya, diambil oleh sang pemilik.

Begitu juga seharusnya idealnya dalam hidup ini. Semua yang kita miliki baik kesehatan, uang, pangkat, jabatan, pacar seksi nan molek, isteri muda, anak, keluarga dan cinta, semuanya akan sirna ketika “Sang Pemilik” mengambilnya tanpa kita duga-duga. Dunia adalah jembatan menuju keabadian: alam akhirat. Kata para santri, ad-dunnya mazra’atu al-akhirah, dunia itu ladang akhirat. Pepatah Jawa pun mengatakan dengan tak kalah filosofis: urip mung mampir ngombe, hidup hanya mampir minum. Khusus yang terakhir, bolehlah diplesetkan: mampir ngopi dan merokok!

Keikhlasan petugas parkir diatas, perlu kita ta’dzimi, refleksikan dan internalisasikan dalam diri di dunia nyata.

Menjiplak istilah Mas Noe Letto dalam syair Memiliki Kehilangan, ia dengan jenius menyatakan: “Rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya”. Jika memang semua apa yang kita miliki itu hakikatnya bukanlah milik kita, hanya titipan Tuhan, lalu kenapa kita sering merasa memilikinya, sehingga kemudian merasa kehilangan atasnya? Sekali lagi, khususnya saya sendiri, harus belajar lebih pada keikhlasan petugas parkir. Bahwa kehilangan, dikhianati, ditipu, disakiti bahkan termasuk kebahagiaan itu tidak akan kekal: semua akan sirna. Kebahagian mencintai dan menuju Tuhanlah yang kekal.

Toilet? Serius lho mau bahas toilet? Iya, toilet, suatu tempat terpenting dalam peradaban orang modern, namun seringkali dinafikan eksistensinya. Harus kita sadari, bahwa salahsatu hal paling ikhlas yang kita lakukan di dunia ini adalah saat kencing atau beol buang hajat di toilet. Sekali melepasnya, kita tidak akan mengingatnya, menyesalinya, apalagi mengungkit-ungkitnya.

Mungkin itu mengapa, jika ada orang pelit dikatakan: “buang hajat (di kolam) saja sambil bawa pecut”. Maksudnya, kotorannya saja tidak rela dimakan ikan, makanya dia bawa pecut! Haha, ada-ada saja!

Seberapapun pentingnya urusan kita, jika memang kebelet, tak akan malu mengatakan: “permisi, mau pergi ke belakang”. Maksudnya ke toilet: membuang kotoran kita yang dengan diam-diam menikmatinya. Bahkan, kita tak pernah mempublikasikan kekurangan itu: bau, jorok serta kotor.

Mengafirmasi analogi ini, Kiai Imron Jamil dalam suatu presentasinya mengatakan: “Kita boleh dan bahkan harus mengurus dunia, tapi usahakan kita tidak cinta kepada dunia. Kita boleh dan bahkan harus mengurus toilet, tapi jangan sampai kita cinta kepada toilet”.

Modyar!

Semoga temanku yang sedang patah hati, dengan membaca tulisan ini, semakin menikmati kepatah-hatiannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: