Kobaran Semangat Itu (Catatan Pra-Lakut Pelajar NU Jawa Tengah)

Malam itu suasana di gedung hijau berlantai tiga itu masih sepi. Belum ada tanda-tanda akan ada sebuah kegiatan. Di lantai dua, juga hanya beberapa orang. Jalan Dr Cipto 180 Semarang, kantor NU Jawa Tengah itu, terlihat lengang.

Di kantor IPNU, beda lagi. Beberapa temanku sedang ribut main play station. Itulah beberapa panitia, yang di esok hari akan melaksanakan Pra-Lakut, sebuah screening untuk menyeleksi peserta kaderisasi tahap akhir di IPNU.

Aku sampai dinihari, menyapa mereka dan langsung istirahat.

Esok harinya, satu persatu panitia putri datang sampai dzuhur menjelang, disaat aku telah selesai membuat draft pertanyaan.

Sehabis dzuhur, gelombang peserta datang dari berbagai penjuru pelosok di Jawa Tengah. Mereka adalah kader-kader yang selama ini berproses, hampir setahun.

Tiap kali peserta datang, selalu ada perintah dari seorang cewek: “silakan langsung ke atas, lantai tiga. Untuk putra di ruang sebelah selatan, sedangkan yang putri bagian utara”

Sebagian datang rombongan dengan mobil. Sebagian datang sendirian dengan motor. Semangat mereka itu begitu berkobar. Menyala.

Malam pun datang.

60 peserta telah berkumpul di Aula gedung organisasi Islam yang berdiri 31 Januari 1926 tingkat Jawa Tengah itu. Ceremonial pembukaan dilaksanakan, mars dinyanyikan, sambutan diucapkan, teknis dijelaskan, doa dilantunkan.

Usai ceremonial itu, perkenalan dilangsungkan. Maklum, peserta-peserta itu belum saling mengenal, kecuali yang dari karesidenan masing-masing. Mereka begitu optimis. Mereka begitu bersemangat.

Aku diberi waktu untuk bicara. Kukatakan, Jawa Tengah jangan seperti Kongres lalu. Kongres yang menghabiskan milyaran rupiah, keringat, energi daya dan tenaga, “hanya untuk” ribut membahas soal umur, soal yang politis. Sebuah kongres yang agak sia-sia.

Kongres yang kering dari semangat keilmuan, semangat persatuan dan semangat kemajuan.

Kuurai juga beberapa tantangan, yang mau tidak mau generasi muda harus bergandengan tangan dan berbagi peran. Kulihat, tatapan mereka setuju, tatapan-tatapan optimis itu.

Screening segera dilaksanakan. Head to head. Satu per-satu.

Draft pertanyaan terdiri dari lima aspek: profil dan kepribadian, visi pribadi dan karier, ideologi dan pengetahuan, kepekaan sosial dan team work, serta motivasi organisasi dan komitmen.

Aku mendapat jatah bagian ideologi dan pengetahuan.

Banyak hal unik dan berkesan yang kudapatkan, selama berhadapan dengan puluhan peserta itu.

Salahsatu peserta, misalnya, telah bekerja di Jakarta. Selama kegiatan organisasi di daerahnya, bahkan sampai untuk menghadiri screening di malam itu, ia rela datang dari Jakarta. Katanya, ia sudah mencintai underbow organisasi bikinan ulama ini, dan mempunyai tanggungjawab untuk membesarkannya.

Aku terharu. Aku tak mampu melanjutkan wawancara. Ia kusuruh pergi. Ia kuberi nilai 90, satu-satunya nilai yang baru aku torehkan.

Kader-kader yang masih berseragam putih abu-abu, juga banyak yang ikut dalam screening itu. Seorang cewek diantaranya, sudah menulis dan memiliki buku, sebuah prestasi yang layak diapresiasi. Kubilang padanya: “lanjutkan menulismu. Di era digital ini, kita generasi muda NU, harus merebut media. Kita harus terus bergerak dari pembaca yang baik menjadi penulis yang baik.” Ia mengangguk.

Juga banyak keluh kesah.

Diantaranya keluh kesah itu datang dari kader yang sedang menekuni teknik di sebuah universitas. Ia resah, bahwa “orang tuanya” masih lebih mementingkan orang mati daripada orang hidup: belum seimbang. Ia sendiri berniat memajukan organisasi “warisan” walisongo ini dengan sains dan teknologi. Aku mengangguk, menyetujui pendapatnya.

Ada juga, kader yang semenjak kenal organisasi anak muda NU ini, imulai berkobar semangatnya dalam mencintai ilmu. Ia curhat: ingin belajar mencintai buku. Kusarankan, agar ia membaca Guruku Orang-orang dari Pesantrenkarya Jurnalis NU periode pertama: KH Saifuddin Zuhri. Buku inilah yang pertama kali menginspirasi serta membuatku bergairah dalam membaca, menyelami kata-kata, juga kini mulai belajar merangkai kata. Karena ia juga mencintai sastra dan sejarah, kukenalkan Tetralogi Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer. Namun dengan catatan, agar ia mengunyah dalam membaca, karena buku itu ditulis ketika dalam penjara yang minim referensi: banyak sejarah yang perlu dikoreksi. Keunggulan buku ini, mampu menyajikan sastra Indonesia lama yang indah, fragmen kemanusiaan serta semangat perlawanan yang mengagumkan.

Screening itu belum selesai, hingga menjelang pagi. Dilanjutkan pagi harinya, sampai sehabis dzuhur.

Memang ketat. Memang berat.

Ini semata, ikhtiar kami dalam menciptakan kader yang berkualitas, kader yang akan melanjutkan perjuangan kami, dan para aktivis terdahulu. Apalagi, Lakut yang akan datang merupakan sebuah program akhir, sebelum aku dan beberapa teman “gugur” secara otomatis secara keanggotaan: umur 27 tahun, hasil konsensus dalam Kongres IPNU XVIII.

Kini, sementara data akan ditabulasi, kami juga mempersiapkan tanggal, konsep acara, pemateri dan pelbagai kebutuhan kegiatan pengkaderan tingkat akhir itu. Pengkaderan yang bergengsi, murni, ideologis yang daripadanya diharapkan kader NU dan bangsa muncul. Tidak sekadar mampu menjadi pemimpin, pelopor, inspirator dan penggerak dilingkungannya masing-masing. Namun juga mampu menjadi teladan, mampu membumikan Islam sesuai zaman, mampu hidup dalam bingkai aturan Tuhan.

(Semarang, 18 Januari 2016)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: