Baru saja saya ta’ziah atas dipanggilnya seorang sahabat Ansor yang masih muda, ke hadirat Ilahi Rabbi. meninggalnya pun tak diduga-duga sebelumnya. Tiba-tiba ia muntah-muntah dan dilarikan ke rumah sakit. Di tempat yang penuh pelajaran itulah ia meninggal.

Sebagai sebuah perjalanan rohani dan sosial, substansi ta’ziah merupakan pendidikan yang penting: mengingat kematian.

Selain jodoh dan rejeki, mati merupakan salahsatu dari tiga rahasia Allah yang tak seorangpun di dunia ini tahu.

Entah kenapa, kemudian saya teringat beberapa hal tentang ini. Tentang kematian.

Pramodya Ananta Toer, dalam bukunya Nyanyian Sunyi Seorang Bisumengatakan, bahwa ia sudah siap mati ketika umur 24 tahun, ketika ia menjadi tahanan  politik dan dibuang ke Pulau Buru. Melihat teman-temannya yang meniggal karena disiksa dan beberapa kelaparan, ia sudah “pasang badan” bertemu kematian. Meski begitu, belasan tahun kemudian, setelah rezim Orde Baru merenggut masa mudanya, ia bisa bebas meski dengan syarat tetek-bengek.

Lain lagi dengan cerita para muslim di Palestina, khususnya masyarakat sekitar Masjidil Aqsha.

Menurut teman saya, kematian sudah menjadi hal yang lumrah dan biasa disana. Khususnya dalam kondisi perang melawan zionis Israel. Masyarakat sekitar masjid, sebenarnya bisa saja mengungsi untuk menghindari kematian. Namun mereka enggan, oleh karena Masjidil Aqsha merupakan tanah mereka dan tanah yang dijanjikan Allah suatu saat akan dimerdekakan.

Suatu saat, ada orang atau yang menawarkan diri membantu masyarakat Palestine.

“Apa yang bisa saya bantu?” tanya orang itu.

“Doa!” jawab sang pejuang.

“Cuma doa?”

“Doa itu bukan ‘cuma’. Ia memiliki kekuatan tersendiri”

Lalu sang pejuang Palestine menceritakan kejadian-kejadian ir-rasional yang terjadi dalam kondisi perang, seperti tiba-tiba bom, markas, pesawat dan tank musuh meledak. Kemudian orang itu baru percaya kekuatan doa. Hal seperti inilah mungkin yang terjadi ketika laskar santri: Hizbullah dan Sabilillahberperang melawan Sekutu, dimana butir tasbih KH Abbas Buntet Cirebon jika dilempar ke udara membuat pesawat Sekutu meledak. Atau bambu runcing yang didoakan oleh Kiai Subkhi Parakan Temanggung, mampu “terbang” mengejar musuh dan bles!: membunuhnya. Wajarlah kalau waktu itu, lautan manusia tumpah-ruah di Temanggung minta didoakan Kiai Subkhi, seperti direkam olehKH Saifudin Zuhri dalam buku otobiografinya: Guruku Orang-orang dari Pesantren.

Para pejuang, waktu itu, sudah siap menghadapi kematian. Mereka berkeyakinan bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan, namun hanyalah sebuah jalan menuju “kehidupan baru”.

Memang, banyak sebab kematian seseorang: dari dibunuh, kecelakaan, sakit, menyelamatkan, sampai “hanya” karena tidur lalu bablas dijemput kematian. Tanpa notifikasi, pemberitahuan.

Dalam filsafat Jawa, hidup dan mati diibaratkan kelapa. Bisa kelapa  “jatuh” ketika masih jadi cengkir(biji kelapa), degan(kelapa muda) atau kerambil(kelapa tua). Pun dalam hidup, orang bisa mati ketika bayi, masih muda atau ketika sudah tua. Semua terserah kepada Yang Maha Kuasa.

Hidup adalah titipan. Idealnya kita tak perlu menyesal kehilangan. Apapun yang kita cintai: ponsel, perhiasan, rumah, sahabat, keluarga, kekasih dan bahkan hidup itu sendiri, nantinya akan diambil oleh Sang Penitip.

Dalam tamsil Islam, hidup juga adalah ladang bagi akherat (Addunya mazra’ah al-akhirah). Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita panen kelak. Siapa menanam kebajikan akan mendapat nikmat; yang menanam kebatilan juga akan mendapat siksa. Namun soal syurga – neraka adalah urusan-Nya.

Diri kita yang terdiri dari jasad dan ruh, semua ada makanannya. Jasad diisi makanan dan minuman, sedangkan ruh diisi dengan “makanan” keagamaan: ibadah. Ibadah pun macam-macam, dari yang mahdlah seperti shalat, sampai kerja, facebookan, berbuat baik atau bahkan masuk toilet. Itu jika niat dan implementasinya sesuai dengan petunjuk syariat.

Dicabutnya ruh dari jasad kita itulah kematian. Meski di alam akhirat ruh dapat manfaat dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih, namun ruh dan alam akhirat hanya sedikit yang bisa dipelajari oleh manusia. Itu sudah diinformasikan Tuhan dalam Alquran.

Di alam kubur pun, ada nikmat dan siksa, serta lebih luas “dunianya” bagi mereka yang shalih. Namun sebaliknya, ia akan sempit dan penuh siksa bagi para pendusta agama. Itulah mengapa, doa untuk orang yang sudah mati, khususnya keluarga terlebih orang tua kita mesti senantiasa kita panjatkan. Oleh karena, sesuai dengan fatwa Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzy dalam kitabnya Ar-Ruh, doa-doa orang hidup sampai kepada yang mati, pun yang mati mendapat nikmat dan manfaat dari doa, sedekah dan kebaikan orang hidup yang di “transfer” kepadanya.

Hidup Lebih Mengerikan

Hemat saya, kehidupan lebih mengerikan daripada kematian. Jika kematian adalah sebuah “jembatan” menuju kehidupan baru, tentu tak ada yang perlu ditakuti. Yang perlu “ditakuti” adalah justeru hidup itu sendiri: bertindak sesuai koridor agama atau tidak? Menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan tidak? Berbuat baik kepada orang lain tidak? Mengasihi yang tertindas, miskin dan lemah tidak? Berusaha meniru Kanjeng Nabi atau tidak? Melibatkan Allah dalam setiap tindakan dan keputusan kita apa tidak? Mempertimbangkan ridla Allah dalam perilaku kita apa tidak?

Sungguh pertanyaan yang sulit dalam kenyataan.

Soal kematian adalah soal waktu, yang hanya Dia yang tahu. Namun jika kita selaku manusia sudah sesuai dengan tuntunan-Nya: saleh secara pribadi dan sosial, tak ada yang ditakutkan. Tak ada yang dikhawatirkan. Tak ada yang perlu dirisaukan.

Karena hal ini mungkin, Kanjeng Nabi justeru menyebut bahwa orang yang cerdas adalah yang selalu mengingat mati. Bukan menakuti, merisaukan, mengkhawstirkan, tapi bisa mengambil pelajaran. Sebuah pelajaran dan pengalaman yang jarang pernah diajarkan.

Jadi, yang perlu ditakutkan, dikhawatirkan atau dirisaukan adalah: apakah kita sudah hidup dalam track-Nya?

Hanya diri kita yang bisa menjawabnya!

[Purworejo, 21 Januari 2016]