Hujan Oh Hujan!

Kasih, malam ini hujan deras mengguyur kota Semarang. Entah mengapa, air yang jatuh dari langit itu, mengingatkan pertemuan kita, di tanggal yang sama, di bulan agustus itu.

Waktu itu, kita berdua duduk dalam pangkuan becak, mengitari malam dengan lampu gemerlapan. Kita ibarat raja dan ratu, dan lampu-lampu itu menjadi rakyat kita yang berdiri menyambut.

Meski di malam itu hujan tak sederas ini, hanya gerimis kecil, namun itu juga sama-sama air yang turun dari langit. Seakan ia menjadi pendingin hatiku, yang panas karena berdegub kencang disampingmu. Ia seakan menjadi “legitimasi” ilahi, bahwa cintaku kepadamu begitu suci.

Malam ini, di tanggal yang sama, seperti di bulan agustus itu. Mengingatkanku kepadamu.

Kasih, tahukah kamu, bahwa aku memiliki banyak kenangan tentang hujan. Bagaimana denganmu?

Kukira sama.

Di waktu kecil dulu, hujan begitu aku tunggu-tunggu. Ia adalah sahabat terbaik yang mampu menghibur hatiku. Bila hujan tiba, maka satu bola plastik bisa membuat kami, anak-anak desa, begitu bahagia. Atau, dengan sepotong pohon pisang, kami menenggelamkan diri mengarungai sungai-sungai yang mengalir begitu jernih.

Dikala seperti itu, “musuh” hanya satu: Ibu. Ia sudah berdiri tegak di depan pintu, membawa tongkat atu tuding bambu, lalu dengan kasih sayang dalam bentuk “kekerasan” itu, ia akan memukul pantat sampai biru.

Hujan, dikala di desa dulu belum ada listrik, ia juga membantu kami menghidupkan lampu. Dengan kincir air yang dibikin kakek serta “tim ahlinya”, baling-baling itu berbutar kencang, menggesek dinamo, menjadikan energi, disalurkan dengan kabel dan menyala dalam sebuah lampu.

Aku dan teman-temanku, waktu itu takjub melihat itu. Sebelumnya tak ada itu, hanya lampu teplok atau senthir dari minyak tanah, yang jika dinyalakan, di pagi hari akan membuat hidung jadi hitam, dipenuhi kristalisasi asap hitam.

Hujan, waktu itu, juga memberi kami banyak pengalaman dan permainan.

Ketika hujan tiba, jangkrik-jangkrik akan berbunyi: menyanyikan kalam ilahi yang tidak kita mengerti.

Usai ngaji, biasanya dulu kami ke ladang-ladang jagung petani, mencari suara dan makhluk kecil hitam yang sayapnya bisa berbunyi. Setelah dapat, dibuatkanlah rumah-rumahan dari ayaman bambu. Tentu bikinan sendiri. Lalu kami pasang di rumah sebagai kebanggaan berikut mitosnya: pengusir tikus. Kala ngaji tiba usai mangrib, anak-anak akan membawanya sebagai sebuah gengsi dan ajang pamer yang konstruktif. Yang sedikit “nakal”, akan menjadikannya binatang aduan.

Hujan, benar-benar membawa keberkahan.

Juga, kelak di kemudian hari, kuketahui bahwa hujan juga dirindukan petani, tulang punggung bangsa itu. Dengan hujan, sawah, ladang, palawija dan aneka tanaman lainya mampu tumbuh subur. Hujan-hujan itu mengalir membasahi tanah, mengobati dahaga akibat kekeringan. Lalu tumbuh suburlah padi dan buah buahan. Mirisnya, petani itu kemudian tak mampu melawan dominasi pemborong: menjual dengan harga murah. Makanya, jarang kita lihat petani dan buruh tani kaya, padahal itu hak mereka. Sebagian para pemborong itulah yang memanfaatkan “kelemahan” petani, dan menjualnya ke kota-kota, ke pelbagai hotel mewah sampai istana negara.

Kasih, semakin malam hujan semakin meredup, pertanda akan berhenti. Ia sudah menyegarkan tetumbuhan di bumi. Juga menyegarkanku kembali, membawamu ke bilik-bilik kenangan di hati. Kenangan ketemuan kita yang pertama, di tanggal yang sama, di bulan agustus itu. Mengingatkanku kepadamu.

Apakah kau juga punya kenangan tentang hujan? Kukira ada, meski mungkin kau abaikan. Kau tak terlalu meribetkan urusan-urusan kecil dan recehan. Kukira, kau juga tidak seperti orang-orang dewasa ini, yang dengan gampang pandai mengumpat hujan.

(Semarang, 17/01/2016)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: