Senyum Jessica, Media & Opini Publik

Wanita muda itu masih bisa melempar senyum kepada pewawancara, ketika dihadirkan secara live dalam sebuah acara bertajuk “Gestur” di TV One, 12 Januari 2016. Ditanya apa yang membuat ia masih tenang: bisa senyum dan biasa saja menghadapi masalah besar itu. Ia menjawab: “Saya memang tidak berbuat, jadi menurut kuasa hukum saya: kalau saya tidak berbuat, ngomong apa adanya, tetap tenang. Dibalik ini saya juga sedih dan menangis….selain itu, karena saya tidak biasa mengumbar kesedihan di depan publik”katanya, didepan jutaan pasang mata.
Nama lengkapnya adalah Jessica Kumala Wongso. Jessica, begitu publik menyebutnya, mendadak terkenal dan menjadi headline di berbagai media. Hal ini terjadi lantaran Jessica ditetapkan menjadi tersangka pada Jumat (29/01) atas kasus meninggalnya Wayan Mirna Salihin, usai meminum kopi bersama temannya: Hanny. Es kopi vietnam yang diminum di kave Oliver Grand Indonesia pada 6 Januari 2016 lalu itu, diyakini mengandung sianida, suatu zat berbahaya dan berujung maut Mirna.(detik, 30/1).
Jessica adalah teman kuliah Mirna selama menempuh pendidikan di Billy Blue College of Design, Sydney, Australia. Jessica menetap di negeri kangguru sejak 2008, namun pada 5 Desember 2015, dia pulang ke Jakarta. Keduanya bertemu kembali pada 12 Desember 2015, saat itu Mirna didampingi oleh suaminya, Arief Sumarko. Saat Mirna meregang nyawa, Jessica dan Hanny yang juga ada di lokasi kejadian tewasnya Mirna, menjadi saksi kunci peristiwa nahas itu.
Berbagai media, baik koran, majalah, portal online, youtube dan medsos ramai-ramai meliput dan mempublikasikan kasus tersebut. Tak jarang, sebelum meja hijau digelar, para pewarta menghadap-hadapkan antara polisi sebegai penegak hukum, Darmawan, ayah Mirna sebagai pihak korban dan pihak Mirna sebagai tersangka dalang pembunuhan. Berita di publish, terjadi informasi yang kontradiktif, simpang siur dan bisa ditebak: gemparlah publik yang ingin tahu perkembangan kasus kopi berbuntut maut.
Dalam hal ini, media menjadi penting peranannya, bagaimana satu kasus di sebuah titik di kota Jakarta, menyebar ke seluruh pelosok Nusantara. Informasi itu kemudian diakses via laptop, gadget atau koran dan majalah-majalah. Seantero negeripun menjadi tahu satu kasus tersebut, ditengah ribuan kasus dalam kamus Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tak ayal, media-media yang menyajikan informasi beragam itu, terakumulasi hingga menjadi bahasan dan opini publik. Publik, yang memiliki cara pandang, sudut pandang, jarak pandang dan pengetahuan atas pandangan sendiri-sendiri, memunculkan komentar yang kaya dan beragam. Pandangan-pandangan yang beragam itu, adalah buah dari yang mereka mengerti tentang demokrasi, kebebasan berpendapat dan tentunya Hak Asasi Manusia.
Jika melihat ribuan komentar yang bercecer dari berbagai media sosial, portal online serta youtube itu, anda tentu akan geleng-geleng: bagaimana kayanya pemikiran, opini, komentar dan justifikasi atas kasus yang belum tentu 100% mereka mengerti tersebut. Berikut, adalah beberapa komentar netizen, dari ribuan komentar yang cenderung “menghakimi” di youtube:

Akun Rosita Hie menulis: “Muka lo menjijikan sekali muka lo ngaku ngaku temen dkt mirna pdhl bkn temen baik n muka lo confidence sekali lo ga di cekal ke luar negeri gw yakin lo ga bisa masuk lagi ke aussie liat lo bicara bohong sekali bullshit YOU ARE A BULLSHIT QUEEN IN THE WORLD BITCH”
Akun Erna Mu menulis: “Pasangan lesbi… Mirna pulang duluan ,sampe di indo mirna kenalan ama cowok pacran trus nikah ( itung2 udah sadar kali ) jesica yg tau mungkin sakit hati, makanya dia pulang ke indo n balas dendam. Toh pernikahanya masih 1bln to ???? Suaminya tuh introgasi berapa lama kenal,pacaran,n nikah…. Bner gk nya g tau.. Mulut qw suka nyeplos begitu huhuhu”
Akun deb kris menulis: “Jessica bilang mirna pingsan krn kopi. tapi saat hanny bilang dia jg minum kopi jessica bilang, hanny kamu gak papa? krn takut terjadi sama dgn yang dialami mirna. wah bohongnya reeekkk…. berarti tahulah kopinya ada dianida. Bukti Jessica pembunuh 1. Dia yg datang duluan. 2. beli dan bayar. 3. kopi dalam kuasanya selama 40 menit lbh. 4. saat mirna pingsan dia tdk mau nolong. 5. Seblm ketemu mereka Jessica tanya apa ada dokter di situ 6. setelah mirna mati hari itu juga celana dibuang, Whatsup dihapus. 7. banyak bohongnya. kalau tdk dalah ngapain bohong”
Ada juga komentar yang lumayan “bijak” dan bahkan konyol seperti berikut ini:
Akun Alberta J Aponno menulis: “Sepertinya lebih banyak dihakimi oleh persepsi-persepsi masyarakat…”
Akun Budiaji Prasetyo menulis: “Sampai di putuskan siapa yang salah jangan menghakimi, apa lagi sampe buat meme, kasian”
Akun Yosef Windra menulis: “Bagaimana kalau cianidanya berasal dari racun tikus yg digunakan oleh pemilik cafe dan diletakkan diatas atap kebetulan jatuh ke kopi Mirna?”
Akun dydhydy menulis: “Bagaimanapun hasilnya kurasa kalau polisi mau Jessica jadi tersangka bisa saja tanpa harus dia yang membunuh mirna dan tanpa harus ada bukti yang kuat. Apalagi pak polisi saat ini ratingnya sedang bagus, kalau pun salah tangkap pak polisi gak akan anulir. Tetap menjadi rating bagus untuk kepolisian, kasus pembunuhan menggunakan cyanide ini selesai dalam waktu kurang dari 1 bulan biarpun misalnya kenyataannya salah tangkap. Atau kalau mau buruk sangka, jessica & mirna sebenarnya adalah korban rating misalnya… “
Akun Shandi Aries menulis: “kopi nescaffe buatan pabrik ada kwadluarsa,,, di perbarui lg,,,, ini sering terjadi,,, n bisa mehyebbkan racun ,,,, karena kopi di proses n di kemas dg campuran bahan pengawet,,,, dr dulu,,, bnyk jg siswa scolh dasr ad yg keracunan,,, hanya gara2 menghirup aroma penghapus saja,,, bisa pingsan,,, plg kopi campur dg bahan kimia,,, plgi kwdaluarsa,,, inilh indonesia kurang teliti dlm pengwasan makanan yg beredar,,,, menurut sy,,,, itu adlh sebuah musibah kecelakaan bukan unsur pembunuhan,,,,,”
Dari komentar, statement dan bahkan tuduhan yang mengarah ke fitnah diatas, kemudian menjadi opini publik dan terjadi pembunuhan karakter atas diri seseorang. Ini merupakan hal yang tidak hanya berbahaya, namun sangat-sangat berbahaya.
15 Abad lalu, pemimpin Islam bernama Muhammad telah mendapat wahyu dari tuhan mengenai pentingnya menginfiltrasi informasi yang belum jelas kebenarannya, dan masih amat sangat kontekstual dengan kasus ini.
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Q.S. Al-Hujurat: 6)
Statement Tuhan dalam ayat ini begitu jelas, tegas dan bahkan memberi rambu-rambu dampakburuk dari mereproduksi informasi yang belum jelas kebenarannya. Tak hanya itu, dalam ayat lain, bahkan Allah mengingatkan dengan sangat keras: “Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan.” (QS Al-Baqarah: 191) atau ayat: “Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.” (QS Al-Baqarah: 217).
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia v1.3) ketika kita meng-entri kata “fit•nah”, maka akan kita dapati demikian: “perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang) – adalah perbuatan yang tidak terpuji.”
Meski kata “fitnah” banyak diartikan oleh ulama tidak hanya statemen yang ngawur dan tanpa dasar, tetapi juga lebih luas, misalnya: perhiasan, anak dll yang berarti ujian, minimal dengan ayat itu kita bisa melakukan tindakan preventif: menjaga diri. Berangkat dari kasus Mirna diatas, marilah kita semua bersama-sama untuk introspeksi diri, apakah kita termasuk golongan yang disebut dalam ayat tersebut? Ada filosofi Jawa yang mendalam dan sangat relevan untuk membantu kita menjangkau ayat tersebut, agar tak menelan informasi sampah. Berikut petuahnya:
Kowe krungu durung tentu weruh. Nek weruh durung tentu ngerti. Nek ngerti durung tentu bisa. Nek bisa durung tentu bener. Nek bener durung tentu temanja. Nek temanja durung tentu adil. Nek adil durung tentu wicaksna. Nek wicaksana durung tentu waskita. Nek waskita durung tentu mlebu swarga. Nek mlebu swarga durung tentu ketemu Gusti Allah.
Terjemahannya, kurang lebih seperti ini: Kamu dengar belum tentu melihat. Kamu melihat belum tentu mengerti. Kamu mengerti belum tentu bisa. Kamu bisa blm tentu benar. Kamu benar blm tentu temanja (menempatkan sesuatu tepat pada tempat/hak-kewajibannya). Kamu temanja blm tentu adil. Kamu adil blm tentu bijaksana. Kamu bijaksana blm tentu waskita (terang penglihatannya). Kamu waskita blm tentu masuk surga. Kamu masuk surga blm tentu bertemu Tuhan.
Akhirnya, apa yang kita lihat dan terjadi pada senyum Jessica itu, belum tentu kita bisa menyimpulkan seutuhnya, apalagi sebenarnya. Juga, berita dari berbagai media yang kebanyakan menghakimi posisi Mirna, hendaknya kita belajar dari Pilpres lalu, dimana sebagian media dibayar untuk kepentingan golongan tertentu. Biarkan kepolisian dan pengadilan sebagai instrumen negara yang telah menjadi konsensus bersama, bekerja semaksimalnya. Misalpun apa yang menjadi tersangka adalah benar Jessica, atau siapapun dan kasus apapun dia, bukankah Tuhan selalu membuka pertaubatan? Marilah kita perbanyak stok cinta: karena menurut Cak Nun, sang guru bangsa itu: hanya Iblis yang menghalangi manusia untuk ber-khusnul khatimah di akhir hidupnya!
[Semarang, 6 Februari 2016]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: