IPNU dan Tantangan Dunia Baru

(Refleksi 62 Tahun IPNU, 24 Februari 1954 – 2016)

Tepat tanggal 24 Februari 2016, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) memperingati hari lahirnya ke-62, suatu perjalanan yang panjang untuk sebuah organisasi kepemudaan. Di umurnya yang lebih dari setengah abad ini, kontribusi IPNU dalam merekonstruksi nalar dan menyiapkan generasi muda Islam menuju faham Ahlussunnah wal Jamaah yang cinta tanah air dan bertanggunggjawab atas  tegaknya NKRI, sudah begitu nyata. Banyak ulama, pemimpin, birokrasi, akademisi dan tokoh masyarakat terlahir dari rahimnya. 

Meski demikian, karena zaman terus berubah yang membuat tantangan berubah pula, banyak hal yang perlu direvitalisasi dalam tubuh IPNU. Tak cukup pola-pola lama terus-menerus dipakai tanpa adanya inovasi dan modernisasi. Ada beberapa hal yang musti digarap serius, jika IPNU ingin tetap berkontestasi dengan organisasi-organisasi lain dalam berkiprah dan berkontribusi untuk bangsa, Negara dan agama.

Pertama, adalah revitalisasi tradisi. Tradisi di IPNU sendiri adalah tradisi yang sudah berabad-abad diwarisi oleh generasi pendahulunya, Walisongo yang diteruskan oleh ulama-ulama NU. Jika dulu Walisongo mampu meramu, mengasimilasi dan mengelaborasi tradisi Islam dengan Jawa dengan konteksnya pada saat itu seperti: wayang, tembang, macapat, dongeng dan sebagainya sebagai media dakwah, kini sudah saatnya tradisi itu dibawa masuk ke dunia baru: alam modern. Dengan tetap mengacu pada kaidah almuchafadhotu ala qadimis-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah(berpijak pada kebaikan lama dan bijak merespon kekinian), revitalisasi tradisi perlu diijtihadi. Tradisi-tradisi itu secara ruh harus tetap berpijak pada akarnya: salafus-shalih, namun kulit dan packaging-nya diinovasi sesuai alam modern hari ini.

Tradisi yang baik itu mesti tetap dilestarikan, dirutinkan dan galakkan sebagai kapital sosial dan ideologi untuk membentengi, membendung dan mendetoxifikasi nalar generasi muda dari pengaruh dan budaya buruk yang datang dari luar. Tradisi ini menjadi “identitas” ditengah alam modern yang menelanjangi identitas. Identitas ini dibutuhkan sebagai pembeda dan ikon yang berakar pada substansi dan nilai-nilai Islam dan Indonesia. Jika “kulit” dan packaging IPNU tidak diinovasi, akan sulit diterima generasi muda, khususnya yang ada di sekolah atau kampus umum, dan jangan disalahkan kalau kemudian anak-anak muda itu, lebih tertarik dengan organisasi yang “kelihatan” atau “terkesan” sholeh, gaul dan modern secara dzahir-nya, namun dangkal isinya.

Kedua, adalah tema lama namun selalu seksi: kaderisasi. Karena terlalu pelik dan banyak dalam urusan ini(meski buku panduannya hampir setebal Al-Quran), hanya satu saja yang perlu ditekankan disini: adopsi. IPNU harus mampu mempelajari dan mengadopsi pola-pola kaderisasi dari berbagai organisasi lain yang maju, sukses dan berhasil. IPNU harus berani mengakui kesuksesan organisasi dan gerakan lain, bahkan diluar NU atau diluar Islam sekalipun, untuk diambil pelajaran dan diadopsi kebaikan polanya, semangatnya dan daya juangnya. IPNU harus belajar dari pola kaderisasi Nabi, perluasan Islam, masa keemasan Islam di abad pertengahan, kejayaan dan keruntuhan Majapahit, kegemilangan dan keruntuhan Demak Bintoro sampai masa revolusi perjuangan. Atau, belajar dari Sosialisme di Kuba, Gerakan fasisme Jepang, Bung Karno dan segudang pejuang baik pra atau paska-kemerdekaan. Yang lebih terkini, tentu menarik pola-pola yang dilakukan Ikhwanul Muslimin dengan ideologi trans-nasionalnya, yang dalam kurun waktu sebentar, mampu menggoyang-goyangkan Islam Nusantara. Tentu harus dengan infiltrasi yang ketat untuk memasukkan atau mengadopsi pola itu, agar tetap sesuai dengan manhaj Aswaja.

Ketiga, adalah media dan literasi. Abad ini, revolusi teknologi telah meruntuhkan sekat jarak dan waktu. Sebuah situs yang ada di sebuah pojok kecil desa Piyungan, Gunungkidul, Jogjakarta, misalnya, mampu membuat geram hampir seantero negeri. Pdahal admin-nya seorang saja. Fenomena ini bahkan meracuni NU dengan hadirnya NU Garis Lurus, Yuk Belajar NU dll yang mengatasnamakan namun menggempur NU. Hanya segelintir orang. Kita juga masih mengingat bagaimana Gerakan Facebooker mampu “membebaskan” beberapa petinggi KPK yang menjadi tersangka. Atau, bagaimana pengaruh internet dalam membantu kedua-pasang calon presiden di Pilpres lalu. Media, baik televisi, Koran, majalah atau internet begitu digdaya membangun dan menggiring publik. Pengendali dibelakangnya pun tidak banyak orang, namun mampu mengubah keadaan.

Dalam hal literasi, kita bisa melihat bagaimana rak-rak buku di berbagai pameran diisi oleh buku-buku yang berideologi “kiri” dan “kanan”. Mereka menyuguhkan buku-buku itu dengan packaging yang fresh dan menawan. Masih teramat-sangat sedikit “buku-buku kita”yang mampu menembus, apalagi berkontestasi dengan mereka. Pelatihan movie maker, menulis buku dan jurnalistik online, perlu digalakkan secara bear-besaran, karena sangat mungkin seandainya – hanya seandainya – Walisongo turunnya saat ini, mereka juga akan merebut media. Dengan kadernya yang begitu banyak, merupakan kapital-sosial IPNU untuk membangun sekaligus membendung bahaya yang mengancam Aswaja dan NKRI. Gerakan ini perlu dilakukan secara sistematis dan terstruktur dengan target yang jelas.

Keempat, peningkatan kapasitas ilmu, wacana dan skill kader. Focus Discussion Group (FGD) perlu diadakan dan digalakkan. Di IPNU Jawa Tengah misalnya, sudah secara intens mengadakan FGD-FGD ini yang digalakkan melalui koordinasi daerah, dengan peserta cari pengurus cabang. Ini, jika mau, perlu dicontoh. Pengetahuan dan wacana mutlak dilakukan, karena jika diibaratkan perang, ilmu adalah senjata. Orang yang akan berangkat perang namun tanpa senjata, dia hanya akan sibuk bertanya, bingung sendiri sebelum akhirnya mati ditikam musuh.

Juga skill kader. Hal ini penting mengingat seorang generasi muda, selain wajib menuntut ilmu, juga dituntut untuk  berkarya. Dalam berkarya ini, organisasi harus mampu mendampingi kader, mengarahkan dan memfasilitasinya dalam menggapai cita-cita dan passion hidupnya. Paska pengkaderan formal, salahsatu hal yang perlu dilakukan oleh angkatan itu ialah membuat pelatihan skill: baik yang soft-skill maupun hard-skill.

Terakhir, adalah orientasi atau pemberdayaan ekonomi dan wirausaha. Ini yang seringkali tidak menjadi perhatian IPNU, meski jika dianalisis, ekonomi adalah salahsatu problem terbesar NU saat ini. Dalam relasinya yang berjejaring dengan birokrasi, politisi dan kalangan elit lain, seringkali IPNU terbuai dan cenderung pragmatis: inginya yang mudah dan siap saji. Padahal, pendiri-pendiri NU sendiri atau bahkan ulama-ulama Aswaja,  adalah orang-orang yang mengajari kita bagaimana bisa “berdiri diatas kaki sendiri”. Mbah Hasyim Asy’ari misalnya, tiap hari rabu pergi ke Pasar untuk berdagang. Juga segudang lagi, ulama-ulama yang mapan ekonominya karena kegigihan dan kerja keras dalam berusaha mandiri. Nilai-nilai ini, harus disuarakan dan diinternalisasikan kembali oleh IPNU secara kelembagaan. Jika tidak, penerus perjuangan ulama ini akan mudah dibeli!

Selamat berharlah: dengan Rahmat Tuhan kita perjuangkan; ayo maju pantang mundur, pasti tercapai adil makmur!

[Purworejo, 23 Februari 2016]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: