Saya tak ada ubahnya ibu: ngefans dengan seorang penyanyi wanita Indonesia yang cerdas, inspiratif dan yang membanggakan: sudah go Internasional. Yah, Anggun C. Sasmi. Mbak Anggun, begitu disini saya memanggilnya, selain suka banget dengan makanan yang bernama jengkol, ternyata juga lantang menyuarakan feminisme. Ini merupakan temuan pertama saya tentang Mbak Anggun, yang belumnya belum pernah saya ketahui.

Lewat tulisannya yang dimuat di Qureta.com berjudul “Feminisme dan Solidaritas Maskulin”, saya yang dari dulu hanya menikmati lantunan suara dan video Mbak Anggun, kini meningkat secara progressif: menikmati kegelisahan, perlawanan, pemberontakan dan pemikirannya yang cerdas.

Soal kecerdasan, saya sudah menduga dan mengakui sejujurnya dari dulu, dengan ia fasih berbahasa asing dan kemampuannya membangun karier yang cemerlang. Namun, soal gagasan dan keresahannya atas problematika kemanusiaan, terlebih soal feminisme, baru tahu sekarang.

Membaca tulisan Mbak Anggun, saya senang dan semakin ngefans dengan beliau. Berarti penyanyi ini tidak hanya cantik, berpendidikan, lincah, namun juga memiliki kecerdasan sosial yang tinggi.

Saya senang Mbak Anggun menulis itu: mengkritik perilaku asusila dan pelecehan. Namun, kiranya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dimengerti oleh Mbak Anggun, khususnya hal-hal yang terkait dengan agama Islam.

Dalam tulisannya, Mbak Anggun berkata: Kesaksian para korban (kekerasan seksual) mengungkapkan penjelasan yang mirip, yakni aktor pelakunya adalah para pria dari Timur-Tengah dan Afrika Utara atau yang umumnya dikenal sebagai “orang Islam”.

Meski dengan tanda petik, Mbak Anggun sekiranya perlu mengubur tendensi dan penyalaha terhadap orang Islam, karena itu hanya berpotensi memicu konflik. Kedua, adalah tanggapan Imam Sami Abu Yusuf yang terkesan dan terasa simplitis dan linier. Kedua masalah ini, akan saya jabarkan setahu saya.

Pertama, bahwa jika itu adalah memang pelakunya orang Islam, tentu itu adalah kesalahan oknum, Mbak. Salah atau tepatnya kurang tepat jika disebut “orang Islam” secara keseluruhan. Apa tujuan Mbak Anggun menulis: “umumnya dikenal sebagai orang Islam?”

Setahu saya, Mbak Anggun adalah seorang muslimah, yang dari garis keturunan Ibu juga masih mengalir darah Kesultanan Mataram Islam. Tentu, meski Mbak tidak belajar agama langsung dari pesantren, tentu sedikit banyak belajar dari hal-hal yang terkait dengan Islam, bahkan agama-agama lain, entah dengan buku atau siapapun.

Begini Mbak.

Satu-satunya agama yang secara tegas memperjuangkan feminisme, sesungguhnya adalah Islam. Tak ada kitab suci agama apapun yang secara tegas memperjuangkan feminisme seperti yang anda perjuangkan.

“Inna akramakum ‘indallahi atqaakum, bahwa semulya-mulia kamu sekalian adalah yang paling bertaqwa diantara kamu” demikian al-Quran meredaksikan. Artinya, kemuliaan dimata Allah itu yang paling bertaqwa, bukan lelaki wanitanya.

Juga, perlu kita tahu, bahwa pujian Allah dalam ayat: baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (sebuah negeri yang damai sentosa) adalah pujian Allah yang ditujukan kepada negeri Saba’ yang dipimpin ratu Bilqis, seorang perempuan.

Islam amat menghargai kaum perempuan.

Nah, soal pelaku itu, adalah soal oknum. Saya kira begitu. Kalau soal pelecehan dan kebiadapan moral, saya berani berhitung dengan Mbak Anggun, mana yang lebih besar: Islam atau lainnya. Tidak hanya hari ini, bahkan semenjak dahulu.

Jadi intinya, soal ini adalah oknum, yang di agama mana saja ada. Kekerasan dan kejahatan saya kira tak identik dengan agama manapun, karena yang meresapi agamanya tentu tidak bersikap demikian.

Kedua, soal statement Sami Abu Yusuf yang menganggap itu kesalahan perempuan itu sendiri.

Begini Mbak. Menurut saya, statemen itu tidak mewakili Islam atau umat Islam secara keseluruhan. Itu memang statement yang linier dan kurang adil. Khusus soal itu, tentu saja salah pelaku yang mencapai puluhan itu. Itu adalah statemen pribadi, bukan lembaga.

Berbeda dengan di Indonesia, Mbak. Disitu tidak ada ormas seperti NU atau Muhammadiyah yang memiliki dewan permusyawaratan untuk membahasa problem aktual. Itu kelemahannya. Lagi pula, orang-orang seperti beliau, di Indonesia juga mulai tumbuh: tekstualis, radikalis baik secara berpikir, berkeyakinan maupun bertindak. Itu, sama sekali tidak mewakili mayoritas umat Islam, Mbak. Bahkan, di Indonesia minoritas.

Dan, ditiap kali khotbah, Para Imam Masjid selalu mengatakan suatu surat dalam Al-Quran: wala u’dwaana ila ‘aladz dholimin, tidak ada permusuhan kecuali kepada yang dhalim, penindas, penganiaya dan penjahat. Artinya, musuh di dunia bagi orang Islam itu bukan yang beda agama, suku, ras atau apapun, tetapi yang berbuat dhalim. Siapapun itu.

Pelaku yang kemarin, jika toh seandainya memang orang Islam, kami mengutuknya dan memusuhinya. Tapi apa kita tahu agama orang itu? Bukankah agama itu dalam hati? darimana kita tahu itu? Prediksikah?

Sebaiknya, penuduhan dengan agama tertentu tidaklah usah dilakukan, karena itu hanya akan menyulut permusuhan.

Jadi, kepada Mbak Anggun yang terhormat, intinya dua hal itu dari saya. Bahwa tolong sebut itu adalah oknum, seperti juga teror yang dilakukan sekarang di berbagai negara-negara arab dan palestine. Kedua, “fatwa” itu saya kira tidak mewakili umat Islam secara keseluruhan. Jadi, mohon dipahami dan berbesarhatilah bahwa agama tidak sesempit dan sesimpel itu.

Saya salut atas sikap kritis Mbak Anggun!