Reportase Maiyah Januari 2016: Teror Mata Sapi

Di ruang tamu sebuah rumah bercat oranye, dua kilometer sebelah barat Pendopo Kabupaten Purworejo itu, malam tak seperti biasanya. Beberapa gadis sibuk menyiapkan aneka hidangan, pertanda akan ada tamu-tamu yang datang.

Malam itu tepat 22 Januari 2016, dimana akan digelar Forum Jamaah Maiyah Purworejo: Wolulasan. Pertemuan malam itu, merupakan proses panjang semenjak tahun 2011 dan merupakan pertemuan yang ke-62.

Ketika malam semakin malam, satu persatu peserta berdatangan, membawa dirinya masing-masing. Membawa keresahannya masing-masing. Membawa kegelisahannya masing-masing. Membawa pengetahuannya masing-masing.

Pra acara pun dimulai. Pukul 20:00 WIB, Imam Khoiri dengan beberapa jamaah melantunkan Ayat-ayat suci Alquran, sebuah kitab kuno yang sudah berusia 15 abad, dan masih dikaji di berbagai pesantren, sekolah, kampus dan khalayak luas sampai sekarang.

Usai tadarrus, lagu Tombo Ati pun didendangkan, sambil menunggu peserta yang semakin membludak, melebihi kapasitas ruangan.

Acara dibuka oleh Imam Khoiri. Ia mengenalkan forum ini kepada peserta yang baru saja bergabung untuk pertama kali. “Ini forum silaturrahmi dan ilmu. Prinsipnya mau bersama-sama dengan orang yang tidak sama. Disini kita semua menjadi guru sekaligus murid.”katanya kepada puluhan jamaah yang hadir.

Kemudian ia meminta semua jamaah berdiri, menyanyikan lagu kebangsaan karya WR Soepratman itu: Indonesia Raya.

Karena peserta banyak yang baru, perkenalanpun diadakan, seorang demi seorang. Beberapa berlatar pegawai, santri, mahasiswa, guru, ustadz sampai pelajar sekolah menengah. Tak lupa dan tak poleh dilupakan, adalah mereka yang masih menjadi “pengangguran”.

Imam mempersilakan Anjar Duta untuk menjadi supra-moderator. Anjar mengambil alih forum secara penuh.

Anjar membuka dengan kembali menjelaskan forum ini. Ia mengatakan, di forum maiyah Wolulasan, problem apapun bisa dikritisi dan dipertanyakan: lokal, nasional dan internasional. Dari seni, agama, filsafat, politik, sosial, sampai problem pribadi, cinta dan lingkungan sekitar.

Maiyah itu organisme, bukan organisasi. Disini, kita belajar apapun. Bahkan, disini, di forum ini, tembelek pun bisa kita kritisi dan menjadi ilmu. Juga, belajar kepada siapapun. Kita sadar semua dari kita memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena Allah menutupi kekurangan kita saja kita bisa terlihat baik di depan orang.” ungkap pelantun lagu “Tambatan Hati” tersebut.

Ia kemudian menjelaskan tema pada malam hari itu: Teror Mata Sapi (Belajar dari Manusia Surip), sesuai prolog atau mukadimah dengan judul yang sama, yang sudah di share di berbagai grup.

Lalu Anjar meminta Mas Djarot untuk berbicara terlebih dahulu. Djarotpun berbicara.

Ia merasa senang bisa bersilaturrahmi, dan berharap forum ini membawa berkah: dilapangkan rizki oleh Allah.

Bibit teroris, katanya, malah justru banyak ditemui disekitar kita, seperti di sekolah. Menurutnya, media dan bus ugal-ugalan di jalanan adalah contohnya, Dalam kasus media, ia mencontohkan tayangan televisi. Berdasarkan surveinya yang kecil-kecilan, ia dapati bahwa ada banya kanak-anak  yang hafal mars Partai Perindo. “Ini teror!” katanya.

Naufa diperkosa untuk berpendapat. Padahal mood ngomongnya sedang tidak keluar, adanya mood nulis. Kata moderator, ia sudah tua, “dimulai dari yang paling tua”. Kejam banget ya nggak sih moderatornnya? Dengan ngelantur, ia bicara juga.

“Teror adalah suatu ancaman, ketakutan, keresahan, kekhawatiran yang disebabkan oleh sebab-sebab tertentu. Udah, segitu saja, ya!

Anis Fahmi dengan mengacungkan tangannya, dan dipersilakan berbicara. Kali ini cukup bermutu pertanyaannya.

“Kini banyak bentuk teror, salahsatunya  yang masuk ke pelajar-pelajar sekolah, dalam bentuk narkoba.” ungkapnya membuka. “Khusus yang teror di Thamrin kemarin, kenapa polisi baru datang setelahnya, tidak menangkap sebelumnya?”

Al Asfahaniy langsung menanggapi.

Menurutnya, teror ini sulit dilacak, oleh karena pelakunya adalah warga Indonesia. “Kalau pelakunya orang luar, itu akan mudah dilacak.” imbuhnya.

Naufa dipersilakan berbicara. Dengan terpaksa ia nyemplong seadanya.

“Saya hanya ingin menyampaikan apa yang dikatakan Humas Polri. Menurutnya, undang-undang tentang terorisme masih terbatas. Jika belum ada buktinya, tidak ada payung hukum menangkapnya. Itu kata Humas Polri, lho! Mungkin, ibarat orang bawa parang atau arit, polisi tidak bisa serta-merta menangkapnya, jika tidak ada bukti ia digunakan untuk kejahatan”. Itu mungkin mengapa, imbuh Naufa, kini UU terorisme akan direvis isunya marak, agar polisi lebih leluasa bertindak.

Djarot kembali merespon.

Menurutnya, jika bom kemarin itu dilakukan oleh jaringan, tidak mungkin intel atau polisi tidak tahu. Namun, nampaknya, kadang teroris itu dipelihara oleh pihak-pihak tertentu, semisal untuk meningkatkan citra, kepentingan politik dan lain-lain. Menanggapi soal akan direvisinya UU terorisme, ia khawatir kalau nantinya akan memakan korban. “Agama saja, kalau hanya niat jelek saja, ngebom misalnya, kan belum dihukumi dosa! Justeru niat baik, niat haji misalnya, walau nantinya tidak terlaksana, kan sudah dapat pahala!. Jadi, kalau setiap orang yang bawa arit lalu kemudian diciduk aparat, itu mengerikan. Logika hukumnya nggak nyambung!”

“Wah! kalau begitu, thithit kita semua bisa terancam, soalnya bahaya berpotensi memerkosa orang,” celetuk Lukman, diiringi gelak tawa jamaah: “Grrrrrr!!!!”

Mamat dipersilakan bicara.

Ia mengatakan, rekruitmen teroris ada dua cara: magic dan non-magic. Magic jaman dulu sering dilakukan, tapi kini jarang, lebih banyak memakai yang non-magic. Bahkan, katanya,  suatu kali pernah dihadap-hadapkan antara perwira dengan sang teroris, dan disaksikan banyak perwira lain. Dalam tempo tujuh menit, adu argument terjadi, ternyata sang perwira kalah: ikut ideologi dan cara berpikir teroris. Hanya butuh waktu tujuh menit, dari sepuluh menit yang diberikan!

“Kenapa kita yang diteror, bukan kita yang neror mereka duluan?!” kesuhnya. Nampaknya jamaah manggut-manggut setuju, hanya saja belum tahu caranya.

Atmosfir mulai memanas, seiring dinamika diskusi, asap-asap rokok yang bertebaran dan jam yang semakin malam. Tensi diskusi diturunkan.

Dua nomor dari sang legenda hidup Iwan Fals yang dibawakan oleh Anjar Duta, mantan artis yang kini taubat itu(Piss!!!). Nomor pertama berjudul Sumbang. Nomor kedua berjudul Tak Ada Tempat Berpijak Lagi. Beberapa mulut yang hafal ikut menyanyi, menikmati ketersiksaan lagu milik tokoh yang pernah dijuluki “Asian Heroes” oleh Majalah Time itu. Yang baru berkenalan dengan lagu itu, ada yang diam merenungkan, juga memejamkan mata menyelami makna.

Suasana kembali fresh dan cair! Diskusi dilanjutkan!

Kali ini adalah Muhammad Musyafa’ dipersilakan berbicara.

“Ini persoalan yang rumit dan problematis. Apakah teror kemarin itu ada kaitannya dengan kasus freeport yang ingin ditutupi atau isu lain, kita tidak tahu sejatinya. Yang paling penting bagi kita, satu: “Selamatkan diri kita, keluarga dan lingkungan kita agar tidak terseret menjadi teroris” ungkapnya, sambil melambungkan asap rokok ke langit.

Ia menambahkan, disaat yang sama, juga terjadi gerakan yang disebut Gafatar. Kebijakan pemerintah untuk memulangkan mereka ke kampung halaman, juga berpotensi memunculkan masalah baru.

“Eks Anggota Gafatar asal Purworejo yang dipulangkan ada 9-11 orang. Ada kemungkinan mereka mendapat resistensi dari masyarakat. Juga, tanah dan harta mereka yang telah di jual, akan menyulitkan dalam menata kehidupan baru” ungkapnya.

Mbah Mufid, seorang yang paling aneh, anti-maenstream, nrecel dan sepuh di forum itu, ikut berpandangan.

“Pengeboman kemarin itu murni kejahatan. Itu salah dari aspek apapun, baik dari segi agama maupun hukum positif. Bahkan jikapun niatnya adalah suatu kebaikan, harus dengan cara yang baik pula, tidak meneror dan membunuh nyawa orang tak berdosa” ungkapnya, disambut tepuk tangan meriah kepada orang tua pemalu dan pendiam itu.

Al Asfahaniy menyambung, menyuarakan pendapat kritis, nakal dan filosofis-nya.

“Menurut saya, teror kemarin di Thamrin itu kecil, karena buatan manusia. Teror yang lebih besar adalah yang datang dari Allah, seperti bencana alam, gempa bumi termasuk neraka. Jadi, Allah Maha Teror. Dalam Asmaul Husna, kita menganal Allah juga memiliki gelar Al Muntaqim: Maha Penuntut Balas” ungkapnya, disambut gelak tawa. (ada beberapa yang tegang, saudara!)

Ia menambahkan, bahwa keinginan adalah teror bagi diri kita sendiri, seperti uang dan pasangan. Jadi, teror yang langsung dan terasa adalah diri sendiri dan tuhan. “Kalau melihat Mbak Della, hati saya terteror,” celetuknya, sambil melirik cewek di pintu kiri depan, diikuti respon jamaah: “Ciyeee!!!”

Minimal, diri kita jangan menjadi teror bagi orang lain, imbuhnya, disertai muka kemerah-merah mudaan.

Anjar ikut memberi stimulus. Ia berpendapat, sebutan teroris itu temporal, ketika melakukan teror itu juga. Namun, malangnya, kadang “gelar” itu melekat terus kepadanya. Padahal, siapa selain Iblis yang menghalangi taubat seseorang dan khusnul khatimah di akhir hidupnya?

Mukti Ali diberi waktu berbicara.

“Teror itu ada dua: positif dan negatif. Teroris pertama yang diciptakan tuhan itu Iblis. Saya setuju dengan Anjar, bahwa sebutan teoris itu temporal, jangan terus dilekatkan.”

Jika ini dikaitkan dengan tema malam ini, imbuhnya, Mbah Surip adalah sosok manusia yang anti teror. Dalam lagunya, Tak Gendong, ia mau “menggendong” siapa dan apa saja asal menuju keselamatan.

“Soal terorisme, saya sepakat dengan Prie GS, bahwa isu selalu berdiri sendiri, punya kaki dan muara sendiri dan beda yang berkepentingan” imbuhnya.

Beberapa makanan kemudian keluar dari sarangnya, dihidangkan para gadis-gadis berkerudung yang doyan melek itu. Gorengan, agar-agar, klethikan dan ceret (teko) berisi jog-jogan teh dan kopi.

Asap semakin mengepul, memedihkan mata yang tak terbiasa dengan produk yang disukai Soekarno, Che Guevara dan beberapa tokoh pendiri bangsa itu.  Beberapa gadis akhirnya berguguran, mundur kebelakang, tak tahan asap.

Lukman, bapak muda satu anak itu, masuk memberi pencerahan.

“Saya akan kembali menegaskan prinsip-prinsip Maiyah ini. Bahwa disini, di forum ini, jangan sampai ada sesuatu peristiwa terlewati tanpa kita mengambil pelajaran darinya” ungkapnya

Soal teror, sambungnya, adalah input. Outputnya adalah ketakutan, keresahan dan kegelisahan. Untuk menetralisir, mendetoxifikasi hal itu, kita jamaah maiyahmempunya sesuatu  yang sering kita sebut sebagai “teknologi internal”.

“Dalam surah Al Fatihah, Allah sudah memberi rambu-rambu. Ayat 1 dan 2 berbicara tentang diri-Nya: tuhan sekalian alam, pengasih dan penyayang. Baru kemudian dilanjutkan ayat ke-3: maaliki yaum ad-dien, penguasa hari pembalasan.    Para ulama mengatakan, intisari Alquran terdapat dalam surat Al-Fatihah. Melihat proporsionalitas ayat itu, jelas bahwa kasih sayang Allah itu jauh lebih besar dari ‘murka’ Allah.”

Untuk itu, apapun yang kita lakukan, imbuhnya, hendaknya ditransendensikan kepada Allah, karena hakikat hidup itu kita dengan Allah.

Mamat mengacungkan jari, pertanda sesuatu ingin ia sampaikan. Moderator menyilakan. Jamaah menyimak.

“Kalau begitu, mari kita adakan gerakan! Saya punya tanah kosong 500 hektare. Bagaimana jika itu kita peruntukkan untuk para Eks Gafatar yang dipulangkan? Masing-masing nanti kita kasih 50 meter persegi. Dengan dilokalisasi, kita akan semakin mudah membimbing dan mengawasinya. Bagaimana pendapat teman-teman?”

Lukman, wartawan Harian Purworejo itu, langsung nyerobot!

“Kata Plt Bupati, kemarin, eks anggota Gafatar itu akan dinetralisir terlebih dahulu, dengan memasukkannya ke pesantren. Jadi, itu ide bagus dan baik, namun kita tunggu dulu proses yang dilakukan pemerintah. Kalau dirasa pemerintah kerepotan dalam mengembalikan dan mendapat resistensi dari masyarakat, bisa kita komunikasikan.”

Istirahat sejenak!

Merefreshkan beberapa peserta yang sudah mulai menguap, moderator memberi kebijaksanaan istirahat sejenak dengan mendendangkan dua nomor dari Mbah Surip berjudul: Telor Mata Sapi dan Sejarah Cintaku, dua lagu polos dan jenaka yang membuat jamaah tertawa.

Ahmad Afif sang ustadz muda, dipersilakan memberi pencerahan oleh moderator.

“Saya senang bisa bergabung di forum ini. Semoga ini bisa menjadi awal yang baik. Karena menurut Imam Ibn Athaillah Assakandari: Man asyroqot bidayatuhu asyroqot nihayatuhu, Siapa cemerlang di permulaannya, maka terang di akhirnya.”

Rasa takut, atau ketakutan itu tak sepenuhnya jelek, kadang kita butuhkan. Teror itu baik, tinggal bagaimana kita menanggapinya. Dari itu, kita perlu mendalami ayat yang pertama kali turun: Iqra’, bacalah! Membaca kitab, buku dan keadaan.

Dalam dunia tasauf, lanjutnya, ada term Khouf(takut kepada Allah). Namun tidak hanya itu saja, ada penyeimbang, yaitu Roja’(mengharap kasih sayang Allah). Kedua hal ini idealnya balance, seimbang. Dengan melihat apa yang sudah diberikan kepada kita oleh Allah, akan menjadikan kita optimistis. Takut atas sesuatu hal itu wajar, manusiawi. Hanya tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan ilmu. Karena hanya iblis yang cuma takutnya kepada Allah. Laa tahzan, innalllaha ma’ana, jangan bersedih, karena sesungguhnya Allah bersama kita!

Kemudian, moderator menyilakan Firdaus, seorang dai muda untuk berbicara.

“Saya akan sedikit menambahi apa yang telah diutarakan oleh Mas Afif, soal ayat pertama: Iqra’. Ketika Kanjeng Nabi mendapat wahyu ayat itu, beliau menjawab: maa anaa biqariin, saya benar-benar tidak bisa membaca. Dalam ilmu gramatika arab, “maa” dalam ayat itu bermakna zaaidah litaukiid an-nafyi (tambahan berfaidah mempertegas). Namun, secara hakikat, bukan berarti ia tidak bisa membaca. Untuk menerima dan memahami ilmu dari Allah, Kanjeng Nabi tidak butuh perantara tulisan.”

Menambahi Lukman, lanjut Firdaus, bahwa jika inti Alquran terdapat dalam surah Alfatihah, maka inti fatihah ada dalam Bismillahirrahmaanirrahim.

Beberapa gelas berisi kopi telah habis. kemudian terdengar harapan baru: “Di Jok!, di Jok!, di Jok!”

Afif masuk membahas dan bercerita tentang kopi.

Dari sekian banyak hal mengenai kopi yang kita ketahui, sudah tahukah bahwa ternyata sang penemu kopi di tanah arab itu adalah seorang ulama besar sufi yang terkenal, beliau adalah Syeikh Ali bin Umar as Syadzili al Yamani yang di Indonesia dikenal sebagai Syekh Abul Hasan as Syadzili. Kepada beliaulah thariqah as Syadziliyah dinisbatkan.

Nah, Kaitan beliau dengan Kopi ini berawal dari perjalanan beliau ketika hendak beruzlah. Konon ketika beliau dalam perjalanan untuk uzlah dan khalwat atau mengasingkan diri dari segala hiruk pikuk bisingnya dunia agar bisa lebih memusatkan perhatian, hati dan pikiran untuk Allah semata, beliau terus berjalan sepanjang hari, kemudian ketika malam hari datang, beliau tiba di suatu daerah yang lebat dengan pepohonan. Bahkan dipenuhi pula dengan hewan liar dan buas. Maka Syekh Ali bin Umar as Syadzili memutuskan untuk memanjat suatu pohon yang tinggi agar tidak terkena serangan binatang buas. Ternyata setelah beliau sampai diatas, beliau menemukan pohon tersebut dipenuhi dengan buah buahan yang berupa biji bijian kecil. Lantas beliau mengambilnya dan memakannya, anehnya beliau tidak merasakan kantuk sama sekali sepanjang malam. Dan ketika pagi menjelang, beliau mengambil kembali beberapa dari biji-biji tersebut untuk dimakan didalam perjalanannya, dengan tujuan untuk menghilangkan rasa kantuk. Dan ketika biji-biji tersebut mulai kering, beliau tidak langsung memakannya, melainkan memanggangnya terlebih dahulu diatas api dan kemudian menyeduhnya dengan air dan meminum air seduhan tersebut. Dan akhirnya menyebarlah minuman kopi sampai sekarang dan menjadi minuman terpopuler dijagad ini.

Setelah sekian lama minuman kopi dikenal di bumi Arabia, terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai hukumnya, beberapa ulama berpendapat tentang keharaman kopi dan sebagian mereka menghalalkannya. Perbedaan ini terus berlanjut hingga terjadi perdebatan sengit antar ulama dan fitnahpun beredar di negeri syam. Lantas hal tersebut dihentikan oleh syekh Abdul Ghoni an-Nabulisi dengan berfatwa akan kehalalannya lalu beliau bersyair dengan dua bait syair:
قهوة البن حلال…قد نهى الناهون عنها
كيف تُدعى بحرام…وأنا أشرب منهـــــا
“ biji kopi itu halal, sungguh mereka para pelarang telah melarangnya
Bagaimana bisa mereka menyatakan hal itu haram sedangkan aku meminumnya”

Firdaus menambahkan.

Dan akhirnya pendapat Syekh Abdul Ghani tersebut dikuatkan oleh salah seorang ulama yang telah bermimpi bertemu Baginda Rasulullah saw lantas beliau menanyakan perihal perkara kopi tersebut, bagaimanakah hukumnya?, lantas Rasulullah saw menjawab “malaikat akan terus senantiasa memintakan ampun bagi si peminum kopi selama aroma rasa kopi tersebut masih tersisa di mulutnya. Wallahu a’lam.

Sidik alias Ilhan Erda angkat bicara.

“Wolulasan ini sangat bermanfaat, jadi tahu ilmu baru. Jadi bisa berpikir siklikal, tidak linier. Hati rasanya nyes! Ibarat piring yang kotor, kembali dicuci, meski kadang kotonya kambuh lagi”

Afif langsung menyambar.

“Sak ora nggenah-nggenae wong kuwi, wong sing rumongso nggenah, orang yang paling tidak jelas itu adalah orang yang merasa dirinya jelas! “ katanya.

“Kata Ibnu Athaillah: Idza waqa’a minka dzanbun falaa yakun sababan liba sika min hushuulil istiqaamati ma’a rabbika faqad yakuunu dzaalika aakhiru dzanbin quddira ‘alaika; jika terlanjur berbuat dosa, janganlah menjadi penyebab engkau berputus harapan untuk istiqamah kepada Tuhanmu. Mungkin hal itu akan menjadi sebab sebagai dosa terakhir yang ditaqdirkan Tuhan untukmu” imbuhnya.

Yang perlu kita gadang mungkin iman. Karena kalau sudah mantap, kita tidak akan takut miskin, karena kita adalah hamba dari Dzat Yang Maha Kaya.

Anjar kemudian mengarahkan diskusi ke tema besar.

Ia mengatakan, telah kenal lama dengan Mbah Surip, ketika kuliah di IKJ dulu. Mbah Surip, menurutnya, adalah sosok yang ikhlas, rendah hati dan familier. Ia mengenal nama-nama orang yang baru dikenalnya. Dalam hal dunia, ia juga berlepas diri, meski pernah dijuluki “manusia 8 M” yang ternyata royalti sebesar itu dilibas oleh label. Begitulah dunia industri. Namun Mbah Surip tak membalas apa-apa. Ia tetap seperti sedia-kala: berpakaian sederhana dan apa adanya. Bahkan, sampai meninggal ia masih ngontrak: belum punya rumah. Manusiaseperti Mbah Surip ini, tentu langka, manusia yang tidak sibuk menyembah mengurus materi, tetapi hidup dengan jiwanya yang merdeka. Istilah anak sekarang: passion!

Lukman melanjutkan.

Keikhlasan, jujur dan apa adanya seperti Mbah Surip itu sulit sekali. Di depan pejabat kadang kita senyum dan “siap ndan!”, padahal dibelakang mencela-cela!

Orang-orang dulu jujur, apa adanya dan berani menyampaikan kebenaran dan isi hatinya.

Sebagai contoh, ternyata, dalam tahun 80-an, Mbah Mangli sudah berani ngasok-ngasokke presiden dan pejabat. Padahal, otoritrianisme Orde Baru ketika itu begitu mengerikan, sampai orang dakwah pun harus punya kartu identitas tersendiri.

Juga, Bung Karno ketika itu berani dengan  mengatakan lantangnya: “”Amerika kita setrika, Inggris kita linggis!!!”. Padahal, waktu itu, juga sampai kini, Amerika adalah negeri adidaya, dengan persenjataan lengkap, tidak seperti milik tentara kita.

Intinya, kejujuran dalam hidup ini menjadi penting, dan kini ia menjadi barang berharga karena langka!

Jujur terhadap diri sendiri dan orang lain.

Terus, apa yang kita terima itu sudah kita dapat dari apa yang kita lakukan. Jika kita mencuri sendal, lain kali sandal atau barang lain yang kita miliki akan hilang. Jika kita bohong, suatu saat mungkin kita akan dibohongi. Jika kita terkena suatu peristiwa pahit, itu merupakan balasan dari apa yang kita lakukan sebelum-sebelumnya. Maka, jika ada yang bilang Maiyah ini tidak ada gunanya, hanya obrolan dan doa lari dari kenyataan, saya tidak percaya itu. Saya yakin, bahwa disini kita datang dengan niat tulus mencari ilmu, membaca Alquran, diskusi untuk kebaikan diri, lingkungan dan negara, pasti ada efeknya! Caranya terserah Allah. Bisa saja para koruptor cepat ditangkap, terkena struk ghingga mati dan lan sebagainya, sehingga Indonesia kedepan bisa lebih baik. Saya meyakini itu.

Firdaus Tampil.

Kesulitan yang membuat kita  lebih baik itu utama daripada kebaikan yang membuat kita senang. Jangan kita merasa lebih baik dari siapapun, karena yang dilihat oleh Allah adalah hatinya, seperti dalam syiir Tanpo Waton: senajan asor toto dhohire, ananing mulyo toto bathine.

Seorang pelajar dari SMA N1 bertanya: “Bagaimana cara menghadapi guru yang terlalu mengintervesi kita?”

Salahsatu jamaah menjawabnya. Pertama sampaikan apa adanya dengan baik dan lembut. Kedua, beri argumen jika intervensi itu memang akan berdampak buruk. Opsi lain, bisa juga dengan menulis di mading dengan kisah satire. Guru tak selamanya benar, dan murid juga bukan kerbau yang tak bisa berpikir dan merasa.

Malam sudah berganti pagi. Namun suasana masih menarik untuk diikuti sampai akhir. Beberapa peserta baru yang dari SMA khusuk menyimak. Untuk menurunkan adrenalin yang melonjak-lonjak, moderator memberi kesempatan menyanyikan dua nomor.

Tak Gendong dan Bangun Tidur Tidur Lagi seakan menjadi mata air yang menyegarkan dahaga dan membahagiakan kalbu di dinihari itu. Hingga suasana fresh kembali.

Usai menyanyikan lagu, kemudian Cak Luk menarik kesimpulan dari apa yang telah didiskusikan. Intinya, apapun peristiwa di dunia ini harus ditrandensikan kepada Allah.

Moderator mengembalikan forum kepada Imam, koordinator Wolulasan.

Ia menghimbau, khususnya kepada yang baru dan masih SMA, agar bisa mengambil yang baik-baik dari forum ini. Apabila ada kata-kata “kotor” yang keluar, itu hanyalah kemesraan semata, hanya produk budaya, yang seyogyanya hanya cukup di Wolulasan ini saja, jangan sampai dibawa keluar, karena “alamnya” beda. Kata kotor di forum ini sudah menjadi “kalimah thayyibah” dan bumbu kecairan forum yang semuanya tidak ada yang dirugikan.

Di penghujung, dilangitkanlah Mars Maiyah berulang-ulang dengan khusyu’:

Chasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal mawla wa ni’man nashir.

Dilanjutkan Duh Gusti!:

Duh Gusti mugi paringo ing margi kaleresan, kados margining manungso kang manggih kanikmatan, sanes margining manungso
kan Paduko laknati.

Acara ditutup dengan doa. Bubarlah satu persatu peserta. Beberapa masih melanjutkan membahas sejarah manusia dan agama sampai kemudian masjid “cek sound” dan berkumandanglah adzan subuh.

Sehabis subuh, diantara peserta yang nambah diskusi sampai subuh itu, ada yang bersemangat untuk langsung menulis reportase Maiyah.

Dan selesai tit! pada waktu dzuhur, saat ini juga, di pukul 11:40 WIB.

Iklan

2 thoughts on “Reportase Maiyah Januari 2016: Teror Mata Sapi

Add yours

  1. Mas.., adakah CP, grup online (fb, wa, apa saja) yg bisa dihubungi atau menghubungkan diri (terhubung) untuk dapat share, jadwal, info, berita, atau apapun saja terkait Maiyah Purworejo? atau bisa ikut majelis langsung pas balik ke (sedang di) Purworejo.

    Maturnuwun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: