Semarang, 20 Januari 2016. Matahari hampir tenggelam. Aku memasuki angkutan kota bercat oranye yang sepi penumpang. Aku duduk di depan. Sopir di sebelahku itu lusuh dengan badan dipenuhi tato. Beberapa receh berserakan dibawah kendali setirnya. Pandangannya begitu tajam, awas melihat gang-gang kumuh dan perempatan: mencari penumpang yang datang menumpang.

Jalanan sesak dipenuhi kendaraan orang-orang: para pejabat, pegawai dan buruh di ibukota provinsi itu. Beberapa pedagang masih sibuk menunggui dagangannya, mungkin mereka berpikir, barangkali diantara orang-orang itu ada yang mampir.

Tiba-tiba sesosok nenek tua menyetop di depan. Diatas pundaknya yang telah bungkuk itu, mendompleng sebuah tumbu dari anyaman bambu, diikatnya dengan jarit warna biru. Dalamnya berisi sesuatu, sepertinya dagangan. Ia dengan terengah meletakkannya di pintu. Beruntung seorang lelaki dari dalam tanpa komando membantu.

Perjalanan dilanjutkan.

Di sepanjang Jl MT Haryono itu, di depan toko-toko, berjejer kaki lima yang kumuh dan semrawut. Sebuah pandangan yang dilematis: antara keindahan dan sebuah penghidupan kaum pinggiran.

Kuhitung, sepanjang jalan itu, ada pengemis yang mengais iba dari orang lain. Ada yang kakinya lumpuh, ada yang cacat dan satunya entah mengapa. Semuanya memakai baju lusuh dan kumal. Sesekali juga kulihat orang gila, yang sambil enaknya menyedot rokok, ia menikmati dunianya: dunia tanpa dosa.

Lampu merah angkutan kota pun berhenti.

Seorang wanita setengah baya berdiri di depan dengan kostum wayang. Ia mendendangkan lagu Jawa tanpa bekal alat musik, bermodal suaranya: anugerah Yang Kuasa. Berdiri tegar tanpa teman, menghadapi kerasnya jalanan metropolitan.

Lampu merah berhenti. Perjalanan dilanjutkan.

Tak jauh dari itu, bangunan megah 13 lantai berdiri: Hotel Star. Parkir hotel ini diisi oleh mobil-mobil mewah, dan dibukakan oleh satpam dengan ramah. Lantai paling atas terdapat kafe dan kolam renang. Dari lantai atas ini, seluruh kemegahan Kota Semarang tertampilkan. Sedangkan bawahnya, lantai 12, adalah bar dan karaoke. Secangkir kopi paling murah disini harganya bisa 50 kali lipat dari kopi angkringan depan, dengan pelayanan cewek cantik ala barbie. Fasilitas karaoke pun disediakan, lengkap dengan pemandunya.

Sayang, waktu itu aku hanya melihat-lihat, dan ketika mendapat jawab soal harga, langsung mencari alasan dan kabur secepatnya.

Sampailah di Sukun, tempat pemberhentian mobil ke arah Solo, Jogja dan Cilacap. Aku turun dari angktan kota, menuju tukang tiket travel.

“Tiket ke Purworejo, Mas”

“Oh ya, langsung saja naik, itu mobil yang paling belakang”

“Tiketnya?”

“Nanti di Ungaran”

Tak seperti biasanya, pikirku. Aku masuk travel. Sebelahku seorang pemuda bermesraan dengan cewek berjilbab. Ah, mungkin dia suaminya, batinku, mencoba menghapus suudzon dalam hati dan tak bisa.

Sampai di Ungaran, ternyata tak ada apa-apa. Tak ada penarikan pembayaran. Ah, mungkin bayarnya langsunng ke sopir travel ini. Aku jadi ingat waktu ke Bogor dulu, bayarnya langsung kepada sang sopir.

Beberapa jam kemudian, sampailah aku di tujuan.

“Lampu merah depan berhenti, Pak”

“Oh iya”

Aku buka pintu, namun tak segera turun, mengamati mata sopir memberi kode, sambil berharap ia berkata begini: “bayarnya disini”.

Tapi ia malah berucap: “Turun disini, kan? Yasudah, turun!”

Akupun turun. Tanpa membayar sepeserpun!