Toleransi (Ber)Gaul Ala Einstein

Pada suatu pagi, saya mendapatkan pelajaran menarik, tentang sebuah aplikasi toleransi dan pluralisme.

Setelah agak lama tinggal di Semarang, beberapa hari lalu saya kembali ke Purworejo, tepatnya di base camp IPNU cabang. Beberapa informasi, saya terima, termasuk yang “kecil-kecil” terkait relasi-sosial penghuni base camp dengan para tetangga.

“Mas, kalau kita mengadakan Maulid Nabi, Einstein, pemilik warung dekat situ minta diundang. Ia ingin tahu sejarah Nabi Muhammad” kata Doyok sang ketua IPNU, kepadaku.
Saya tidak ngeh dengan informasi itu. Saya anggap tak perlu direspon; hanya sebuah angin lalu. Biasa-biasa saja.

Sebagai informasi, warung kecil itu, jaraknya sekitar 50 meter dari base camp. Berdiri sekitar tahun 2012. Selain memajang koran dan aneka tabloit, juga menyediakan kopi dan aneka minuman. Di tempat bertuliskan “Tidak menerima bon, modal dikit” inilah para aktivis IPNU memesan kopi, khususnya tiap pagi dan siang hari.

Saking seringnya memesan, sampai-sampai, hubungan terjalin begitu dekat, hampir tak ada sekat.

Einstein, begitu kami menyebutnya dari dulu, kepada sang pemilik sekaligus pelayan warung itu. Alasannya sederhana: rambutnya putih beruban dan acak-acakan. Einstein, ditemani isterinya, mengais rejeki lewat warung kecil itu, dan buka sangat pagi, pukul 05:30, untuk menampung koran dari para agen.

Pagi itu, saya yang langsung memesan kopi. Ia asing dengan saya. Maklum, dari dulu saya jarang langsung memesan kopi sendiri.
“Mas, apa sampean menginap di rumah hijau sebelah?” tanyanya kepadaku, sambil membuat kopi.
“Iya, pak, memangnya bagaimana?”jawabku.
“Itu anak-anaknya akrab sekali dengan saya, mereka sering membeli dan bermain kesini” jawab Einstein.
“Oh, yayaya”, jawabku, yang dalam hati sebenarnya berkata: sudah tahu.
“Kami sangat akrab, mas. Padahal, mohon maaf, kami ini beda agama, namun toh biasa-biasa saja”

Saya pun baru tahu, pagi itu, kalau si Einstein ini ternyata beda agama dengan kita. Sekian tahun ber-muamalah, kami tak pernah menanyakan apa agamanya.

Jangan samakan kami dengan orang-orang yang sedikit-sedikit marah karena berbeda. Jangankan dihadapkan kepada perbedaan, sesama Islam saja, FPI meributkan salam Sampurasun ala Sunda. Bahkan, beberapa hijabers atau jilbabers syariah juga menjustifikasi mereka yang tak berjilbab dengan sinis: “muslim bukan?”. Mereka tentu kurang piknik: dari buku ke buku dari kitab ke kitab.

Memang benar kata Gus Dur, sang guru bangsa yang dicintai oleh hampir semua umat beragama itu: “tidak penting apa agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan Tanya apa agamamu”.

Lalu Einstein pun berkata, bahwa komplek lingkungan yang ditempati ini begitu plural namun tetap menjada toleransi. Berbagai agama dan suku ada disini, namun tetap hidup bersama, berdampingan penuh kemesraan. Bahkan, jika ada warga Nasrani yang ada hajat misalnya, mengundang warga muslim. Pun sebaliknya: jika ada warga muslim punya hajat, mengundang orang non-muslim.

Jika menilik sejarah, komunitas pada zaman Nabi sendiri sebenarnya lahir dari masyarakat yang plural (majemuk). Tanpa masyarakat plural ini , tidak akan lahir piagam Madinah pada waktu itu. Ketika itu piagam madinah dirumuskan dan disetujui menjadi konstitusi; komunitas Islam masih merupakan minoritas. Komunitas terbesar adalah komunitas Yahudi, ditambah dengan komunitas Kristen dan penganut kepercayaan pagan. Dalam masyarakat yang plural (majemuk) itu, Nabi justeru berperan sebagai pemersatu, tanpa melebur diri ke dalam suatu masyarakat tunggal. Dalam masyarakat majemuk itu, diproklamirkan terbentuknya “masyarakat yang satu” (ummatan waahidah). Namun dalam konstitusi yang merupakan kontak sosial itu, identitas kelompok tetap diakui, mereka bersepakat untuk membentuk solidaritas dengan sikap tasamuh (toleransi).

Relasi antara aktivis IPNU dengan Einstein inilah terapan pluralisme dan toleransi dalam realitasnya, yang merupakan reaktualisasi (menerapkan kembali) pluralitas di zaman klasik Islam itu. Di base camp itu, dikunjungi bahkan tidak hanya dari orang NU, namun non-muslim lainnya, yang ingin melihat apa itu cinta, senyata-nyatanya.

Meski begitu, menurut kyaiku, ada batasan yang jelas dalam doktrin pluralisme. Beliau berkata: “Pluralisme itu hanya ada dalam muamalah, tidak pada ranah akidah.”

Sambil meneteng kopi, saya baru sadar dan ngeh dengan apa yang disampaikan oleh salahsatu aktivis IPNU beberapa hari lalu: “Mas, kalau kita mengadakan Maulid Nabi, Einstein, pemilik warung dekat situ minta diundang. Ia ingin tahu sejarah Nabi Muhammad”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: