Surat Balasan Darimu

Belakangan ini aku sering sakit kepala. Entahlah apa yang sebenarnya dilakukan oleh otakku. Walau mereka milikku yang pada hakikatnya bukan milikku, terkadang mereka seperti punya dunia sendiri: melakukan pemikiran tanpa melibatkanku. Ah, mengerikan bukan manusia? Dihianati oleh dirinya sendiri. 

Setelah bangun malam, aku susah untuk kembali tidur dan kalaupun bisa, pasti mendapati mimpi-mimpi buruk berseliweran, menyedihkankah? Ah, tidak. Tak ada yang menyedihkan dalam dunia ini. Lagipula, mimpi buruk merupakan cara otak untuk menghilangkan trauma atau ketakutan dalam diri kita, yang biasanya terjadi siang sebelumnya. Benar, tidak ada yang menyedihkan dalam dunia ini, karena Allah adalah Tuhan kita. Mana mungkin Tuhan sehebat itu meciptakan sampah? Yang ada, hanya kita yang memberikan label terhadap kasih sayang Tuhan yang lewat kehilangan, rasa sakit, kelemahan, ataupun darah sebagai ketidakpedulian Tuhan terhadap doa yang kita panjatkan.

Ah, lupakah kita dengan kupu-kupu yang sebelumnya adalah ulat, makhluk menjijikan; mengerikan; dan pantas untuk diinjak dengan sandal? Lupakah kita dengan kupu-kupu yang sebelumnya harus menjadi kepompong dan bersemedi selama 14-16 hari? Setelah itu selesai, merekapun harus keluar dengan sayap yang masih basah sehigga susah keluar dari lubang yang mereka buat dari dalam. Walau itu terlihat menyedihkan dan sulit bagi mereka, jangan sekali-kali kita bantu untuk keluar. Karena itulah tahap yang harus mereka lalui untuk membuat mereka kuat terbang. Andai kita bantu mereka karena “iba” yang kurang pas untuk diterapkan, kupu-kupu itu tidak akan bisa terbang. Begitulah Tuhan: menempa kita dengan kelemahan dan rasa sakit. Lalu jika kita menemukan kekuatan dan kesehatan dalam kelemahan dan rasa sakit, bisakah itu disebut dengan kelemahan dan rasa sakit?

Sekarang, bolehkan aku bicara tentang bunuh diri itu? Aku cukup terkejut membaca tulisanmu, karena aku lupa pernah bercerita itu padamu. haahhaaha. Tapi tak apa, masa lalu dan kekelamannya sekarang aku jadikan bahan guyonan, karena ternyata hidup dan tetek-bengeknya banyak menjadikan manusia tidak waras. Jadi, aku memilih untuk tertawa dan menertawai dunia dan aku suka berdekatan dengan orang yang pandai menertawai hidup dan dirinya sendiri. Keluarbiasaan bisa hidup dalam hidup yang membuat hidup hampir tak hidup, dan bisa tertawa dalam case yang seperti itu, tentu hanya bisa dilakukan oleh makhuk Tuhan yang seksi otaknya. Lagipula, orang yang punya selera humor bagus bersikap 33% lebih positif dari mereka yang tidak. Maka dari itu, sekarang aku senang mencari makhluk seksi itu. Ibarat dekat dengan penjual minyak wangi, akan dapat wanginya juga, dan semoga aku termasuk yang mendapatkan wangi dari kedekatan itu.

Kau berbicara tentang sufi? sudahlah, aku tak suka berbicara tentang itu, Tuhan itu untuk dinikmati, bukan didiskusikan.

Lalu tentang filsafat? Akal tak bisa mencapai kebenaran mutlak, dan kita butuh Tuhan untuk kebenaran yang bersifat genuine. Sudah, seperti itu saja. Aku lelah ternyata berdebat dengan orang-orang yang pandai berbicara itu, yang membolak-balik segalanya demi kepentingan dirinya sendiri. Agama itu agama, jadi benar yang dikatakan Salim A. Fillah: agama itu adalah cara memandang hidup, cara memandang mati, cara memandang hidup setelah mati, cara memandang pencipta hidup dan mati, cara memandang pasangan, lingkungan dan kesemua makhluk Allah. Jadi, bagiku, filsafat hanya sebagai sarana.

Lalu, tentang menulis? Terakhir kali, kemarin, setelah maag kambuh karena sekali ngopi tiga cangkir. Sepulang kuliah, aku dan teman-teman mampir kedai kopi. Ah, bukankah surga juga ada pada kopi dan tawa teman-teman? Entahlah, mungkin sekali digolongkan, aku termasuk orang terbodoh sedunia: terus mengkonsumsi kopi walau tahu ia akan melukaiku. Bagaimana tidak? Kopi selalu terlihat lebih seksi dan menarik daripada Nicholas Saputra yang telanjang dada. Hahaha.

Eit, sudah siang. Aku harus bersiap ke P.
Aku baik mas, dengan segala kebaikan yang Tuhan berikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: