Suatu ketika saya naik travel menuju sebuah kota. Dalam travel ber-AC dan berpenumpang dari berbagai kalangan tersebut, saya kebelet kentut. Untuk pertama dan kedua, berhasil saya tahan. Namun tidak untuk yang ketiga, sehingga bisa ditebak hasilnya: meski tanpa suara, aroma memusingkan itu beredar dan berputar-putar seisi mobil.

Mungkin anda akan mengatakan saya jorok menulis tentang kentut ini. Namun, anda tak bisa menyangkal bau kentut anda sendiri, bahkan kadang diam-diam menikmatinya. Itu wajar. Manusia memang memiliki apologi untuk menyembunyikan kekurangannya, kejelekannya dan kelemahannya, selain memang Tuhan adalah sang penutup aib, kekurangan hamba-Nya(sattarul ‘uyuub).

Saya, ketika itu, tak menghindarkan anjuran dokter: jangan menahan kentut, karena konon dapat menimbulkan penyakit. Seandainya karena sebab saya menahan itu kemudian saya sakit, itu lebih baik ketimbang saya membuat tidak nyaman seisi penumpang. Meski akhirnya saya menyerah: meski tidak berbunyi, tetap kentut pada edisi yang ketiga. Padahal, kata orang, kentut tidak berbunyi dan bau itu lebih kejam daripada pembunuhan!

Kentut, merupakan hasil dari metabolisme tubuh yang canggih hasil ciptaan Tuhan. Apa saja yang masuk kedalam tubuh kita, tubuh memiliki pencernaan dan daya untuk mengeluarkan hal yang tidak dibutuhkan. Jika kita makan, sarinya akan diserap tubuh dan ampas kotorannya akan keluar via jalan belakang. Minuman begitu juga, sulingan kotorannya akan keluar lewat jalan depan. Nah, udara dan percampuran dari makanan dan minuman yang memperlancar metabolisme dalam tubuh, gas-nya akan keluar. Itulah kentut.

Ketika di pesantren, dulu ada penyuluhan tentang kesehatan, dan ada santri yang bertanya kepada dokter: “Dok, adakah obat agar kentut itu tidak bau? Soalnya dengan kentut kadang, dalam forum-forum resmi, kita jadi malu”, kata santri tersebut, diikuti “Gggrrr” tawa dari santri lainnya. Dan jawaban dokter bisa ditebak: ia tak bisa menjawabnya, dengan jawaban yang muter-muter. Intinya bagaimana kentut menjadi wangi itu tidak ada.

Jadi, siapapun kita, entah itu artis ataupun konglomerat kelas-kakap, tetaplah pada dasarnya memiliki kentut yang bau. Termasuk artis yang dipuja-puja oleh para penggemarnya. Itu merupakan fitrah manusia: hidup dengan segala kekurangannya. Bahkan, tak hanya kentut, seluruh anggota tubuh kita khususnya yang berlubang, akan menimbulkan bau menyengat. Pun yang tidak berlubang, tubuh akan mengeluarkan cairan keringat dan menyebabkan bau. Adapun parfum, deodoran dan weangian lainnya, itu bukanlah yang sejati, meski baginda nabi sendiri menyukai wangi.

Kembali ke soal kentut tadi, bahwa sudah menjadi watak manusia adalah menyembunyikan kekurangannya. Namun kadang aneh, ketika manusia lain yang kentut, sontak semua akan mem-bully. Seakan tidak sadar bahwa kentut dan tubuh sendiri juga memiliki bau. Kita tidak tahan dengan bau yang ditimbulkan orang lain, meski kita tahan – bahkan kadang menikmati – bau dari badan sendiri.

Kadang orang juga merasa jijik dengan hal-hal yang sebenarnya remeh-temeh. Padahal, ia sendiri kuat dengan baunya sendiri ketika jongkok di toilet, dan bahkan mau membersihkannya sendiri.

Dan kentut itu juga ter-refleksi dalam kehidupan, dimana kita selalu pusing dan sibuk memikirkan dan menggunjing keburukan orang lain. Agama, yang dilahirkan oleh para nabi itu, justru bagi sebagian orang tidak untuk menilai dan memperbaiki diri sendiri, namun untuk menghakimi orang lain. Demikian juga, dalam kehidupan ini akan selalu ada orang yang menjadi kentut di kehidupan yang harus senantiasa dibersihkan. Adanya mereka menjadikan dinamisnya kehidupan, meski kebenaran dalam hidup harus senantiasa ditegakkan.

Lalu, etika kita sadar kita memiliki kekurangan, hal yang harus kita lakukan adalah: tidak menimbulkannya apabila itu merugikan orang lain. Kentutpun demikian, bukan baunya yang salah, namun timing dan sikon-nya yang perlu kita atur lebih lanut, kejuali terpaksa dan kita tak dapat mengendalikannya. Termasuk kekurangan-kekurangan kita yang lain, sebisa mungkin itu tak merugikan orang lain.

Kemudian, kentut selain misteri, adalah juga soal martabat. Dalam Islam, kentut membatalkan wudlu, shalat serta tidak diperkenankan menyentuh mushaf Alquran. Anehnya, pantat yang mengeluarkan kentut, namun muka – dan anggota badan lain – yang harus dibasuh. Simbolik sekali. Oleh karena meski pantat yang kentut, toh muka yang memerah karena malu.

Terakhir, ulama-ulama dalam Islam, banyak yang menjaga wudlu tiap kali batal baik karena kentut maupun lainnya (mudawamatul wudlu). Ibadah simbolik itu, dipercaya dapat meningkatkan kebersihan hati dan pikiran dan meingkatkan kecerdasan dalam menangkap ilmu. Di pesantrenku dulu, pak kia sering berpesan: ilmu itu cahaya, dan wudlu itu cahaya. Jika dua cahaya bertemu, akan semakin mudah dalam menangkap ilmu. Sayyid Abdul Wahhab As-Sya’roniy dalam Kitab Washiyatul Musthafa mengutip hadits nabi yang kurang lebih artinya: Berusahalah untuk tetap dalam keadaan suci atau mempunyai wudhu, karena malaikat selalu beristighfar memintakan ampun kepada Allah swt atas dosa-dosa kecil kita.