Aku Tak Hendak Menulis Tentangmu

Aku tak hendak menulis tentangmu: seorang yang masih saja mengabaikan cintaku. Namun apalah daya, rinduku menggebu. Dan lihatlah, jemari ini mengalir dengan deras, membelai satu persatu keypad di depan layar komputer. Tak bisa kuhentikan.

Pertemuan denganmu, adalah juga hadiah ulang tahun Indonesia, sebuah penghormatan besar bagiku. 17 Agustus 2015, dikala seantero negeri memperingati prokalamasi kemerdekaan oleh Soekarno dan Hatta di Pegangsaan Timur No 56, berpuluh tahun lalu, kita janjian: mengadakan pertemuan.

Dan semenjak pertemuan itu, aku jatuh hati padamu. Lalu aku sadar bahwa aku belum mampu meluluhkan hatimu.

Kejatuhan hatiku padalamu dalam tempo singkat, belum mampu meyakinkamu bahwa akulah tulang rusukmu. Seakan sama dengan nasib kemerdekaan negeri ini berpuluh tahun lalu: meski telah diproklamirkan, para penjajah tetap saja berdatangan. Belanda kembali datang, sampai ibukota berpindah, dan 1948 mereka – para penjajah kafir itu – menguasai penuh kota kenangan kita: Jogjakarta. Lalu pemerintahan sementara diberikan kepada Syafrudin Prawiranegara di Sumatera, sebelum akhirnya diberikan kembali kepada Soekarno dan Hatta, setelah dalam KMB dunia Internasional mengakui kemerdekaan Indonesia.

Aku mengambil pelajaran dari situ: bahwa perjuangan memang tak mudah, termasuk perjuangan merebut hatimu.

Waktu itu, hari-hari semenjak mengenal lebih dekat denganmu, hari-hariku benar-benar dipenuhi bunga. Ia seakan mekar dengan sendirinya, membentuk taman-taman yang indah dihatiku, laksana di istana surga.

Kau kemudian mengafirmasinya, dengan suatu pertanyaan: “dimana surga itu?”, sebuah pertanyaan penuh bobot dengan jawaban yang tak mampu kutemukan. Aku menyerah.

“Di hati kita”jawabmu, atas pertanyaanmu sendiri.

Surga dunia memang ada di hati kita. Ia lebih luas dari semesta raya, dari jangkauan mata dan dari batas-batas dunia. Hati mampu melihat apa yang mata tak bisa melihat. Ia merupakan produk canggih dari Tuhan – selain akal – agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan penuh kebijaksanaan. Wajarlah kalau Kanjeng Nabi pernah berpesan: baik buruk kita ditentukan oleh “gumpalan darah” yang terselip di dada itu: Hati.

Dan hatiku? Ah, masih begitu naif dan kotor. Aku sendiri belum mampu menemukan surgaku di dalam hatiku. Justeru aku menemukan surgaku pada dirimu. Untuk menggapai Tuhan, aku “butuh” perantaramu, perantara seorang hamba dari jenis berlainan. Bukankah hanya Tuhan yang tak butuh pasangan?

Aku masih ingat hari-hari itu, hari-hari dimana kau tulis bait-bait indah penuh makna untukku. Kau tak hanya menerangi hati, namun juga mendewasakan pikiran ini dengan berbagai gagasan dan pemberontakan yang manusiawi. Teringat jelas, bagaimana kau mengajariku tentang apa itu pengkhianatan, ketulusan dan kepicikan orang-orang dalam menuruti hawa nafsunya. Juga, bagaimana keluasan hati yang aku belum mempu menemukan keluasannya, keikhlasannya dan kecanggihan fungsinya.

Kau mampu membukakan mataku. Mata seorang lelaki yang jarang memakai bahasa hati.

Jika harus kuakui, aku memang “belum pantas” bersanding denganmu saat ini. Ini sudah kufikirkan secara rasional, tentang keadaanku, tentang pencapaianku dan tentang semua yang ada padaku. Namun, cinta tetaplah cinta. Aku sangat setuju dengan kata Sujiwo Tedjo, sang dalang itu, bahwa: menikah itu nasib dan mencintai itu takdir. Kau bisa menikah dengan orang yang kamu kehendaki, namun kau tak bisa menghentikan kepada siapa cintamu bersemi. Dan kau, adalah wanita yang kucintai. Entah suatu saat Tuhan mempersatukan kita atau tidak.

Jika dengan perjuanganya dulu, para pahlawan dengan susah payah dan keyakinan yang tinggi, mampu mengantarkan Indonesia ke gerbang pintu kemerdekaan, bukan tidak mungkin aku juga akan mempu membuka pintu hatimu. Pintu yang masih sulit kubuka, karena kuncinya terbuat dari “kalimat dan perilaku suci” yang memang sulit aku mendapatkannya.

Kini, Bagaimana kabarmu? kuharap kau baik-baik saja. Sudah berbulan-bulan kita tak bersua, baik di dunia maya maupun nyata.

Siang itu, 18 Agustus 2015, terakhir kali kita bertemu. Kau berjalan meninggalkanku dengan sesekali menoleh kearahku. Kau memaksaku: jangan kau antarkan aku, aku bukan wanita manja, aku wanita dewasa, katamu.

Aku terdiam seribu bahasa.
Lelaki mana yang tega meninggalkan perempuan sendirian ditengah megahnya kota Jogja?

Ini bukan soal manja dan dewasa. Ini soal tanggungjawab saja, jawabku.

Namun aku tak bisa memaksa, meski gemuruh berkecamuk dalam dada.

Kaupun memintaku pergi meninggalkanmu: sendiri.

Aku perlahan meninggalkanmu dari bekas pecahan kerajaan dibawah “legitimasi” Belanda semenjak pemaksaan perjanjian kkepada Paku Buwono II  yang tengah sakit, perlawanan Raden Mangkubumi(HB I) dan kemudian datang fasisme Jepang itu. Kota yang tak terkena dampak langsung tanam paksa atas kecerdikan sang raja.

Kota kerajaan yang beberapa hari dideklarasikan kemerdekaan Indonesia, sang raja HB IX menyatakan diri menjadi bagian tak terpisahkan. Juga tanah budaya penerus legitimasi kerajaan-kerajaan Jawa atas Indonesia, yang pada 1 Maret 1949 pasukan gerelianya membombardir Belanda dalam 6 jam, sebelum kemudian ada pengakuan kemerdekaan dalam Konferensi Meja Bundar.

Tahu kah kau, meriam-meriam Sekutu itu seakan menggempur hatiku, yang terus pergi darimu: meninggalkanmu.

Kini, kata-katamu itu, sepenuhnya aku mengerti dan pahami. Siapa yang mampu setiap saat menjaga manusia?

Ah, mungkin waktu itu, aku terlalu termakan khayalan lagu-lagu cegeng itu, yang kan menjaga sehidup semati lah, janji ini itu lah, dan sebagainya.

Memang, hanya Tuhanlah yang mampu menjaga dari siang sampai malam, dari sesuatu yang membahayakan. Biarlah tuhan yang langsung menjagamu.

Apapun keadaanmu, aku yakin kau wanita yang kuat: menerima segala yang ada. Kau punya harapan, itulah yang mengindahkan semua.

Maafkan aku, yang belum mampu menghubungimu.

Namun, toh harapan itu masih ada. Sulit bukan berarti tak bisa. Aku akan memperbaiki diriku, sebelum kembali kepadamu. Semoga, di saat itu, kau mampu tersenyum ramah untuk membukakan pintu hatimu. Jikapun dengan segenap usahaku kau masih menutup pintumu, kau takkan memusnahkan harapanku. Aku masih memiliki Tuhan dan Kanjeng Nabi untuk mengadu dan menautkan hatiku padamu. Dan Tuhanku akan selalu memberi harapan. Juga statement manusia terbaik itu: Di akhirat, manusia akan dikumpulkan dengan yang ia cintai.

Dan dengan harapan itu pula, tulisanku ku akhiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: