Perkenalkan, namaku Reni (bukan nama sebenarnya). Aku lahir 19 tahun lalu di sebuah desa di Purwakarta, Jawa Barat. Wajahku putih, bersih dan lumayan cantik untuk seorang cewek. Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku, cowok dan cewek, masing-masing duduk di bangku SD dan SMP. Semenjak lulus SMA tahun 2012 kemarin, sebagai anak pertama, aku berniat bekerja untuk membantu ibu yang lama ditinggal cerai ayah.

Berhari-hari aku membawa surat lamaran ke berbagai perusahaan, tapi sia-sia. Ijazah SMA hari ini sepertinya tak laku apa-apa. Aku bingung harus berbuat apa. Sedangkan, ibuku harus kerja banting tulang bekerja sebagai buruh di laundryan. Seringkali air mataku menetes tiap melihat ibu bekerja sendirian untuk menghidupi ketiga anaknya.

Di tengah kebuntuan itu, Vina, salah satu kakak kelasku di sekolah yang telah merantau, mengajakku bekerja ke luar kota.

“Ren, kamu sudah lulus kan?” tanya Vina.

Iya. Sedang bingung cari kerja nih? Tempatmu ada lowongan, nggak?” tanyaku lagi.

“Kebetulan tahun ini buka lowongan. Ya sudah besok ikut aku saja?” tawarnya.

Beneran? Oke deh, aku ikut.” Kuikuti saja tawaran Vina. Hampir stres hidupku menjalani hari demi hari dengan menganggur. Badan pegal karena menganggur itu lebih menyakitkan daripada pegal karena kerja. Tawaran Vina itu membuka secercah harapan bagiku.

Aku segera berkemas, oleh sebab masa cuti Vina sudah habis hari ini. Besok ia akan mengajakku ke tempat kerjanya di Semarang, ibukota Jawa Tengah. Kami janjian bertemu di stasiun kota.

Pagi-pagi sekali, aku pamit pada ibu dan kedua adikku. Roman muka ibu tampak cemas. Mungkin ia khawatir melepas anak perempuannya yang baru saja beranjak dewasa. Setelah ibu menasihati beberapa pesan, aku berpelukan dengan ibu. Kucium adik-adikku lalu berangkat menuju stasiun untuk menemui Vina dan berangkat ke Semarang.

Tepat pukul 06.00 WIB aku bertemu Vina di stasiun. Tak lama kemudian, jadwal kereta berangkat. Gerbong-gerbong tua itu pun membawa kami menuju Semarang. Hamparan sawah dan pegunungan yang hijau meneduhkan pandanganku sepanjang perjalanan. Rumah-rumah kumuh di pinggir-pinggir rel, anak-anak kecil bermain, dan antrean kendaraan di tiap palang pintu seakan tuan rumah yang menyambutku.

Sampai di Semarang, aku diajak Vina menuju gedung tinggi bertingkat.  Usai memasuki pintu utama, aku diperiksa oleh dua petugas security yang badannya besar-besar. Aku lolos dengan sedikit grogi dan penasaran.

“Tempat apa ini, Vin?”

“Sudah, ikut saja, nanti kau tahu sendiri.”

Aku dibawa ke suatu ruangan bertuliskan “head officer”, menemui seorang wanita tambun, berusia sekitar 40 tahun dengan lipstik merah dan make-up tebal.

“Mi, ini aku bawa teman. Dia butuh kerjaan,” kata Vina kepada wanita itu.

Sebelum menjawab, wanita itu memandangku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah itu, rona mukanya mesem, seakan setuju dengan penampilanku. Lalu ia menanyakan nama, profil dan komitmen kerjaku. Aku menjawabnya dengan penuh percaya diri dan antusias.

“Baik, kebetulan di sini membutuhkan karyawan,” jawabnya membuka secercah harapan.

Yes! Aku diterima kerja, gumamku dalam hati bahagia. “Terima kasih, Bu, atas kebijaksaannya menerima saya,” jawabku.

“Sama-sama. Tolong, panggil saya: Mami ya, Ren!” balasnya.

“Baik, Mami.”

“Silakan, Vin, diantar ke asrama. Mulai Senin besok, dia ikut pelatihan dulu sebulan!” perintahnya. Lalu Vina pamit undur diri dan mengantarku menuju asrama karyawan.

Beberapa hari kemudian aku mengikuti pelatihan di suatu vila di Semarang. Awalnya, aku kaget, di pelatihan ini. Betapa tidak? Ternyata, kerja Vina, dan kerja yang akan kujalani adalah menjadi therapis atau pemijat plus-plus.

Namun, bagaimana lagi, dari rumah aku sudah membawa sejuta asa. Di tengah kota yang sebesar ini pun aku sendiri, hanya Vina satu-satunya teman yang kukenal. Maka, aku berpasrah saja. Aku jalani pelatihan sebulan itu sampai aku benar-benar praktek dan menjadi therapis yang benar-benar memiliki skill.

Awalnya, aku sangat risih. Bagaimana tidak? Tangan mulusku yang polos ini, harus memijat om-om yang sudah tua. Banyak dari mereka adalah pejabat dan bos-bos besar. Kadang, mereka juga tidak hanya minta pijat, tapi “lebih” dari itu. Aku sudah terjebak, tak ada pilihan lain, seperti perawan di sarang penyamun. Akhirnya kuterima saja peraturan dari perusahaan itu, baik yang hanya pijat, sampai “lebih” dari itu: menuruti nafsu tamu-tamu.


Dua tahun kemudian, aku dipindahkan ke area Yogyakarta. Gedungnya sama besar di kota gudeg ini: 10 lantai, lengkap dengan berbagai  fasilitas seperti kolam renang, bar, karaoke, diskotek dan segala tentang kemewahan hidup.

Setelah sekian lama aku menjadi therapis, suatu saat, aku temui tamu yang aneh. Aneh banget malah. Tamu yang lain daripada yang lain. Begini ceritanya.

Hari itu masih sore. Aku masih menunggu tamu di losmen, bersama sekitar 50-antherapis. Tiba-tiba operator memanggil empat orang, dan aku di antara empat itu. Kami pun berempat berjalan menuju ruang tamu di lantai lima. Kulihat ada empat pemuda yang sudah duduk sambil merokok. Kami pun masing-masing membawa keempat pemuda itu ke bilik terapi.

Aku dapat seorang yang paling kurus di antara mereka. Sampai di bilik, ia masih saja merokok. Sebagai therapis yang baik, aku menawarkan dulu kepadanya.

“Mari, Mas. Tiduran, biar aku pijat.”

Ndak ah, aku ndak mau pijat!”

Lho, terus maunya apa?”

“Aku mau ngobrol-ngobrol saja”

“Ai, Mas. Ini terapi mahal lho. Sayang kalau nggak dipakai. Apa aku kurang cantik?”

Nggak! Kamu cantik. Aku dijebak temanku hingga sampai sini”

“Tetap saja Mas, sayang. Cuma 120 menit, bayarnya berjuta-juta lho!”

Nggak apa-apa! Hmmm, enak ya jadi therapis, kerja ringan, dapat bayaran” katanya sambil merokok.

“Terpaksa saya, Mas,” jawabku

“Kok terpaksa? Bukannya enak?”

“Enak dari mana? Nggak punya kebebasan, Mas! Siapa pula yang tenang hidup di tengah gelimpangan dosa begini”

“Oh…. Bagaimana kamu bisa sampai sini?”

Kemudian aku ceritakan secara legkap dan panjang mengapa aku sampai ke tempat kerjaku ini. Hampir satu jam diselingi canda pemuda aneh itu. Kadang sedih, kadang tertawa terbahak-bahak. Sepertinya ia punya sedikit bakat melawak.

“Aktivitasmu dari pagi sampai malam apa?”

“ Aku bangun jam setengah lima. Kemudian salat subuh.”

“Oh….” ia tampak kaget dan melongo, mungkin dalam hatinya berkata: “Wanita kayak giniternyata salat juga!”

“Bagus! Lanjutkan,” imbuhnya.

“Habis itu biasanya tidur lagi, sampai jam setengah sembilan. Jam sembilan berangkat, sampai pulangnya malam, jam sebelas. Kayak gitu setiap hari, kecuali Minggu.”

“Hmmm, gajimu bagaimana?”

Alhamdulillah, Mas. Gaji pokok per bulan dua juta, belum tip dari tamu, belum yangngedate khusus hari Minggu. Dan yang lebih senang, dua tahun ini, aku sudah bisa bangunkan toko untuk ibu. Jadi, untuk adik-adikku yang masih sekolah, ibu sudah memiliki penghasilan. Aku bangga sekali bisa bantu ibu, juga adik-adikku.”

Kemudian air mataku hampir jatuh, namun kutahan.Teringat ibu beserta seluruh perjuangannya seorang diri membesarkan adik-adikku. Entah mengapa, pemuda itu meruntuhkan perasaanku. Sorot matanya tajam dan teduh menatap mataku tiap kali bicara, tak melihat aku memakai baju dan celana mini seakan ia tak tertarik dengan segala keindahan yang aku miliki. Aku jadi gugup sendiri, merasa tidak enak. Kututup apa yang terbuka dengan handuk kuning yang kubawa.

“Sudah ah, Mas! Kalau diteruskan aku nanti menangis! Mari pijat saja, lihat waktunya hampir habis!”

“Punya tabungan nggak kamu?”

Alhamdulillah, Mas. Aku kan sadar, kalau suatu saat, kecantikanku akan hilang dan perusahaan ini tak lagi membutuhkan. Jadi, sedikit demi sekidit aku sudah menabung untuk masa depan. Kelak, aku akan berhenti, Mas, hidup normal dengan satu pasangan, seperti impian setiap orang.”

“Bagus! Anak cerdas kamu! Semoga cepat berhenti. Memang sekarang masih cantik apa?” pujian nonfisik sekaligus candanya, suatu yang jarang kudapatkan dalam kerjaanku ini.

“Ih, Mas bisa saja godain! Sini pijat saja! Aku nggak mau makan gaji buta, bukan dari hasil kerjaku, bukan dari tetesan keringatku”

“Ya sudah, ini jari tangan saja ditheklak-theklik biar pegalnya hilang!”

Kemudian waktu pun habis. Ia mengucapkan terima kasih, sambil meminta nomor teleponku. Aku pun mengucapkan terima kasih atas ngobrol yang penuh canda tawa itu, di 120 menit itu. Itulah tamu misterius yang pertama kali kutemui, yang belum pernah ada sebelumnya: membuang berjuta-juta hanya untuk ngobrol saja. Hanya seorang itu saja.

Namun sampai kini, orang itu tak pernah meneleponku meski hanya sepatah kata.