Maiyah Februari 2016 : Eskalasi Generasi

(Reportase Wolulasan ke-63 | Jamaah Maiyah Purworejo |Selasa, 8 Februari 2016)
Aula Hotel Ganesha Purworejo agak berbeda dari biasanya, juga mungkin hotel-hotel lainnya di seluruh dunia. Karpet sederhana dihamparkan, serta sepotong spanduk hitam dengan gambar lentera redup bertuliskan: “wolulasan”, sebuah pertanda acara “tanpa biaya” dan bantuan pemerintah segera dilaksanakan.

Bacaan Alquran dilanjutkan Albarzanji malam itu menggema, menyusup ke sela-sela atap Aula, lalu dibawa angin terbang ke langit, bertebaran doa-doa: pujian kepada manusia yang tak seperti manusia biasa: Muhammad saw. Dengan iringan rebana, anak-anak muda itu membuncahkan adrenalin spiritual: menikmati agama.

“Ya nabi salamun ‘alaika” … “ya rasul salamun ‘alaika” (“wahai Nabi, keselamatan bagi anda” … “wahai Rasul, kesalamatan bagi anda. “ya habib salamun ‘alaika” … “sholawatulloh ‘alaika (“wahai sang Kekasih, keselamatan bagi anda” … “rahmat Allah tercurah kepada anda”)

Itulah pujian dan doa, yang dialamatkan kepada manusia terbaik dan sempurna, dengan harapan doa itu akan memantul kepada sang pembaca. Ibarat gelas yang telah penuh, lalu kita isi supaya luber, lalu keluberan itu mengenai kita.

Kemudian, Imam Khoiri sang koordinator membuka dengan prolog. Ia minta ada doa dari para jamaah maiyah, ditujukan kepada korban longsor di Penungkulan, Gebang, Purworejo beberapa waktu lalu. Juga, kepada ayah dari sahabat Muh Arifin, ketua umum PMII sekaligus salahsatu pegiat Maiyah Purworejo, yang baru saja dipanggil kehadirat Allah swt.

Indonesia Raya menggema, dinyanyikan dengan bebas: berbagai ekspresi dan gaya, namun tak sedikitpun mengurangi kekhusyukannya. Kemudian Imam menjelaskan, suatu saat ketika ada acara di desanya, ia meminta semua yang hadir berdiri dan menyanyikan lagu fenomenal itu, namun disambut dengan cibiran: “kok nyanyi Indonesia Raya, kayak anak SD upacara di hari senin saja!” Imam kemudian menjelaskan, bahwa lagu kebangsaan itu tidak hanya milik anak SD dan dinyanyikan di hari-hari tertentu, namun milik kita bersama dan mesti selalu dinyanyikan agar menambah nasionalisme kita!

Imam menyambut dan menyapa tamu yang malam itu datang: Dr Moh Tontowi (Dosen tasauf UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta), KH Mahfud Chamid (Pengasuh PP An-Nur Maron sekaligus pengurus PP GP Ansor, Fahrurrozi SH (Pengusaha Muda) dan Mas Kholik, S. Fil (wartawan Suara Merdeka).

IMG_1466Imam mempersilakan Anjar Duta memimpin forum itu. Dengan memakai blangkon dan sorjan, pakaian khas Jawa, malam itu ia sedikit membedah tema: Eskalasi Generasi. Untuk menyegarkan suasana, sebelumnya ia meminta dua lagu dibawakan: Terlalu Manis dari Slank dan Terbakar Atau Dibakar karya Jampe Johnson. Semua larut dalam nyanyian!

Anjar menjelaskan, tema itu diangkat untuk “menjembatani” gab-gab antar generasi: anak, muda, tua. Hal ini diperlukan, karena menurutnya, Generasi harus mampu menjawab zamannya. Yang muda harus mampu mengakses ilmu dan pengalaman dari yang tua, lalu diinovasi sedemikian rupa agar tetap relevan menghadapi zaman sekarang.

Anjar kemudian menyilakan Abah Fahrur, mantan calon anggota dewan yang familier itu untuk berbicara. Ia mengatakan: masa itu beda dengan tua dan muda. Toh nyatanya, baik tua maupun yang muda masih ada dalam satu masa. Memang, katanya, antara yang tua dengan yang muda, juga sebaliknya, kadang tidak match. Seperti dalam revolusi teknologi, misalnya, di jaman kecilnya dulu belum mengenal handphone dan sekarang dalam urusan teknologi, anak-anak lebih pandai.

Kemudian Cak Lukman, bahwa semakin kesini, pemuda semakin kecil peranannya. Dulu, dijaman pergerakan, tokoh-tokoh nasional sudah mempimpin perang dan pemberontakan dalam usia yang relatif muda: dua puluhan.
Menurutnya, salahsatu sebabnya adalah wanita. Mengutip sebuah hadits nabi, wartawan muda ini berkata: Almar’atu ‘imadul bilad, idza sholuhat sholuhal bilad’ (Wanita adalah pilar negara, apabila wanitanya baik maka baiklah negara, apabila wanitanya jelek maka akan jelek pula suatu negara). Lukman menambahkan, bahwa dengan kotak kecil yang ada di rumah kita bernama televisi, hari ini revolusi pemikiran, mindset, gerakan maupun perubahan sosial budaya bisa terjadi dengan cepat. Misalnya, dalam film AADC, dulu Cinta yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo membonceng sepeda dengan ngangkang, langsung generasi muda berani membonceng ngangkang. Padahal, sebelumnya di Jawa tidak ada wanita membonceng motor sepeda dengan ngangkang. Juga, dulu para ibu setia memberi anaknya asupan gizi terbaiknya: ASI. Namun seiring dengan banyaknya wanita karier serta iklan susu sapi yang konon membuat anak cerdas, berbondong-bondong bayi-bayi itu diberi ASS(Air Susu Sapi!). “Jadi, ini namanya generasi sapi!”, katanya disambut gelaktawa peserta.

Firdaus masuk. Ia menyorot peran Kiai Tua dan Muda. Menurutnya, banyak kasus kiai tua yang “kurang” fasih membaca dan ngimami, tida mau atau tidak memberikan kesempatan bagi yang muda untuk didepan menjadi imam. Kemudian, keresahan ini dijawab oleh peserta lain, bahwa meski orang tua tersebut tidak fasih, namun ia layak di prioritaskan, oleh karena telah lama makan asam-garam. Meski lidahnya tidak fasih, namun hatinya sudah “online” menghadap Tuhan. Sedangkan yang muda, misalkan sudh fasih, belum tentu hatinya khusu’ tertaut ke Tuhan.

IMG_1474Allan, sarjana muda bidang hukum itu masuk. Eskalasi, menurutnya, adalah pertambahan dan kenaikan. Eskalasi generasi harus di support oleh kualitas pribadi seseorang. Menurutnya, paska 98 ada kemunduran. Mengutip Gramsci, ia mambahasakan: yang tua sekarat, yang muda belum siap. Salahsatu potretnya adalah kejadian pengeboman beberapa waktu lalu, dimana para pemuda malah berlomba-loba membuat meme dalam menyikapi terorisme. Ia menambahkan, bahwa pembusukan paling besar dari partai politik, yang kita tahu sendiri kualitas dan kelakuannya. Ia kemudian mengutip Ernest Renan dalam mencari solusi, yaitu pemuda hari ini mesti merevolusi diri dan moral.

Syarif, seorang pengusaha muda masuk. Ia berpendapat, bahwa setiap zaman ada tokoh yang berperan. “kita tidak harus seperti soekarno dengan pidatonya yang berapi-api, atau tokoh-tokoh terdahulu. Yang kita lakukan adalah apa yang sekarang bisa kita lakukan. Kita mesti menjadi diri sendiri, bukan orang lain.”
Imam Khoiri masuk membawa persoalan. Di desanya, banyak pemuda yang mabok bahkan secara terang-terangan. Orang tua tidak bisa melarang, oleh karena dulu ketika muda, merekapun melakukan hal yang sama. “Terus kalau sudah begini solusinya bagaimana?”

Dhika, vokalis musik akustik itu, ikut bercurah pendapat. Banyak anak yang sesungguhnya “tidak diakui” sebagai anak di keluarganya, karena kesibukan orang tua. Gab pengetahuan orang tua dengan anak juga nampak dengan hal baru yang dulu tak dimengerti orang tua, misal organisasi, kelompok teater dan sebagainya.

Eddi, pelopor desa wisata Pamrian masuk. Ia mengatakan, ada tiga tugas dan kekuatan generasi muda: kontrol sosial, kontrol moral dan agen perubahan.

Satu nomor karya Tic Band dengan judul Terbaik Untukmu dibawakan dengan indah dan merdu oleh vokalis kita: Anjar Duta. Makanan berat dalam bentuk bungkusan kotak, masuk dan berada dihadapan seluruh peserta. Sambil menikmati lagu, mereka mengambil energi dan gizi dari rizki Tuhan itu, dilanjutkan dengan membakar rokok. Asap mengepul menuju langit, menyatu dengan alam.

Doktor Tontowi dipersilakan untuk merespon dan memberi pencerahan. Kemudian Ia mengaku terharu dan merasa terhormat bisa hadir dalam acara seperti ini. Sekilas, melihat forum ini, ia melihat sekelompok pemuda yang memiliki ide dan gagasan, namun masih gagap dalam me-landing-kan: menjadi sebuah laku dan kenyataan.
Benar memang, imbuhnya, setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Namun, menurutnya, masa itu perlu diciptakan atau dijemput.

“Kita melihat, banyak negara ingin maju, tetapi pemudanya gagal, karena yang mereka anggap maju itu seperti Barat dan kemudian melupakan tradisi dan akar budaya sendiri. Akhirnya muncul adagium: deso durung gelem, kota durung tekan: mogol. “

“Dulu, di Mustofa Kemal Pasha di Turki, menyingkirkan tradisi dan budayanya dan digantikan budaya latin, sampai pada pakaian dan makanan. Tulisan Arab dihapus, jilbab dilarang beserta semua simbol tradisi dan diganti dengan budaya Barat. Dan yang paling elementer, adalah mengganti cara perpikir: bahwa yang paling baik itu Barat dan semua yang datang dari Barat semua baik. Padahal, misalnya kita orang Jawa dan Islam, beda dengan mereka: punya tujuan sendiri, punya cita-cita sencdiri, punya cara berpikir sendiri”.
Jamaah menyimak dengan seksama, beberapa ada yang menulis dalam sebuah buku, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

“Dulu, ada orang dari sebuah negara di Afrika yang takjub pada kran air ketika pergi ke Eropa. Ia heran, kok bisa dari barang kecil itu mengeluarkan air yang melimpah. Lalu ia membeli beberapa kran air dan dibawa pulang, dipasang di samping rumahnya. Ternyata, ia mendapati tak bisa mengeluarkan air. Padahal, seharusnya ada paralon yang menghubungkan air dengannya. Nah, ini contoh, bagaimana ketika melihat sesuatu itu jangan hanya berpikir sesuatu itu, dengan terlepas dari konteks dan ilmu.”

Dan memang, lanjutnya, secara nasional kita juga masih gamang dan krisis identitas. Indonesia negara tercinta kita, dulu bagaimana dan mau dibawa kemana: apakah agraris, maritim, monarki, demokrasi atau yang lainnya, masih gamang. Kita kehilangan identitas.

“Kalau kita sedikit mencontoh Jepang, sepertinya menarik. Jepang tidak menggugurkan atau menghilangkan tradisi, namun memodernisasi tradisi. Jadi, tradisi, leluhur dan nenek moyang yang sudah lama hidup dan mengakar dalam masyarakat, tidak dihilangkan namun dimodernisasi secara apik. Silakan teman-teman semua mencari tradisi dan akar budaya sendiri-sendiri.”

Seperti tadi yang disampaikan oleh salah satu penanya, lanjutnya, parpol di Indonesia ini memang mengadopsi langsung dicangkok dari Barat, tanpa disesuaikan dengan tradisi budaya kita sendiri. “Bagaimana mungkin, nasib negara sebesar ini hanya diserahkan kepada partai yang begitu?” ungkapnya menggoda.

“Nah, soal action itu adalah proses. Termasuk forum di malam ini adalah proses. Maka, dalam Alfatihah jelas: ihdinas shiraathal mustaqiem (tunjukkanlah kami jalan yang lurus). Jika kita merasa benar, itu merupakan kebohongan kepada tuhan. “

Maka, lanjutnya, mulailah dari diri sendiri, dan jangan tergantung kepada orang lain. Karena perubahan itu tidak dilakukan oleh orang lain(kepada kita). Dalam ideologi Kiri Islam (al-yasar al-islam), perubahan besar selalu diawali ide besar. Ide besar melahirkan gerakan besar. Dan gerakan besar akan mendapatkan keberhasilan. Perubahan itu memiliki tahapan: ilmu, hal dan amal. Hal yang dimaksud disini adalah dorongan (motivasi), sedangkan amal adalah perbuatan (action).

“Ketika diawal dalam forum maiyah ini, ada yang mengatakan: jangankan yang lain, telek saja bisa menjadi ilmu, maka itu benar. Bagi orang yang berilmu, melihat telek bukanlah sesuatu yang menjijikkan atau tak berguna. Justru ia kumpulkan dan dibuat pupuk, kemudian bisa bermanfaat. Karena hakikatnya, Allah menciptakan semua ini tidak ada yang sia-sia: semua berguna.”

Soal miras tadi, lanjutnya, yang paling utama adalah hatinya, karena disitu letak motivasinya. Sekeras apapun aturan, kalau hati keras, maka tetap akan di dobraki. Merayu hati manusia itu lebih sulit daripada merayu Tuhan. Dan berkumpul dengan tuhan lebih mudah daripada berkumpul dengan manusia.

IMG_1480Mas Kholik, wartawan Suara Merdeka itu, diberi kesempatan berbicara. Menurutnya, setiap generasi disiapkan untuk memecahkan masalah zamannya.

“Saya baru sadar orang tua saya dulu marah, ketika saya sudah menjadi orang tua” ungkapnya, sedikit mengenang masa kecil. Masa kecilnya dulu, memiliki banyak permainan yang menyatu dengan alam dan orang. Kini anaknya, mainannya sudah serba teknologi yang jarang dilakukan dengan alam dan orang. Lima puluh tahun kedepan, menurutnya, negara yang mempu bersaing adalah yang memiliki akar tradisi sendiri. Hari ini, hampir tidak kita temukan generasi hari ini, benturan dengan keadaan yang membuat karakter kuat.”

Menyoal media, lanjutnya, kini efek dari sinetron juga luar biasa. Gara-gara sering nonton sinetron Anak Jalanan, anak Mas Kholik yang masih berumur enam tahun merengek-rengek minta dibelikan motor ninja. Dan memang itu tidak hanya terjadi pada anaknya, namun ribuan bahkan mungkin jutaan reemaja lainnya, oleh karena setelah di kroscek, ternyata efek dari sinetron itu, mendongkrak penjualan motor Ninja.
Abah Fahrur masuk. “Tidak usah gelisah berumah tangga dan mengurus anak. Jika tidak ingin itu semua, ya tidak usah menikah, seperti Mbah Mufid itu ”Hahaha…. Gggrrrr….!!!!!!

Perbaikan dan perubahan itu, lanjutnya, dimulai dari sendiri, jangan dipasrahkan kepada orang lain. Penyakit namanya kalau kita ingin berubah, tetapi orang lain yang disuruh merubah.

Mbah Doyok masuk. Ia menyatakan kesetujuannya dengan apa yang telah dipaparkan: tidak hanya soal ide, tapi pentingnya mengeksekusi ide. Ia mengumpamakan seperti sepak bola, ada rumusannya: pendekatan, strategi dan taktik. Pendekatan adalah filosofi permainan, sebuah ide dan konsep besar. Strategi adalah bagaimana bertahan, menyerang dan penyesuaian dengan musuh. Sedangkan taktik, adalah realisasi dari pendekatan dan strategi dilapangan, ketika berhadap-hadapan.

Sidik alias Ilhan Erda, masuk berpendapat. Ia mengatakan, orang tua khususnya para pemimpin belum erani mengakui kesalahan, belum bisa menolak jabatan yang ia tidak bisa dan lebih berorientasi kepada jabatan; apakah ia kapabel atau belum.

IMG_1439Al-Ashfahani, sudah memasuki jam pinter, sehingga ia berani berkata-kata. “Tadi masih jam goblok, jadi saya tidak bisa bicara. Sekarang sudah masuk jam pinter, jadi saya berani bicara!” ungkapnya, direspon forum dengan ledakan tawa: “Grrr!!!”. PNS muda tersebut mengaku senang dengan forum seperti ini: dengan narasumebr yang kapabel dan otororitatif dalam bidangnya. Ia juga agak menyoroti generasi muda hari ini yang belum begitu nyambung dengan yang tua.

Jumadhi, mengacungkan tangan tanda ingin bicara. Ia menyoroti rumitnya birokrasi yang hari ini ada. Ia curhat: di desanya anak-anak muda ingin usaha, namun diribeti dengan badan hukum dan sebagainya.
Imam Fatah menekankan pentingnya sejarah lalu, agar memiliki orientasi masa depan. Seperti sekolah sejarah PMII beberapa waktu lalu, penting meminang masa lalu untuk menggendong masa depan. Ia juga menanyakan bagaimana menyikapi perbedaan pandangan antr-generasi. Misalnya ia mencontohkan, kiai tua dakwahnya bikin ngantuk, hujan dalil sebagainya.

Pak Doktor dipersilakan masuk, merespon semua kegelisahan.
“Gagasan yang baik adalah gagasan yang mungkin dikerjakan, bukan hanya ideal” ungkapnya membuka. “Sesuatu yang ideal dimulai dari proses. Jika kita terlalu ideal, kita nggak bisa mengerjakan, lalu menyalahkan orang lain” jelasnya.

Manusia, lanjutnya, tidak ada yang tidak berguna. Sifat manusia pun tidak ada yang jelek atau sia-sia; yang ada tidak ditempatkan pada tempatnya. Ketika belum berhasil dalam hal tertentu, kita belum pas pada hal tertentu itu. Ketika kita sudah pas, kita bisa melakukan perubahan.

“Yang baik itu tidak harus mencontoh Barat. Kita beda tujuan dengan mereka, sehingga bus untuk mencapai tujuan itu jangan disamakan dengan mereka. Kita dengan mereka memiliki perbedaan dalam ide tentang kemajuan. Pasca Jepang di bom, mereka berusaha bangkit. Mereka tidak membikin yang besar-besar, tetapi sesuai poptensinya yang kecil-kecil. Dan kita bisa saksikan sekarang, mereka meju dengan tetap menjaga tradisi dan akar budayanya.”

“Ilmu memang penting, tapi kemampuan ekonomi perlu.”
Jadi pemuda, lanjutnya, jangan pernah menunda! Menunda, kata Ibnu Athaillah, adalah kebodohan yang nyata. Ide punya, tapi ditunda dan tidak dikerjakan. Orang yang bodoh itu bukan yang tidak berilmu, tapi yang tidak melaksanakan ilmu itu. Kalau sudah dilaksanakan, jangan merasa puas dengan capaian yang sudah diraih.

“Orang sufi bukan orang yang meninggalkan dunia, tetapi yang menggenggam dunia tetapi tidak memasukkan dunia kedalam hatinya. Jika dunia sudah masuk kedalam hati, tidak akan berkembang.”
Ketika sesuatu sudah dilaksanakan, lanjutnya, bukan itu tujuan kita, tetapi masih di depan. Dan perubahan itu tidak hanya dibutuhkan berilmu, tetapi juga keberanian.

“Saya gembira, pemuda disini banyak gagasan. Tetapi lebih bahagia lagi gagasan itu diwujudkan walaupun kecil. Jangan malu, karena kita sudah bwa kemaluan.” Selorohnya, diikuti “Gggrrrr!!!” semua tertaw lepas!
“Dulu saya punya teman kuliah. Dia usaha sendiri untuk membiayainya. Awalnya menawarkan dagangannya, sedikit memaksa. Perlahan temannya butuh, dan seiring dengan waktu, kemudian ia sudah buka catering”
Semua peserta menyimak, sambil sesekali manggut-manggut.
“Kelemahan orang yang punya ide besar, malas mengerjakan ide sendiri, tetapi menyuruh orang lain mengerjakannya.”

IMG_1468“Agama (Islam) bukan membangun tradisi baru, tetapi menginovasi gagasan-gagasan lama: liutammima makarima-l-akhlak. Hanya tuhan yang orisinil menciptakan: kun fayakun. Kita diberi kemampuan seperti tuhan, tapi berbentuk ide. Dari ide itu berproses dan baru kemudian terwujud. Kita perlu mujahadah untuk melawan ketakutan dan kemalasan kita sendiri.”

Hari ini, lanjutnya, teknologi sudah mempertemuakan filsafat idealisme dengan realisme. Thomas Alfa Edison, sedikitnya, 2000x melakukan percobaan gagal sebelum kemudian berhasil. Kegelisahan singkirkan; perlu bersandar kepada Yang Maha Mampu dan Kaya. Mengabdilah kepada tuhan secara fungsional, tidak menyerah, tetapi menyerahkan. Diatas kesulitan kita mesti bisa melompat-lompat. Perubahan sesungguhnya ketika kita bangun dari tidur.

Abah Fahrur masuk dan mengatakan, sejarah yang kita buat akan dibaca oleh generasi muda yang akan datang. Yang penting berbuat sebaik-baiknya.
Eddi kembali masuk. Ia mengutip kata bijak, yang penting bukan beberapa kali kita gagal, tetapi berpa kali kita bangkit.

Akhirnya, Lukman, salahsatu pegiat maiyah menutup forum ini dengan kembali menyadarkan: bahwa maiyah bukanlah organisasi, namun organisme. Maiyah tidak akan bikin gerakan, biar apa yang di dapat dalam forum ini direfleksikan masing-masing dan menjadi lentera dihati peserta.

IMG_1486Acara diakhiri dengan menyanyikan mars maiyah: Chasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal mawla wan ni’man nashir serta tembang Duh Gusti. Doa dari Pak Doktor menutup acara tersebut, dilanjut dengan foto bersama: “Jepret!!!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: