Wonosobo, Central Java

KECUALI jalannya yang berbelok-belok, Wonosobo adalah kota yang terkenal dengan hawa dinginnya, juga kesejarahannya: Mataram Kuno. Bagi yang tidak biasa berkendara melewati jalan berbelok itu, kemungkinan akan mabuk perjalanan dan muntah-muntah. Bagi yang sudah terbiasa, panorama pegunungan yang bergandeng-gandeng mesra serta hamparan sawah bak permadani, akan menghiburnya dalam perjalanan.

Kemarin, setelah sekian lama merantau, aku mengunjunginya kembali, dan nampak banyak perubahan. Kota yang menurut KH Saifudin Zuhri, dalam otobiografinya, sebagai pusat penyediaan logistik di jaman penjajahan itu, kini tak sedingin dulu, untuk tidak menyebut panas. Maklum, kepulan asap hitam dari pabrik-pabrik besar selama bertahun-tahun, telah menodai kesejukan alamnya. Juga, penebangan pohon akibat industrialisasi dan illegal logging, seakan membuktikan bahwa global warming yang menjadi tagline, stempel dan komoditas dagang orang-orang Barat itu benar-benar ada.

Memang, pabrik-pabrik itu membawa kesejahteraan bagi masyarakat pribumi: memberikan lapangan pekerjaan. Namun, sepertinya, lapangan kerja itu harus dibayar mahal dengan pencemaran udara dan eksplotasi sumber daya alam. Reboisasi dan penghijauan masih belum bisa dikatakan seimbang, banyak lahan yang dulu hijau kini gundul. Juga, jutaan kubik debit air yang dikandung Gunung Sumbing, Sindoro dan beberapa pegunungan kecil itu, sudah dimiliki oleh swasta: perorangan. Kekayaan alam dimanfaatkan sepenuhnya untuk kesejahteraan masyarakat yang diamanatkan undang-undangpun, kini layak dipertanyakan. Namun, kekuatan kapitalisme yang demikian besar, siapa yang mampu melawan? Siapa yang berani membela? Hanya dua ormas di Indonesia: Muhammadiyah dan NU, meski cengkeraman asing lewat LSM dan beberapa anggota dewan yang miskin nasionalisme, mengatur Undang-undang sedemikian kokoh. Hebat! Penjajahan dan pengkibulan kini sudah terstuktur rapi lewat peraturan: undang-undang.

Namun, aku masih bisa menikmati keindahan kota itu: manusianya, budayanya dan alamnya..

Masih bisa kusaksikan disini, wanita-wanita tangguh dipinggir jalan membawa palu dan memecah batu. Beberapa malah dibantu anak-anaknya. Adanya pembangunan jembatan trans Temanggung-Wonosobo membawa berkah sendiri bagi masyarakat pribumi. Dengan kerudungnya yang khas – tak seperti kerudung para jilbabers dan hijabers modis itu – para ibu menutup kepala dari sengatan mentari di siang hari. Pemandangan ini masih kusaksikan, di beberapa titik jalan Wonosobo menuju arah kota tembakau: Temanggung.

Gedung-gedung NU juga berdiri megah disini. MWC NU, pengurus NU di tingkat kecamatan, sudah memiliki bangunan megah dua lantai. Kultur Islam benar-benar terasa, baik di pagi, siang, sore maupun malam hari. Ketika ada pengajian, orang-orang desa itu dibawa dengan mobil bak terbuka. Mereka berjubal, berdesak-desakan, lelaki dan perempuan menuju tempat pengajian. Jangan pernah katakan ini haram, karena bercampur lelaki dan perempuan.

Di daerah pegunungan, bahkan ketika mereka ke kota, lelaki selalu identik dengan peci dan sarung yang dikalungkan pada leher mereka. Untuk wanita, kerudung dipakainya kemanapun, bahkan ke ladang dan sawah, tidak seperti hijabers sekarang yang hanya sebagai trend untuk berselfie dan pamer di medsos. Ibu-ibu itu tak jarang membawa dagangan di atas kepalanya, serta menggendong stok di punggungnya. Banyak pula, di daerah yang mengembangkan ternak, ibu-ibu itu menggendong rumput dua-tiga kali lebih besar dari tubuhnya. Suatu ketika, aku pernah bertemu mereka, saat istirahat di pinggir jalan. Mereka kusapa dengan kromo inggil, dan membelas dengan bahasa yang mengagumkan.

Di desa-desa terpencil itu, ketika ada pendatang, yang tak dikenal sekalipun, selalu menawarkan keramahan: “mampir…!”. Apalagi jika mengenalnya, sambutan luar-biasa akan mereka persembahkan tentunya. Waktu itu, aku pernah dalam sehari diampirkan, dan sejurus kemudian perut hampir jebol karena kekenyangan. Tiap tamu selalu dikasihnya makan, jikapun tak ada di ada-adakan. Mereka menghayati Islam tak hanya dalam omongan, namun tindakan. Ini jasa para kiai yang membumikan Islam sesuai tuntunan kanjeng nabi Muhammad dan walisongo sebagai juru bicaranya di Nusantara. Mungkin hanya sedikit dari mereka yang tahu dalil bahwa: tamu itu datang membawa berkah, dan pulang menghapus dosa, suguhlah dengan makanan terbaik dan jika tidak ada dengan ucapan yang baik. Dan mereka telah mengamalkannya, melakukakannya dan tidak sekadar omong kosong.

Alam, disini menyediakan sepenuhnya kebutuhan manusia. Dalam kepulanganku beberapa waktu lalu itu, aku benar-benar menyadari bahwa kehidupan di desa memiliki kenangan dan eksotisme tersendiri, tidak seperti di kota. Ibu memasak untukku, hasil bumi karunia tuhan itu. Nasi liwet, sambal goreng, pete, urab bayam dan sayur bung. Khusus yang terakhir, aku tak tahu mengapa bisa disebut “bung”. Padahal itu adalah sayur berbahan baku tunas bambu. Iya, bambu. Hebat memang tuhan, dari bambu saja, bisa tercipta beraneka ragam. Yang masih tunas bisa dibikin sayur: jangan(baca: sayur) bung. Ketika sudah besar bisa untuk tongkat, genter atau tongkat untuk mengunduh buah atau menjangkau ketinggian. Yang tua bisa untuk dolop, yaitu tiang-tiang ketika bangunan akan di cor dengan semen. Dagingnya juga bisa dibuat beraneka anyaman seperti tudung, tampah, ceting dan peralatan dapur lainnya. Bisa juga untuk furniture berupa meja, kursi dan sebagainya. Bahkan, dulu beberapa rumah terbuat dari anyaman bambu ini: gedhek. Waktu kecil, aku mencari bambu untuk dibuat aneka-macam: layang-layang, tulup (sejenis senjata, untuk perang-perangan), seruling, kandang jangkrik, mobil-mobilan, petasan (long bumbung), wuwu (perangkap ikan) dan celengan (tabungan). Dulu, aku tak pernah membayangkan bahwa beberapa tahun kemudian, akan ada industri besar-sukses yang memanfaatkan bambu untuk tusuk gigi. Tusuk gigi itu bahkan didistribusikan ke berbagai warung makan. Bahkan, ada juga tusuk gigi yang berkualitas tinggi dari bambu itu, dengan ukiran halus di pangkalnya. Tunas-tunas bambu itu, kumakan sebagai sayur, dan aku menyukainya sampai sekarang. Kalau sampai CIA atau PBI mengetahui hal ini, bisa jadi mereka akan keheranan, dan tentu akan prihatin sehingga datang program bantuan peningkatan gizi.(CIA, FBI, apa hubunganya?, maksudnya WFP: World Food Program, sebuah program pangan yang didirikan pada 1960 oleh FAO, organisasi dibawah PBB).

Oh ya, ngomong Wonosobo, kota ini berdiri 24 Juli 1825 sebagai kabupaten di bawah Kesultanan Yogyakarta usai pertempuran dalam Perang Diponegoro. Kyai Moh. Ngampah, yang membantu Diponegoro, diangkat sebagai bupati pertama dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Setjonegoro. Jadi, kota ini dulu cenderung “aman” dari Londo dan Jepang dalam tanam paksa, daripada daerah lainnya. Apalagi ketika Sultan HB IX berkuasa, beliau bisa bernegosiasi dengan Jepang, seperti direkam dalam biografi beliau: Tahta Untuk Rakyat. Meski begitu, para pemerkosa alam Nusantara itu tetap minta upeti dan hasil bumi buah keringat rakyat. Juga, ketika agresi dan pertempuran terjadi, kota sampai desa tetap terdampak. Kenyataan pahit ini pernah kudengar langsung dari seorang kakek saksi hidup di desa Tanjungsari, Sapuran, Wonosobo, tahun lalu. Di bumi yang alamnya menyediakan segalanya itu, pernah terjadi kelaparan karena penjajahan. Bom-bom pernah berjatuhan, meluluhlantakkan daerah “milik” tokoh penting dan pendukung Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830 yang banyak menguras kas Belanda itu.

Kini, meski telah banyak yang berubah, kesejukan kota pegunungan di pagi hari itu, selalu kurindu. Menghirup udaranya dalam-dalam, setelah lama menghirup polusi udara kota yang kotor dan kerasnya nafas kota yang kian hari kian tak ramah. Juga, tidak hanya aku, ribuan turis lokal dan mancanegara, tiap minggunya kini mulai memburu udara dan panorama alamnya yang luar-biasa. Belum lagi candi-candi peninggalan Mataram Kuno abad VIII yang masih terdiam, saksi bahwa sebelum pindah ke Jawa Timur pada tahun 1006 karena Merapi meletus, kabupaten ini pernah menjadi pusat konstelasi kekuasaan politik dan spiritual masyarakat Jawa.

Kunjunganku di acara IPNU sekaligus mampir kerumah beberapa waktu lalu itu, kembali mengingatkan masa kecilku, sekaligus membawaku ke kehidupan di masa lalu. Masa yang bagi sebagian orang adalah cinta dan perjuangan. Oleh karena, kebahagiaan bukanlah apa yang kita rasakan, tetapi apa yang kita kenang.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: