“Semua lagu itu dimata saya sama saja. Saya seneng (lagu Iwan Fals), tapi ya, tidak punya waktu menghafalkannya. Jadi antara ciptaan dan keadaan itu harus selalu terjadi pergesekan. Itu yang membuat jiwa Iwan Fals seperti itu. Beruntung kita masih punya orang seperti Iwan Fals. Wong bangsa kita jadi bangsa penakut. Lha kok Iwan Fals berani. Yang membuat dia istimewa kan itu.” – KH Abdurrahman Wahid

Itu adalah statemen Gus Dur, presiden sekaligus pemimpin organisasi Islam terbesar Indonesia itu, menilai seorang Iwan Fals. Dalam sebuah video berjudul “Apa kata mereka?” di Indosiar, yang diunggah oleh akun youtube emanfals pada 28 April 2007 itu, seakan menegaskan wibawa dan level seorang musisi besar Indonesia bernama asli Virgiawan Listanto. Musisi yang pada 29 April 2002 pernah menjadi cover majalah Internasional “Time” dengan judul: Asian Heroes.

Semenjak kecil saya sebenarnya sudah pernah mendengan lagu Bang Iwan Fals. Namun, karena ibu saya lebih suka dangdut Ida Laila dan kasidah Nasida Ria, saya waktu itu belum tertarik. Juga, ayah saya yang hobi dengerin Bang Haji Rhoma Irama, semakin menyempitkan saya mengenali sosok yang semua anaknya dibuat judul lagu itu. Tahu lagu-lagunya pun juga hanya sekilas lalu.

Ketertarikan saya dimulai semenjak menjadi aktivis kampus: BEM STAI An-Nawawi Purworejo. Waktu itu, saya menghadiri Mukernas BEM PTNU Se-Nusantara di Yogyakarta. Salahsatu pembicaranya adalah Kiai Muwaffiq, yang mengisi materi Nahdlatul Ulama dan Masa Depan Bangsa. Di akhir mengisi materi, beliau mengundang juniornya yang jago main gitar.

Mulailaih iya bernyanyi, dengan penuh peresapan dan penghayatan.

Beliau menyanyikan beberapa lagu: Kemesraan, Bongkar, Kereta Tiba Pukul Berapa, Ambulan Zig Zag dan Kesaksian. Sontak, semua hadirin ikut bernyanyi, terhanyut dalam nyanyian jiwa.

Saya yang tidak begitu hafal, jadi geli-geli gimana gitu. Mau nyanyi tapi kok ndakbisa!

Malu.

Lagu Kemesraan, waktu itu saya sedikit bisa. Lumayan, lirik lama tapi menenangkan, menggetarkan. Lagu Bongkar saya hafal bagian reffnya, lumayan bisa untuk membuka mulut dan menggerakkannya, berteriak sepuasnya, agar tidak terlalu malu pada teman sebelah saya. Lalu, lagu Kereta Tiba Pukul Berapa,Ambulan Zig Zag dan Kesaksian, praktis saya terdiam.

Baru kali itu saya mendengarnya!

Pertama, yang saya belum bisa, adalah lagu Kereta Tiba Pukul berapa. Lagu ini mengkritik pemerintah cq Menteri Perhubungan yang menangani kereta api dengan kurang becus: sering telat.

Sambil melihat Kiai Muwaffiq bernyanyi memejamkan mata sambil sesekali menjerit, saya perhatikan liriknya, kegelisahannya, perlawanannya.

Lagu selanjutnya, yang saya belum bisa, adalah Ambulan Zig Zag, ini liriknya:

deru ambulance memasuki pelataran/ rumah sakit yang putih berkilau/ didalam ambulance tersebut tergolek/ sosok tubuh gemuk bergelimang/ perhiasan/ nyonya kaya pingsan mendengar khabar/ putranya kecelakaan dan para medis/ berdatangan kerja cepat/ lalu langsung membawa korban menuju/ ruang periksa tanpa basa basi/ ini mungkin sudah terbiasa/ tak lam berselang sopir helicak datang/ masuk membawa korban yang berkain/ sarung/ seluruh badannya melepuh akibat/ pangkalan bensin ecerannya meledak/ suster cantik datang mau menanyakan/ dia menanyakan data sikorban/ dijawabnya dengan jerit kesakitan/ suster menyarankan bayar ongkos…/ pengobatan/ hai sungguh sayang/ korban tak bawa uang/ suster cantik mengotot lalu melotot dan/ berkata silahkan bapa tunggu dimuka/ hei modar aku…hei modar aku/ jerit sipasien merasa kesakitan (merasa diremehkan)

Terakhir, waktu itu adalah lagu Kesaksian, sebuah lagu yang liriknya dikarang oleh sahabat Bang Iwan Fals, sastrawan besar Indonesia: WS Rendra. Berikut liriknya:

Aku mendengar suara/ Jerit makhluk terluka/ Luka luka hidupnya/ Luka/ Orang memanah rembulan/  Burung sirna sarangnya/ Sirna sirna hidup redup/ Alam semesta luka/  Banyak orang hilang nafkahnya/ Aku bernyanyi menjadi saksi/ Banyak orang dirampas haknya/ Aku bernyanyi menjadi saksi/ Mereka dihinakan/ Tanpa daya/ Ya tanpa daya/ Terbiasa hidup sangsi/ Orang orang harus dibangunkan/ Aku bernyanyi menjadi saksi/ Kenyataan harus dikabarkan/ Aku bernyanyi menjadi saksi/ Lagu ini jeritan jiwa/ Hidup bersama harus dijaga/ Lagu ini harapan sukma/Hidup yang layak harus dibela

Semenjak itu, saya menjadi suka lagu-lagu Iwan Fals. Semuanya. Bahkan kemudian, ada saat dimana saya dan teman-teman hampir setiap hari menyanyikan lagu-lagunya. Sampai kini, saya sudah hafal mayoritas lagunya, tingggal beberapa yang belum.

Semua lagu-lagunya adalah, seperti yang disampaikan Gus Dur, bergesekan dengan kenyataan. Ada yang bicara politik, sosial, ekonomi, lingkungan sampai percintaan dengan lirik yang jujur dan penuh kedewasaan.

Kini, ketika saya mendengar lagu Iwan Fals dinyanyikan oleh pengamen, saya akan lebih banyak ngasih dibanding pengamen yang tidak menyanyikan lagunya. Kadang malah saya tanggap untuk menyanyikan beberapa lagu. Kalau pas kegalauan sedang ekstrim malah saya yang nyanyi sendiri, pengamen itu menggenjreng gitarnya sambil melihat saya geli. 😀

Lagu Iwan Fals, akan mengabadi. Benderanya berkibar di semua konser. Gambarnya ada di baju para aktivis, gambar dalam pigura di rumah-rumah serta truk-truk dan angkutan umum. Lagunya digemari oleh anak-anak yang bahkan lahir jauh sesudahnya: beda generasi dan beda zaman. Namun lagunya selalu relevan dengan keadaan: menyuarakan keadilan, penindasan, kegelisahan dan nyanyian jiwa kaum pinggiran. Hampir orang yang berjiwa sosial kenal dan akan mengidolakan lagu-lagunya.

Berbeda dengan lagu “religi” sekarang.

Meski Bang Iwan Fals jarang yang memakai kata Allahu Akbar dan Syurga, lagu-lagu Bang Iwan Fals adalah lagu “religi”, “Islami” atau tepatnya mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan keislamanan: amar ma’ruf nahi munkar, melawan kesewenang-wenangan, menyuarakan keadilan dan mengutuk penindasan! (sebagaimana kata Sayyidina Ali karramallahu wajhah: Faainama takuunu al-adlu fasamma wajhu Allah; dimanapun engkau menemukan keadilan, disana ada “wajah” Allah)

Sudahkah kamu mendengar nyanyian-nyanyian jiwanya yang legendaris itu? 😀

[Semarang, 19/01/2016 – 23:28]