Surat Untuk Kh………….

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Semoga cinta Allah selalu membersamaimu. Amin.

Ketika menerima kabar kau ingin bunuh diri waktu itu, aku begitu terkejut, namun juga memaklumi: kau teramat menyesali diri. Meyesal, bagi manusia, memang wajar dilakukan, seperti guru-guru agama kita mengajarkan: manusia tempat lupa dan kesalahan. Kesalahan itulah yang kita bayar dengan penyesalan. Dan penyesalan harus dibayar dengan pelajaran.

Aku tak menduga sebelumnya, bahwa dibalik keenerjikanmu, ketomboianmu, kecerdasanmu, kemoderanmu dan tingginya selera humormu, kau menyimpan rahasia yang dalam. Dan rahasia itu, katamu, belum pernah kau bocorkan kepada siapapun, bertahun-tahun, sebelum akhirnya keceplosanmu di malam itu. Terjadilah yang semestinya terjadi: rahasia yang kau kandung selama ini, bocor ke kupingku.

Manusia yang merdeka memang berhak menentukan pilihan hidupnya, masa depannya, termasuk pilihanmu itu, yang kemudian bocor kepadaku: menjadi seorang wanita sufi.
Dan antara keterkejutan dan kemakluman itu, aku membuat kesimpulan, bahwa kau tidak akan bunuh diri. Mungkin kau malu kepada Allah, sangat-sangat malu, aku mengerti meski tak merasakan diri bagaimana hancurnya hatimu. Namun pengetahuanmu sendiri atas agama, meyakinkanku bahwa kau tak akan benar-benar bunuh diri. Itu akan menjadikanmu pelajaran, bahwa dalam kehidupan ini sampai nanti, Iblis akan terus berbisik di dalam dada setiap manusia. Ia akan menggiring manusia ke jalannya yang terkutuk, baik melalui sebuah kemaksiatan maupun ibadah, baik dari yang jelas nampak maupun yang tak nampak: nyanyian nafsu dalam jiwa. Riya’, hasud, dengki, iri, dendam, sombong, angkuh dan sebagainya, akan terus digelorakan Iblis kepada kita manusia. Itu merupakan konsekuensi logis dari dilantiknya Adam menjadi khalifah di muka bumi, semenjak dulu kala. Perjanjian antara Iblis dan Allah itu, menetapkan dua kesepakatan: Iblis tak akan mati dan terus beranak-pinak sampai hari kiamat, dan ia boleh atau diperbolehkan menjerumuskan anak-cucu Adam sampai hari kiamat. Kukira kau sudah tahu itu, karena keterangannya ada dalam Tafsir Jalalain. Akupun tak berkata itu adalah godaan Iblis kepadamu, hanya soal keceplosan yang manusiawi.

Bicara soal sufi atau dunia tasauf, waktu aku kelas 3 SMA dulu, pernah sangat tertarik. Beberapa buku tentang sufi kubaca baik pinjam teman maupun perpustakaan. Bagaimana zuhudnya Kanjeng Nabi dalam menalani kehidupan ini, pernah kubaca sampai berlinang air mata. Embrio tarekat dan sufi semenjak adanya Ahlus Suffah pada masa nabi yang hidup sebatang-kara di emperan masjid, sebelum 500 tahun kemudian tasauf terlembaga dalam instirusi tarekat, juga sudah kumaklumi di waktu SMA. Kemudian nama-nama besar seperti Syaikh Abdul Qadir Jilani, Abu Hasan As-Syadili, Al-Hallaj, Rabiah Al Adawiyah, Imam Naqsyabandi, Jalaludin Rumi, Al-Ghazali sampai Ibnu Athaillah pandangannya kupelajari, meski masih sedikit. Juga kubaca, para sufi ulama Nusantara yang konon sudah mencapai maqam ma’rifat seperti Kiai Cholil Bangkalan, Kiai Subkhi Temanggung, Kiai dll beserta dengan keanehan-keanehan(kekeramatan) diluar adat itu. Juga, ada buku yang cukup fenomenal waktu itu dikalangan teman-temanku: Jack & Sufi. Buku ini bercerita perjuangan seorang sufi ditengah kota metropolitan: Jakarta. Namun, ketertarikan itu hanya berlangsung sebentar. Semenjak lulus sekolah dan memilih menjadi aktivis, otakku kurasakan sedikit gesee dari sebelumnya. Entah kenapa.

Pada awalnya, kukira seorang sufi atau para penempuh jalan Ilahi itu (salik), adalah orang yang anti dan tidak mengurusi dunia. Maklum, waktu itu aku banyak membaca (tanpa infiltrasi) buku-buku karangan ulama modernis abad 19 seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Jamaluddin Al-Afgani dll yang menganggap rapuhnya umat Islam hari ini salahsatu faktornya adalah karena tarekat. Juga, berbagai argumen lain yang begitu menyudutkan dunia tasauf, khususnya pengatut tarekat.

Namun, seiring waktu, akhirnya terbuka juga pandangan padaku bahwa tasauf itu adalah semacam manhaj, paradigma atau jalan menikmati agama dan menuju Tuhan. Orang menjadi sufi bisa dimana saja, kapan saja dan dengan apa saja. Kuncinya adalah semua ikhlas diorientasikan hanya karena dan kepada Allah. Boleh dan harus kita mengurus dunia, namun jangan sampai cinta kepada dunia. Dunia hanya sebatas jembatan menuju kehidupan kekal: alam akhirat. Semua yang kita miliki dan cintai, semua aka hilang dan musnah, kecuali cinta sejati: kepada Rabbul Izzati. Dia tuhan yang begitu setia dan bahkan terlalu setia kepada kita. Kita sering menyakiti-Nya pun, tetap memberi rizki, udara, kesehatan, kenikmatan yang tiada bisa dihitung. Dan dari itu, orang sufi berusaha mencintainya, sebuah kesejatian cinta. Memang itu tak mudah, makanya orang-orang menempuh jalan tarekat (masuk thariqah) dengan guru pembimbing (mursyid) yang geneologinya sampai kepada Kanjeng Nabi. Pembahasan mengenai ikhlas ini, dibahas oleh ulama sejak dahulu, abad pertengahan, dan menghasilkan berilid-jilid kitab. Ditengah jaman post-modern ini, banyak pegamat mengatakan bahwa tarekat akan menjadi alternativ, khususnya bagi mereka yang kering hati dan jiwanya. Kemewahan, kesenangan, dan bahkan kesemangatan dalam berhidup atau beragama, tak mendapat kenikmatan dan kesejatian. Lebih banyak perdebatan. Dengan Jalan Cinta ini, orang akan menemukan kedamaian, cinta dan ketenteraman yang sejati.

Dulu, tahun 2008, ketika aku masih dipesanten, ada serombongan dosen dan Mahasiswa dari UI yang ingin mengkaji tarekat. Waktu itu, aku hadir untuk “melayani” Pak Kiai yang di wawancara dan menyampakain pandangan beliau tentang tarekat. Beberapa point yang dapat kutangkap waktu itu dari penjelasan Pak Kiai, adalah bahwa tarekat itu menekankan tiga hal: istigfar, shalawat dan dzikir. Tarekat apa saja seperti ini, kalaupun ada, tambahan-tambahan sedikit dari mursyid, tapi pada intinya tida poin tersebut. Pertama, istigfar. Berangkat dari ayat al-Quran “istagfiru rabbakum, innahu kaana ghaffaraa”, kemudian Allah menjawab sendiri “yursilissamaa alaikum midrarara”(orang yang banyak istigfar akan dikasih murah hujan oleh Allah), “layudrikum amwalin”(akandijaga hartanya, termasuk asetnya), “wa baniinin”(dijaga keturunanya), “yaj al lakum anhaara” (dimudahkan mengalirnya air-air sungai). Kedua, Shalawat. Pak Kiai mengatakan, bahwa shalawat itu besar sekali manfaatnya. Diantaranya di dalam Syarah Dalailul Khairat: Mathoitul Masyarraq, disitu ada 52 manfaat orang baca shalawat. Aku sendiri belum bertemu dan membaca kitab itu. Ketiga, Dzikir. Untuk orang awam, kata Pak Kiai, tidak perlu banyak berdoa yang penting dzikir secara rutin. Banyak manfaat dari dikir. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman yang artinya: “barangsiapa yg sibuk ingat kepadaku sampai tdk minta apa-apa kepadaku, maka aku kasih apa-apa sebelum dia minta apa-apa. Beliau juga menyampaikan, bahwa tarekat itu tidak bisa disampaiakan secara detail, karena sifat tarekat eksklusif. Jadi, jika ingin tahu lebih mendalam, harus ikhlason-muklison, baiat masuk thariqah. Meski sudah ingin, tapi sampai kini aku belum juga masuk tarekat, entah mengapa: kontradiktif sekali.

Seorang kiai, juga pernah mengatakan kepadaku, bahwa menyiapkan masa depan akhirat itu lebih penting dan utama dari masa depan dunia. “Sekarang orang menyiapkan masa depan dunia saja sudah begitu sibuknya, mulai dari pendidikan, bangun rumah, menata karier dan sebagainya. Namun, banyak diantara kita yang malah kurang menyiapkan masa depan di akhirat” ungkapnya waktu itu. Sebuah uangkapan yang sebenarnya bagi orang dulu sederhana, namun hari ini sudah menjadi luarbiasa.


Sepengetahuanku, apa saja di dunia ini bisa ditransendensikan kepada Allah orientasinya. Mengingat Allah dan mengorientasikan ibadah dan cinta kita kepadanya tak harus duduk di kamar memutar tasbih sambil komat-kamit, tidak hanya itu. Dengan berpandangan tasauf sebagai sebuah manhaj, manusia akan membersamai dan menemukan Tuhan dimana-mana: pasar, sawah, terminal, stasiun, sekolah, pelajaran, kantor dan lebih-lebih dalam “diri”. Bukankah asal semua dari-Nya? Meski kini banyak yang agak keblinger, pengetahuan tidak mendekatkan manusia kepada-Nya, namun justeru sebagian menyesatkan dan menjadi alat menghancurkan. Padahal tujuan pendidikan (tarbiyah, dari kata rabba yurabbi) adalah menunjukkan jalan pulang kepada-Nya. Sekarang? Boro-boro jalan ke arah Tuhan, namun justru menjauhkan dari Tuhan. Melihat dari perspektif ini, isme-isme yang ada di dunia, menjadi sangat kecil dan fakultatif. Tapi, itulah kehidupan.

Ah, paling-paling kamu sudah tahu ini, untuk apa aku menulisnya. Tapi tak apalah, semoga saja kau tidak bosan membacanya.

Oh ya, kembali ke soal keinginanmu dulu untuk bunuh-diri, kemudian setiap pagi kau ku cek, dan ternyata kau membalas: berarti masih hidup. Aku senang mengetahuinya. Namun sayang, semenjak aku mengajukan sebuah permintaan kepadamu waktu itu, yang menyebabkan bocornya rahasiamu itu, kau sedikit berubah. Kau tak lagi menulis untukku, menulis tentang manusia, kehidupan dan apa-apa yang terjadi di dalamnya. Kau juga mulai kikuk berdiskusi denganku, dan bahkan kau mengusirku: enyah dari kehidupanmu. Barang tentu ini rugi besar bagiku, minimal aku tak bisa lagi tukar-fikiran denganmu. Juga, teramat sayang otak brilianmu, jika tak kau pergunakan menulis dan mencerahkan banyak orang. Padahal, selain wanita adalah tiang Negara (‘imaadul bilad), kamu adalah juga seorang teolog, intelektual. Dan ilmu intelektual (ulama) itu adalah salahsatu dari empat komponen yang menyejahterakan Negara, selain: pemimpin adil, kedermawanan orang kaya dan kesabaran dan doa orang miskin. Atau mungkin kau sudah mengaktualisasikan itu dengan selain aku? Atau dalam dewasa ini kau masih tetap ingin menuntut ilmu? Atau dengan cara yang aku tidak tahu? Yang jelas, aku tak berhak dan tak pantas untuk menilai dan menghakimimu. Kau lebih tahu dengan dirimu sendiri. Aku hanya merasa bahwa kita semakin lama semakin berkurang komunikasinya. Aku juga minta maaf, jarang menghubungimu. Ada suatu hal yang membuatku, akhir-akhir ini tidak menghubungimu, meski sangat ingin menghubungimu. Salahsatunya aku tak ingin mengganggumu. Namun alasan utama bukanlah itu. Suatu saat kau akan tahu.

Jika memang jalanmu adalah Sufi dan aku adalah orang satu-satunya yang mengetahuinya, sepertinya tak apa-apa. Aku yakin ada hikmah mengapa kepadaku – meski kau keceplosan – Tuhan membukanya. Bagiku itu sudah takdir, karena tak ada kejadian yang kebetulan di muka bumi ini. Jadikan saja itu sebuah pelajaran, dan pasti ada suatu mutiara terpendam jika kau memahaminya. Perlu juga dimengerti, seberapapun kau menginformasikan apapun tentangmu, aku tak sepenuhnya mengerti, bahkan mungkin hanya sedikit darinya. Itu soal hati. Dan seperti kata orang bilang, dalamnya laut bias diukur, namun dalamnya hati siapa yang tahu? Hanya kau dan Tuhan.

Aku jadi teringat kata seorang Barat, John Bernard Shaw kalau tidak salah. Ia mengatakan, apa-apa yang ada di sekitar kita hanyalah hal-hal kecil dibanding dengan apa yang ada di dalam diri kita. Dan mengetahui diri itu memang tidak semua orang bisa dan mampu, meski para nabi, ulama dan filsof sudah banyak mendeskripsikan dan mempetakan.

Allah dalam al-Quran banyak menyinggung soal hati dan akal. Kedua unsur itu salahsatu software terpenting dalam diri manusia. Bagida Nabi juga menaukidi dalam sabdanya: bahwa di dalam jiwa kita ada “segumpal darah” yang jika itu baik, semua akan baik, hati namanya. Dan kukira, dua unsur ini memang yang menjadikan dinamika manusia di muka bumi ini bergeliat, entah menuju kebaikan atau keburukan. Kata Imam Ghazali, hati ibarat raja. Ialah yang akan memerintah segenap jenderal, panglima dan pasukan anggota tubuh kita.

Soal akal, bahkan Allah banyak menyindir manusia, yang tidak jua melihat tanda-tanda kebesarannya atau limpahan rahmat dan kenikmatannya. Dia mencontohkan dengan hal-hal yang mengagungkan dalam Al-Quran, sarat ilmu, makna dan puitis sekali. Tentu kau tahu dan percaya, bahwa semenjak 15 abad yang lalu, Allah menantang manusia untuk membikin kitab serupa dengan Al-Quran, dan ternyata tidak bisa, sampai kini. Bahkan tidak perlu satu surat yang panjang, tiga ayat saja. Manusia tetaplah tidak bisa! Aku kadang – jika pas ingat dan mau – membaca Alquran, terjemahan sekaligus tafsirnya, dan membuat begitu tercengang: itu kata-kata tak bisa dibuat olrh manusia. Itu kata-kata Tuhan. Meski aku kemudian tahu itu, toh memang menjalani kehidupan dengan benar – atau berusaha menu arah kebenaran – begitu sulit dan penuh liku. Kadang hawa nafsu menggebu. Jadi aku percaya 100% dengan apa yang dikatakan Baginda Nabi pasca Perang Badar itu, yang intinya bahwa perang terbesar itu adalah melawan hawa nafsu. Seringkali aku tak berkutik: bertekuk lutut kepadanya. Nafsu inilah yang kadang menutupi akal. Kalau nafsu tak terkenali, akal jadi tak sehat, kalau akal sudah tak sehat, yasudah, kita jadi binatang! Pengelaborasian kedua-duanya yang begitu sulit, karena jika dengan menggunakan salahsatu dari keduanya, kita tidak akan sampai pada kebenaran. Bukankah Plato, filsuf besar Yunani itu, meski mengakui ada “tangan diluar semesta yang teramat kuasa”, toh tak mampu menemukan Allah?

Dan kau sudah memilih jalan sufi, bukan jalan filsafat.Dulu, aku sempat mendengar cerita tentang seorang Sufi dan Filsuf. Kedua-duanya mendaki gunung kebenaran dari jalur yang berbeda. Singkat cerita, setelah melalui kontemplasi dan berbagai upaya, dan memakan waktu yang cukup lama, mereka sampai diatas. Filsuf, yang datang belakangan, dikagetkan dengan kenyataan bahwa para Sufi dan ahli agama sudah sampai dipuncaknya, malah sudah santai-santai dan membuat peraaban. Filsuf bertanya: “Oh, anda ternyata sudah sampai duluan” katanya. “Iya, kami sudah sampai disini semenjak dulu, kemana saja anda kok baru saja sampai?” ledek Sang Sufi. Namun, cerita ini layak kuragukan, apalagi Plato sendiri tidak sampai pada kesimpulan Tuhan Yang Satu. Namun minimal, cerita itu ada sedikit pelajaran: kedua-duanya sama-sama mencari kebenaran.

Memang, relasi filsafat dengan agama itu seringkali mengalami perbenturan. Murid-murid Plato di Alexandria dulu, abad 5,6,7, diteruskan filsuf muslim abad 8 sudah mengalami banyak perdebatan. Kedua-duanya semakin runcing ketika kemodernan datang. Kemodernan tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa kerasionalan tidak mungkin dicapai oleh agama; khususnya ketika August Comte merumuskan positivisme sebagai salahsatu (satu-satunya cara bagi dia sebenarnya) untuk memandang realitas, membuat penggaris yang menyingkirkan agama. Misalnya dia mengatakan: yang benar itu adalah yang positif; subjek itu harus bebas nilai; yang penting itu bukan hasil akhir pencarian, namun metodenya. Semenjak itu, agama disingkirkan dari dunia kebenaran dan filsafat. Meski, sebelumnya Weber menegaskan bahwa dunia ini sudah ditinggalkan oleh agama, atau agama sudah tidak ada daya pukaunya, karena dunia sudah diliputi cara pandang rasional. Yang sudah sedari awal semenjak Descrates mengatakan: “aku berpikir maka aku ada”, yang dalam kaca mata agama bisa diartikan: “aku tidak usah beriman, cukup berpikir saja, maka aku ada”. Dan semenjak itu, sekuleritas atau sekulerisme berkembang serta memunculkan positivisme dan seterusnya.

Tentu kau sudah tahu itu. Dan mengapa kita, terus melulu bicara soal agama? Karena, para pengamat dan pemikir selalu saja (ini anehnya) menyatakan bahwa agama itu bersalah terhadap setiap tragedy yang terjadi dalam peradaban ini. Sebagai orang beragama, ada ahli menyatakan, Yang bertanggungjawab dengan selurug tragedy modern ini seharusnya bukan agama, karena peradaban modern ini jelas-jelas dibangun oleh rasionalisme filsafat. Descrates sudah menyatakan itu di abad 16-17, kemudian positivism dll. Demokrasi misalkan, itu untuk menggantikan pola kepemimpinan yang diajarkan oleh agama. Tidak ada satu agamapun yang mengajarkan secara langsung bahwa kebenaran atau suara itu dimiliki oleh banyak orang. Kebenaran itu hanya milik oleh beberapa orang saja. Bahkan sebenarnya, filsuf sebelum modern menyatakan, demokrasi itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi, karena rakyat biasa memiliki kebenaran yang sama dengan para pemikir yang berlarut-larut memikirkan hal kecil, ahli dibidangnya, sementara rakyat biasa bisa memutuskan satu hal tanpa berfikir yang jelas. Nah, seharusnya, kesalahan modern itu dilarikan kepada kesalahan filsafat, kesalahan sains yang terlepas dari agama. Sampai akhir-akhir ini misalnya, banyak terjadi terorisme dan berbagai perang, dan itu diarahkan kepada doktrin agama: Islam misalnya, atau Kristen di Irlandia, hindu di beberapa bagian Indian dan Hindu di Afganistan. Dibalik itu semua, agama seringkali dikambinghitamkan.

Apakah benar, bahwa agama itu tidak mungkin rasional? Apakah rasional itu hanya milik sains dan filsafat? Atau agama memiliki system berpikir sendiri atau rasionalitas yang khas? Atau tidak ada sama sekali? Sehingga misalnya, di awam kita mendengar: jangan belajar filsafat, nanti kita tersesat! Itu juga sah-saha saja. Namun menurutku, agama memiliki system berpikir sendiri, seperti katamu beberapa waktu lalu, masih ingat, kan? Kau waktu itu mengatakan, soal pembagian waris misalnya, yang antara lelaki dan perempuan 2:1. Secara logika modern (HAM atau tetek-bengek), itu tidak adil, namun akan sangat adil jika kemudian yang menanggung istri itu sepenuhnya lelaki. Ini, adalah system berpikir tersendiri. Juga banyak contoh lain disekitar kita dan kita alami.

Semenjak Filo(w 50 M) di Alexandria yang belajar filsafat Plotinus, sudah menyatakan bahwa filsafat dan agama itu sama: mencari kebenaran. Kedua-duanya memiliki rasionalitas yang sama. Orang bicara filsafar, biasanya membagi dari Filsafat Yunani, abad pertengahan, abad pencerahan, modern dan postmodern. Namun selalu saja, biasanya mereka dari Yunani langsung meloncat ke pencerahan, jarang yang membahas di abad pertengahan. Lain kali kalau sempat, akan kuceritakan filsafat abad pertengahan ini padamu.

Oh ya, kemarin aku sempat agak gelisah. Ini gara-gara kado yang aku simpan semenjak Agustus 2015 lalu, dan belum kukasihkan kepadamu, tiba-tiba hilang. Kitab itu sudah aku packing dan dibungkus kertas kado, dan dulu sempat langsung akan kukirimkan padamu. Namun entah kenapa, aku masih ragu (atau mungkin malu?). Kemarin hilang, setibanya aku dari Semarang. Setelah kuselidiki, ternyata malah kebawa temanku. Dia kira itu kado untuknya. Alhamdulillah kini barang itu masih ada meski segelnya sudah dibuka, dan akan kukirim padamu, seperti janjiku dulu. Semoga besok-lusa, kau sudi menerimanya.
Kitab atau buku itu berjudul: Tasauf Sebagai Kritik Sosial, yang ditulis oleh Prof Dr KH Said Aqil Siradj MA, Ketua Umum PBNU. Aku memang belum membacanya. Aku ingin mengetahuinya lewat kamu, setelah buku itu dibaca. Kukira, kau akan suka, mengingat problematika sosial di Indonesia, kian hari kian marak. Kita dikepung oleh kanan kiri, dari paham salafi-wahabi, trans-nasional, neo-liberal, kapitalisme sampai sosilisme kian-hari kian menggeliat. Aswaja, paham yang kita orang pesantren anut, yang juga dianut oleh ulama terdahulu, terkikis oleh modernisasi, utamanya arus teknologi dan informasi. Di satu sisi ada yang ingin tahun 2016 ini dibawa ke masa nabi, abad 7 masehi. Disisi lain semua yang baik itu harus berasal dari Barat. Ini tentu membahayakan kita, orang Jawa yang menganut Islam.

Tapi apakah kau akan tertarik hal-hal itu? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Aku dulu pernah – ketika giat belajar tasauf – menjadi begitu skeptic dengan dunia. Untuk apa diributkan, toh sejarah akan terus berulang seperti itu: menang dan kalah, tumbuh dan hilang, kejayaan dan kemunduran, kesuksesan dan keterpurukan. Namun aku senang, karena pemahaman seperti itu mulai agak terkikis dariku, meski menghadapi dunia sesungguhnya memanglah sulit, atau gampang-gampang sulit. Aku sendiri sampai kini masih terus belajar mengenal diri, belajar menjadi diri-sendiri dan tentunya belajar mencintai Tuhan. Untuk masyarakat, masih belajar bagaimana berkontibusi dan bermanfaat untuk mereka, minimal sekali tidak merugikan mereka. Dan bagitu, itu bukan perkara mudah, tak sesederhana meludah.

Kukira, sekian dulu suratku. Terima kasih sudah sudi membacanya. Jangan lupa untuk selalu mendoakanku…dan jika kau sempat membalasnya, akan sangat membahagiakanku.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Purworejo, 22 Februari 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: